Transmigrasi Dewi Pembunuh

Transmigrasi Dewi Pembunuh
BAB 62


__ADS_3

"Kau! Kau yang sudah membunuh anakku! Kau pembunuh! Kau pembunuh!" teriak Mei histeris.


"Kalau aku pembunuh lalu kau apa? Kau kan yang membunuh Dewi pembunuh kan?" tebak Dewi mengetesnya. Biasanya di saat ia dalam keadaan stres apa bila di tekan maka dia akan mengatakan yang sebenarnya.


Mei langsung terdiam. "Bukan aku! bukan aku! Bukan aku! Aku tidak membunuhnya, dia mati sendiri, bukan aku, bukan Andika juga! Iya, dia itu mati sendiri! Tapi kau! Kau sudah membunuh anakku!" teriak Mei yang ingin mencakar Dewi, tapi Dewi menghindar dan Mei jatuh ke lantai dan merasakan sakit lagi.


"Aaaaaaaa!" teriak Mei memegang perutnya.


Dewi mengangkat tubuh Mei ke atas brankar dan seorang suster datang karena teriakkan Mei yang sangat keras.


"Ada apa buk?" tanya suster itu.


"Itu, dia jatuh ke bawah akibat banyak gerak," jawab Dewi.


"Ibu jangan banyak gerak ya, ini akan mempertambah sakit, apa lagi benar lagi ibu akan di operasi, mohon jangan banyak bergerak," pesan suster itu.


"Dia … dia …." Mei menunjuk ke arah Dewi, tapi ia tak bisa berkata-kata karena merasakan sakit yang luar biasa.


"Udah kamu jangan bergerak, dengerin kata suster," ucap Dewi menyengir.


Mei sangat ingin membalasnya tapi ia tak bisa dan terus mengeluh kesakitan.


Tak lama kemudian dokter pun datang, Mei pun di bawa ke ruang operasi.


"Ini juga sudah malam, untuk apa aku mengurusnya, mengantarnya ke rumah sakit dan membayar uang operasinya saja aku sudah sangat berbaik hati," ucap Dewi. Dewi pun berpikir, ia kembali ke tempat kasir.


"Ada yang bisa saya bantu buk?" tanya suster itu.

__ADS_1


"Begini, karena saya bukan siapa-siapa pasien, jadi saya ingin mengambil uang itu kembali," ucap Dewi.


"Maaf buk uangnya tidak bisa di kembalikan karena pasien sudah di bawa masuk ke ruang operasi," ucap suster itu.


"Kan sudah saya bilang, saya ini bukan siapa-siapa dia, saya hanya orang numpang lewat yang menolong dia, dia kan punya saudara atau kerabat dekatnya, seharusnya mereka yang membayarnya, sudahlah " ucap Dewi bersikeras.


"Biar saya yang hubungi dokternya dulu," ucap suster itu.


Suster itu pun menelpon dokternya dan mengatakannya, dan dokter itu pun ingin berbicara kepada Dewi.


"Ini dokternya ingin berbicara dengan Anda," ucap suster itu menyerahkan teleponnya kepada Dewi.


"Kenapa di ingin di ambil lagi uangnya, ini kami sudah bersiap-siap untuk tindakan operasinya," ucap dokter itu.


"Ya karena saya bukan siapa-siapa dia, kenapa saya harus bayar, dan juga dokter libatkan di jarinya ada cincin berlian, dia bisa bayar pakai itu, kenapa harus saya," ucap Dewi. Dokter itu melihat sebuah cincin di jari manis Mei, ya itu sebuah berlian yang kira-kira beratnya 20 carat, itu sama dengan dua ratus juta lebih.


Dewi mengembalikan telponnya kepada suster itu. "Transfer kembali uangnya," ucap Dokter itu.


"Baik Dokter," angguk suster. Suster itu meminta nomor rekening Dewi dan mengembalikan uang milik Dewi. Uang transfer itu pun masuk kembali ke rekeningnya.


Setelah mendapatkan duitnya kembali, Dewi pun berjalan keluar dan menuju ke mobil, ia pun meninggalkan rumah sakit.


"Dari reaksinya memang bukan dia yang membunuh ku, tapi dia hilang Andika juga bukan pembunuhnya, kenapa dia mengatakan Andika? Mungkin dia tahu sesuatu masalah ini, jangan bilang dia tahu siapa pembunuh ku tapi dia tidak terlibat dalam hal ini. Setidaknya aku dapat sedikit petunjuk," ucap Dewi yang terus melajukan mobilnya.


Tak lama kemudian, ia pun sampai di tempat penginapan, terlihat Zeiro masih menunggunya di depan penginapan.


"Kau masih di sini? Kenapa tidak pulang minta jemput dengan pengawal mu saja," ucap Dewi. Zeiro tidak menjawab pertanyaan Dewi yang hanya tersenyum melihat Dewi. Semuanya duduk, ia pun berdiri di hadapan Dewi.

__ADS_1


"Hey! Ada apa dengan mu tersenyum seperti itu?" tanya Dewi berdelik ngeri.


"Haishh, setelah pulang dari rumah sakit kau melupakan ucapan yang kau ucapkan tadi, sungguh membuat hatiku sakit," jawab Zeiro sedikit kecewa.


"Kau jangan berbelit-belit, katakan saja ada apa dan apa yang aku bicarakan tadi," ucap Dewi penasaran.


"Kau tadi mengatakan jika kau berhutang pada ku dan akan mengabulkan apa yang aku minta, makanya aku menunggu kamu untuk mengabulkan permintaan ku," jawab Zeiro.


"Oh, yang itu ya, aku melupakannya, jadi kau ingin aku mengabulkan apa?" tanya Dewi melipatkan tangannya.


"Hm … kira-kira apa ya?" tanya Zeiro berpikir.


"Cepatlah ini sudah larut malam, kau juga butuh istirahat," ucap Dewi.


"Baiklah, kalau begitu kau pejamkan matamu," ucap Zeiro.


"Kenapa aku harus memejamkan mata ku, tidak mungkin kan kau memberiku kejutan," ucap Dewi menatap Zeiro sayup.


"Lakukan saja, kau bilang ingin mengabulkan permintaan ku, jadi permintaan ku pejamkan mata mu," ucap Zeiro.


Dewi pun memejamkan matanya sesuai permintaan Zeiro, Karen ia juga sudah berjanji akan menuruti permintaan Zeiro.


Cup


Sebuah ciuman mendarat di pipi Dewi di sebelah kanan, saat Dewi membuka matanya Zeiro sudah tidak ada lagi di hadapan, yang ia lihat sebuah mobil melaju dengan kencang.


"Zeiro! Kurang ajar! Beraninya kau mencium ku, lihat saja besok, aku benar-benar akan mematahkan leher muuuuuuuuuuu!" teriak Dewi kesal.

__ADS_1


__ADS_2