
Dewi terpaku terdiam tak bergerak, rasanya tubuh itu mati rasa, kakinya berat dan matanya tak bisa ia kedip kan.
Hatinya teramat amat sakit bagaikan di tusuk sembilu ratusan kali meninggalkan lubang besar yang rasanya tak akan bisa di tutup lagi.
Tubuhnya bergetar hebat, ia berusaha mengangkat tangannya karena dadanya sesak, sungguh tak bisa bergerak.
"Maaf Nona, bisakah Anda kembali ke tempat duduk Anda, tubuh Anda menghalangi pemandangan istri ku untuk melihat pertandingan," ucap Andika menyadarkan Dewi yang mematung.
Barulah tubuhnya bisa bergerak saat di sadarkan, ia pun beranjak dari sana dan langsung keluar dari gedung tersebut.
Melihat itu, Zeiro langsung berlari mengikuti Dewi karena terlihat dari wajah Dewi yang berubah.
Dewi berhenti di sebuah lorong yang sepi, ia memegang tiang penyangga lorong itu dengan kuat, hatinya benar-benar hancur berkeping-keping. Dewi mengangkat tinjunya, mengumpulkan semua kekuatannya di tinjunya untuk meninju tiang itu.
__ADS_1
"Dewi! Berhenti!" teriak Zeiro, ia berlari mendekati Dewi dan memegang tangan Dewi dan menurunkannya, takutnya jika Dewi meninju tiang itu malah akan roboh meskipun tiang terbuat dari beton dan besi yang kuat, tapi tenaga Dewi lebih kuat untuk menghancurkannya.
Zeiro menatap wajah Dewi yang menunduk, ia memegang bahu Dewi. "Ada apa dengan dirimu? Katakan mana tau aku bisa bantu," ucap Zeiro lembut.
Dewi mengengam erat baju Zeiro menariknya dengan kuat membuat tubuh Zeiro membungkuk.
"Lihat saja kau! Lihat saja! Aku akan akan membuat kalian menderita, aku pasti akan melakukannya!" ucap Dewi mengeram. Tak terasa air matanya menetes.
Dewi terdiam sesaat sambil berpikir. "Ya aku akan menunjukkan keberanian ku," ucap Dewi melepaskan pelukan Zeiro dan berjalan dengan langkah mantap, ia menyeka matanya dan tidak boleh larut atas kesedihannya, saat inilah ia harus menunjukkan siapa dirinya saat ini, ia ingin kembali berdiri di puncak agar ia punya kekuatan untuk menindas orang yang tidak ia sukai dan mencari tahu siapa yang sudah membunuhnya.
Dewi masuk ke dalam dan alih-alih ia menuju panggung pertandingan.
"Maaf Nona, saat ini sedang di adakan pertandingan," ucap wasit menghalangi Dewi. Dewi sungguh tak peduli, ia mengambil mikrofon di tangan pembawa acara.
__ADS_1
"Buat kalian semua para peserta, aku menantang kalian semua," ucap Dewi tegas.
Seketika tempat itu menjadi sepi, mereka masih bingung dengan ucapan Dewi.
"Sekali lagi, buat kalian para peserta dari seluruh negara yang ada di sini, aku menantang kalian." terlihat dari mata Dewi yang berapi-api dengan semangat yang membara.
Mereka berbisik-bisik seolah-olah tidak percaya dengan kemampuannya.
Pembawa acara itu mendekati Dewi. "Maaf Nona, mohon jangan mengacau di acara besar ini? Ini adalah acara yang sedang live di seluruh dunia," bisik pembawa acara itu.
"Apa kalian tidak ada yang berani menantang ku? Atau kalian membiarkan ku menjadi pemenangnya?" tanya Dewi dengan suara yang menggema.
"Dasar sombong! Hanya wanita dengan tubuh kecil begitu ingin mengalahkan peserta ratusan orang, memangnya dia siapa? Apa merasa dirinya seperti Dewi pembunuh," ucap mereka tak percaya dengan apa yang Dewi ucapkan saat itu.
__ADS_1