
"Cepat serang dia!" pinta temannya yang sedang di pegang eh Dewi. Dewi memutar mereka ke arah temannya lalu melepaskannya hingga mereka jatuh bersama.
Dewi berjalan mendekati mereka lalu menarik dan menghantam wajah mereka hingga babak belur, wajah mereka bonyok dan mengeluarkan darah dari hidungnya, sisanya ada yang pingsan juga. Sedangkan Zeiro berdiri menyender di mobilnya dengan melipat tangannya sambil melihat Dewi yang menghabisi para pria itu.
"Hey kamu! Sana cepat pergi," ucap Dewi menatap pria yang terluka tadi.
"Terima kasih banyak atas bantuan Anda Nona," ucap pria itu membungkukkan badannya memberi hormat lalu berlari meninggalkan tempat tersebut.
"Hey! Kau dari tadi melihat terus, tidak mau turun tangan kah?" Dewi berjalan mendekati Zeiro.
"Aku mana mau turun tangan untuk membereskan hal yang tidak penting begini, biasanya pengawal ku yang membereskannya, lagian kamu kenapa selalu ikut campur urusan orang." Zeiro berjalan memuat lalu masuk ke dalam mobilnya, Dewi juga membuka pintu mobil dan masuk ke dalam.
"Memangnya kenapa? Aku hanya ingin membantunya saja," jawab Dewi. Mobil pun perlahan-lahan berjalan dan kembali melanjutkan perjalanannya.
"Di dunia ini hanya sedikit yang tulus, ada pun yang tulus pada akhirnya kalah karena pulus, bahkan orang yang paling kamu percayai juga suatu saat nanti akan mengkhianati mu," ucap Zeiro pelan tapi pasti. Seketika Dewi terdiam, ya apa di katakan Zeiro benar adanya dan ia merasakan saat ini.
__ADS_1
"Kenapa … kenapa orang yang paling kita percayai malah berkhianat, kenapa mereka tidak menjaga kepercayaan itu sampai akhir?" Dewi memegang dadanya, itu terasa dan nyata rasanya.
"Karena manusia itu serakah, kekuasaan adalah hal yang menyenangkan, menjadi berkuasa mereka di pandang oleh dunia, siapa yang tidak menyukai hal-hal yang menyenangkan, tidak ada yang ingin hidup seperti di penjara, jika ada kesempatan kenapa tidak? Tapi ya balik lagi, setiap sebab pasti ada akibat, mereka yang naik setiap tangga satu persatu dan merasakan penderitaannya hingga sampai puncak, itulah mereka yang berhasil, tapi bagi mereka yang dari tangga satu tapi tiba-tiba di puncak, mereka akan merasakan akibat dari berbuat kecurangannya," jawab Zeiro panjang lebar.
Dewi pembunuh alias Dewi Maha Putri adalah seorang gadis polos, saat masih kecil kedua orang tuanya meninggal dan ia di asuh oleh kakeknya, di ajarkan ilmu bela diri keturunannya hingga dia menjadi kuat, mencapai puncak tidaklah mudah, ia harus melewati latihan keras dan hingga pada akhirnya sang kakeknya juga meninggal dunia karena umurnya sudah uzur.
"Lalu kenapa kau percaya padaku?" tanya Dewi.
"Dari matamu, kau sangat membenci penghianatnya, jika seseorang benci penghianatnya berarti ia bisa di percaya," jawab Zeiro. Dewi mengangguk pelan.
Tak lama kemudian, mereka pun sampai di markas Zeiro, tapi tidak terlihat seperti markas, tapi sebuah rumah mewah.
"Iya, kau ingin melihat isi dalam markas ku kan? Ayo," ajak Zeiro membuka sabuk pengamannya lalu keluar dari mobilnya. Dewi juga keluar dari mobil dan menuju rumah mewah itu.
Mereka pun masuk ke dalam rumah yang di sambut oleh pengawal. Rumah yang di hiasi oleh bunga di setiap dindingnya, saat Zeiro memencet tombol remot kontrol, dari balik bunga-bunga itu keluar berbagai senjata api.
__ADS_1
"Ow ... kau banyak sekali mengkoleksi senjata api ya," ucap Dewi mengangguk-angguk.
"Ini bukan koleksi, tapi persiapan yang memadai, maklumlah, banyak sekali yang iri pada ku, jadi aku harus punya persiapan. Lalu kamu bagaimana persiapan mu?" tanya Zeiro balik.
"Aku? Aku tidak punya persiapan, jika mereka melawanku ya sudah aku terima," jawab Dewi.
"Pemikiran mu sangat sederhana sekali, ya sudah, ayo kita pergi lihat orang yang kau pukul tadi," ajak Zeiro.
Pengawal Zeiro membuka pintu besi dengan remot kontrol dan pintu itu terbuka secara otomatis, di dalam sedikit remang-remang dan ada anak tangga. Mereka pun menuruni anak tangga itu dan masuk ke sebuah ruangan yang hanya di terangi bola lampu kuning 5 Watt.
Di sana ada penjara bawah tanah, dengan besi yang kuat dan kokoh, seorang pria yang di belenggu dengan rantai besi di tangan dan kakinya. Ini bahkan kuat dari borgol yang di biasa oleh polisi.
Pria itu menatap Zeiro dan Dewi dengan tatapan tajam, wajahnya babak belur menyisakan luka-luka kecil.
Zeiro dan Dewi masuk ke dalam penjara dan berdiri di depan pria itu.
__ADS_1
"Katakan! Siapa yang menyuruhmu untuk melukaiku?" tanya Zeiro.
"Aku tidak akan mengatakannya!" teriak pria itu menatap Zeiro.