
Mereka semua pun keluar dari tempat itu, Dewi mencari brankas yang ia simpan dulu. Ia ingat jika brankas itu ada di kamarnya.
Tapi tempat ini sudah di renovasi habis, apa mereka bisa mengangkat brankas itu?
Dewi masuk ke dalam ruangan yang dia ingat itu adalah kamarnya dan ternyata brankasnya masih ada di dalam ruangan itu. Jika di lihat brankas itu ada bekas lecet, akan tetapi sedikit pun tidak ada yang penyok.
"Hm … aku memilih brankas yang kuat ini memang pilihan tepat, aku hanya perlu mengambil cap milikku lalu mengecap di surat wasiat yang aku tulis." Dewi mengambil kertas HVS dari tas kecilnya lalu menulis surat wasiat kembali.
Dengan ini, aku DEWI MAHA PUTRI akan menyatakan, jika suatu hari nanti terjadi sesuatu pada *ku, maka seluruh hartaku akan aku alih kan kepada adik angkat ku yang bernama DEWI LARASATI dari negara A, dan tidak ada satu pun boleh menyentuhnya termasuk Andika dan Mei sekali pun. Demikianlah surat ini aku buat dalam keadaan sadar tanpa ada paksaan dari siapa pun.
Kamis, 20-07-20xx
Tertanda
DEWI MAHA PUTRI*
Dewi membuka berangkas itu lalu mengambil cap miliknya dan mengcap surat wasiat itu. Ia membuat beberapa lembar surat wasiat itu dengan tangannya agar semua terlihat asli dan mengcap semua surat itu.
"Aku tidak akan mengambil harta yang ada di brankas ini, toh juga mereka tidak bisa di buka, aku akan membuat Andika yang di salahkan dalam hal ini," ucap Dewi meletakan kembali cap itu lalu meninggalkan rumah tersebut.
__ADS_1
Baru saja ia sampai di depan jalan raya, Andika bersama polisi datang.
"Pak tangkap dia! Dia sudah berani mengaku menjadi adik dari Dewi pembunuh," ucap Andika.
Polisi itu pun mendekati Dewi dan segera memborgol tangan Dewi.
"Ikut kami ke kantor polisi sekarang juga, di kantor polisi beri kami penjelasan," ucap polisi itu membawa masuk ke dalam mobil polisi. Dewi mengikuti polisi itu untuk masuk ke dalam.
Namun saat masuk ke dalam, Dewi malah tersenyum melihat Andika, sedikit dari wajahnya tidak khawatir, takut atau memberontak. Jika di lihat dari wajah Dewi, ia malah berterima kasih kepada Andika.
Andika pun segera masuk ke dalam mobilnya dan mengikuti mobil polisi untuk ke kantor polisi.
Sesampainya di kantor polisi, Dewi di bawa masuk ke rumah interogasi. Di sana ada Andika dan beberapa orang polisi.
"Katakan, kenapa kamu mengaku sebagai Adik dari Dewi pembunuh?" tanya polisi itu menatap Dewi.
"Karena aku memang adiknya Dewi pembunuh," jawab Dewi santai.
"Mana buktinya jika kau adik Dewi pembunuh?" tanya polisi itu.
__ADS_1
Dewi merenggangkan tangannya dan dengan kekuatannya, ia bisa memutuskan borgol itu dengan mudah, polisi itu sangat terkejut karena Dewi bisa memutuskan borgol yang kuat itu. Jika dia bisa membukanya kenapa dia tidak membukanya saat di mobil tadi?
Dewi mengambil kertas di tas kecilnya lalu menyerahkan kepada polisi itu.
Polisi itu menerimanya lalu membacanya, wajahnya langsung berubah.
"Ada apa?" tanya temannya. Polisi itu memberi kan surat itu kepada temannya.
"Ada apa pak?" tanya Andika saat melihat wajah polisi itu berubah.
"Ini adalah surat wasiat dari Dewi pembunuh untuk dirinya," jawab polisi itu memperlihatkan surat wasiat itu.
"Apa! Tidak mungkin! Dewi pasti tidak melakukan ini pada ku, dia sangat mencintai ku! Tidak mungkin dia tidak memberikan sedikit pun untuk ku!" teriak Andika marah.
"Pak, Anda salah menangkap orang, justru dia yang bapak tangkap bukan aku, karena aku sudah ada di kantor polisi sekarang jadi aku ingin membuat laporan juga, karena seluruh harta Dewi adalah milik ku tidak ada boleh menyentuhnya, dia sudah berani menyentuh harta Dewi dengan merenovasi rumah milik Dewi tanpa persetujuan dari ku, maka aku menyatakan bahwa di sudah mencuri harta milik Dewi pembunuh," ucap Dewi menunjuk ke arah Andika.
"Apa! Tidak! Aku tidak mencurinya! Aku adalah walinya, kalian coba cek lagi apa itu tulisan Dewi atau hanya rekayasa darinya, semua orang bisa meniru tulisan milik Dewi!" ucap Andika panik, ia ingin memutar balikan fakta meskipun ia tahu jika itu adalah tulisan milik Dewi.
"Baiklah, kami akan periksa tulisan ini apa sama dengan tulisan tangan Dewi yang pernah ia tulis di selebaran," ucap polisi itu mengangguk setuju.
__ADS_1
"Eh pak polisi, saya tahu orang yang bisa memeriksa tulisan ini, dia adalah orang terpercaya," ucap Andika memberi saran dengan mata yang berbinar berharap jika polisi itu akan setuju.