
Anita menatap kepergian mereka dengan kesal.
"Cih! Mereka tidak mau ya sudah, aku saja yang akan melakukannya, dasar penakut!" seru Anita. Ia pun pergi meninggalkan kerumunan yang sedang mengerumuni Dewi untuk meminta TTD-nya.
Ada beberapa orang pria yang tidak ikut mengerumuni Dewi, tapi menatapnya dari kejauhan.
"Bagaimana menurut mu?" tanya temannya.
"Boleh kita tes, aku akan mengirimkan surat tantangan padanya nanti," ucap pria itu mengangguk.
"He-he-he akan ada pertarungan seru nih, aku sudah tidak sabar untuk menyaksikannya," ucap temannya menggosok-gosokkan tangannya sambil tersenyum.
Pria itu menyengir menatap Dewi.
"Ada apa ini! Ada apa ini!" panggil salah satu dosen yang bernama pak Hendra.
Satu mahasiswa pun tidak ada yang peduli, mereka terus berdesakkan.
__ADS_1
"Seluruh Mahasiswa, harap berkumpul di aula besar!" terdengar suara mikrofon pengeras suara dari ruang dosen.
Para mahasiswa pun melihat ke arah datangnya pengeras suara itu.
"Dewi, ayo kesini," ucap Buk Rika. Dewi pun berjalan mendekati bu Rika.
"Wah, benar-benar tidak menyangka, ternyata kamu adalah bintang masa depan dunia, jika kau punya kemampuan seperti ini kenapa tidak pernah bilang pada dosen yang lain, kalau gitukan kamu akan bisa mewakili kampus kita. Tapi tidak masalah, meskipun kamu ikut di dalam bawah naungan Tuan Zeiro itu tidak masalah, toh kampus ini juga ada sahamnya dia, jika ada pertandingan lagi, kami pasti akan merekomendasikan kamu," ucap buk Rika tersenyum. Dewi tersenyum menaikan sudut bibirnya sebelah.
"Baiklah, jika kalian ingin meminta tanda tangan Dewi jangan berdesakkan seperti itu, lagian Dewi hari ini baru masuk kuliah, jadi biarkan dia istirahat dulu," ucap buk Rika. Mereka pun bubar dengan kecewa.
"Ya udah Dewi masuk saja ke ruangan, sebentar lagi akan pembagian materi akan segera di mulai," ucap buk Rika tersenyum.
"Tunggu!" panggil seseorang dari belakang, Dewi berhenti dan melihat ke belakang.
Pria itu pun mendekatinya dan memberikan secarik kertas kepada Dewi, Dewi menerimanya. Pria itu pun pergi.
Dewi membacanya surat itu dalam hati dengan wajah datar.
__ADS_1
"Jam 21:00, kami tunggu di padepokan mawar putih jalan Mahoni, jika kau petarung sejati kau pasti datang."
"Heh! Sepertinya mereka ingin menguji kekuatanku ya? Baiklah, aku akan datang untuk menunjukkan jika aku petarung sejati," ucap Dewi menghembuskan nafas berat. Ia pun masuk ke ruangannya.
Para mahasiswa datang mendekat dan duduk di kursi di hadapan Dewi.
"Dewi, kau benar-benar keren, kok bisa kamu melawan mereka semua sekaligus begitu?" tanya Roni.
"Iya Dewi, kamu belajar sama siapa? Siapa guru mu? Guru mu pasti sangat hebat," ucap Ferdi mengangguk-angguk.
"Dewi bisakah kau mengajarkan ku bela dirimu itu? Biar bisa melawan orang jahat?" tanya Dedi.
"Nah bener, tolong ajarin kami donk, plisss," ucap Hendri memohon.
"Lupakan itu semua, aku tidak akan mengajari siapa pun." Dewi memainkan ponselnya dan mempedulikan mereka.
"Kenapa? kan bangus jika ilmu itu di bagi ya kan?" ucap Hendri meminta persetujuan dari teman-temannya.
__ADS_1
"Iya benar tuh, kami berjanji akan menjadi pengikut mu yang setia," ucap mereka berdiri berbaris rapi memberi hormat.
Dewi menyengir, mereka benar-benar masih polos, mereka tidak tahu menjadi setia itu seperti apa.