
"He-he-he, siapa yang aku bawa? Aku ada membawa anak orang kaya, sepertinya ia kabur dari rumah," ucap pria yang membawa Dewi tadi kepada salah satu rekan kerjanya.
"Kau yakin jika dia anak orang kaya?" tanya temannya.
"Tentu saja, apa kau ingin melihatnya?" tanya pria itu.
"Wah, tentu saja," jawab temannya itu dan mereka kembali ke ruangan itu dan melihat Dewi dengan tersenyum. Temannya itu mengangguk-angguk. Lalu mereka pun keluar lalu menutup pintu.
"Dia bisa kita jual dengan harga mahal, apa lagi terlihat masih perawan, itu akan laku 50 juta," ucap temannya itu dengan mata berbinar.
"Ha-ha-ha, kita akan kaya raya, mari kita rayakan," ucap temannya itu merangkul pria itu sambil tertawa.
Mereka terus menatap Dewi dan ingin mengatakan sesuatu tapi mulut mereka tak bisa untuk di buka rasanya.
"Kalian ingin bertanya kenapa aku ada di sini?" tanya Dewi. Mereka mengangguk pelan.
"Dari pakaian dan heels mu sangat mahal, kau pasti dari kalangan orang kaya, kenapa bisa kamu di tangkap?" tanya salah satu wanita yang rambutnya kusut.
"Aku tidak di tangkap, aku datang ke sini secara suka rela. Oh ya, apa kapal ini akan menuju Negara A?" tanya Dewi.
"Iya." angguk mereke. "Tapi kenapa kamu menyerahkan diri kepada mereka? Apa kau anak haram dan lebih memilih untuk menjual diri?" tanya salah satu dari mereka.
__ADS_1
"Aku adalah sebenarnya dari Negara A, dan ingin kembali ke Negara A," ucap Dewi.
"Tapi meskipun kembali ke Negara A, tapi tetap saja kita akan di jual," keluh mereka.
Dewi hanya terdiam, saat ini ia membiarkan para pria itu untuk mengemudikan kapalnya agar sampai tujuan, jika tidak siapa yang akan mengemudikan kapalnya, ia juga tak bisa mengemudi. Setelah sampai di Negara A baru ia akan beraksi.
Bah, sangat membosankan di dalam ruangan itu, mereka juga hanya diam dan tidak ada yang ingin berbicara. Dewi yang jasanya aktif masa harus menunggu 3 hari baru bisa melakukan aktifitas.
"Kalian tidak punya niat buat melepaskan diri?" tanya Dewi.
"Siapa yang tidak mau lepas dan dari cengkraman pria hidung belang, sayangnya mereka itu kuat, sekali pun kita beramai-ramai melawannya, tetap saja tidak bisa. Lihatlah pengawalnya saja badannya sebesar itu, biarlah di jual asalkan nyawa masih selamat dan mana tau bisa kembali ke Negara Q lagi," ucap salah satu dari mereka.
Mereka semua benar-benar pasrah dengan hidup mereka, hanya saja takut jika nanti setelah mereka lepas malah akan bekerja menjadi wanita malam.
Kapal sudah ada di tengah-tengah laut yang tak bertepi, ombak menghempas kapal dengan kerasnya membuat mereka terombang ambing di lautan.
Dewi berdiri mendekati sebuah jendela kecil dengan langkah yang minim meskipun ia bisa memutuskan borgol itu bahkan kepala saja tidak muat. Agar tidak bosan setidaknya ia bisa melihat laut.
Berbicara masalah laut, jika di ingat ia baru saja siangnya bermain di pantai bersama Zeiro, berada di sini karena ia tersinggung dengan ucapan asisten Zeiro. Karena hanya ia melakukan kekerasan malah di salahkan, seharusnya dirinya marah atas perlakuan Zeiro yang berani memeluknya dan menciumnya, kenapa dirinya yang harus di peringatkan. Sungguh menyebalkan.
Tapi laut juga membuat dirinya tenang, setidaknya ia tidak begitu bosan.
__ADS_1
Zeiro terus menghubungi ponsel Dewi, karena ponselnya mati nomor Dewi tak bisa di hubungi membuat Zeiro hilang akal, ia mencari Dewi di penginapan dan hanya di temukan koper baju-baju Dewi, tapi tidak ada barang berharga di sana milik Dewi.
"Dewi, kemana kamu pergi, kalau pun kau pulang naik pesawat kau tidak punya paspor karena aku membawamu naik jet ku, lalu di mana kamu sekarang." Zeiro tampak stres dan merebahkan tubuhnya di atas kasur itu dan mencium bau Dewi yang masih tertinggal di alas kasur itu.
'Setelah sampai di Negera A aku harus segera mengurus paspor dan aku bisa kembali ke Negara Q untuk mengurus Andika dan antek-anteknya, setelah ini baru aku akan hidup tenang,' batin Dewi.
Tak terasa malam pun tiba. Beberapa pria membuka pintu.
"Ayo makan dulu, kalian harus makan yang banyak agar terlihat gemuk dan bisa di jual dengan harga mahal," ucap salah satu pria yang membawa beberapa roti dan meletakkan di antara tengah-tengah para wanita itu.
Mereka menatap pria itu sinis, tapi ingin melawan mereka tak mampu.
Seorang wanita berbaju kuning menendang roti itu karena kesal.
"Kamu harus makan, kalau tidak makan maka akan aku bunuh kalian di tempat!" ancam pria itu.
Pria itu kembali menutup pintu dan pergi meninggalkan ruangan itu.
"Hey! Kalian makanlah, agar kita punya tenaga untuk melarikan diri setelah sampai di Negara A, jika kalian tidak punya tenaga bagaimana bisa kalian berlari dengan cepat. Ayo makan," ucap Dewi mengambil satu bungkus roti yang lumayan besar itu dan di dalamnya ada selai coklat.
"Jika kau berselera makan, makan makan saja semua," ucap wanita berbaju kuning itu.
__ADS_1