Transmigrasi Dewi Pembunuh

Transmigrasi Dewi Pembunuh
BAB 77


__ADS_3

Dewi melihat pria itu dan berpikir. Lalu bagaimana dengan dia? Apa juga bisa di percaya? Secara dia adalah orang terkenal dan juga berpengaruh di dunia. Sedangkan Andika orang rendahan saja bisa berkhianat, apa Zeiro seperti itu? Atau jangan-jangan saat ini dia yang di khianati?


Membuat kepala Dewi pusing saja jika memikirkan hal ini. Ia menopang dagu dengan kedua tangannya sambil melihat Zeiro.


"Kau terus menatap ku apa kau naksir pada ku?" tanya Zeiro tersebut menyadarkan Dewi.


"Kau sangat narsis, aku hanya berpikir, apa bawahan mu juga ada pengkhianat atau tidak," ucap Dewi membetulkan posisi duduknya.


"Kau pikir aku percaya pada mereka begitu saja, mereka itu melakukan pelatihan terlebih dahulu untuk menjadi orang kepercayaan ku? Tapi yang hanya datang kerja, ya dia hanya pekerja lepas dan tidak akan mendapatkan informasi apa pun, ya hanya sebagai pengawal saja," jawab Zeiro.


Dewi mengangguk, dia memang pantas berada di dunia bisnis.


Pelayanan pun mengantar makanan pesanan mereka. "Silakan di nikmati," ucap pelayan itu meletakkan makanan di atas meja.


Dewi mengambil piring bagian dan melahap makanannya, sedangkan Zeiro karena dia adalah orang terpandang tentu saja makannya sangat elegan.


"Kau mau punyaku? Aku tidak akan bisa menghabiskan semuanya," ucap Zeiro menyodorkan piring dengan makanan yang belum di sentuh.


Dewi mengambilnya lalu menaruhnya di piringnya. "Kau kenapa tidak makan yang banyak? Ku rasa permasalahan mu lebih banyak dariku, kau harus makan yang banyak," ucap Dewi sambil mengunyah makanannya.


Zeiro langsung manyun. "Seharusnya kau mengatakan itu sebelum kau mengambil makanan ku."

__ADS_1


"He-he-he, makanan ini lebih menggoda dari wajah tampan mu itu." Dewi melahapnya dengan cepat.


Setelah selesai makan, Zeiro membayarnya dan mereka pun masuk ke dalam mobil.


"Mau tidur di mana malam ini?" tanya Zeiro sambil menghidupkan mesin mobilnya.


"Tentu saja aku tidur di penginapan, kalau kamu ya terserah mau tidur di mana."


"Gadis ini, oke kita akan tidur di rumah ku saja," ucap Zeiro melajukan mobilnya.


Bagi Dewi tidak heran jika Zeiro punya rumah di mana-mana, karena dia orang kaya dia bisa melakukannya, bagi Dewi dulu juga bisa melakukannya, tapi ia memilih membesarkan rumahnya dari pada membuat rumah di setiap negara meskipun ia sering ke luar negeri.


"Ha? Bukankah Dewa pembunuh itu adalah orang yang misterius, katanya ia bergelut dalam dunia mafia, meskipun dia orang baru, tapi tiba-tiba saja namanya meroket, tapi kamu sudah lama terjun ke dunia bisnis, apa kau sedang mau ganti profesi?" tanya Dewi dengan melebarkan senyumnya.


Ya, meskipun ada mafia baru, tapi itu tidak mengancam bagi Dewi pembunuh, makanya dia tidak terlalu peduli dengan munculnya Dewa pembunuh.


"Ya, aku memang pembisnis? Tapi aku juga sudah mendalami dalam dunia mafia, tapi sesungguhnya awalnya aku adalah mafia, tapi aku sudah berhenti menjadi mafia dan menggeluti dunia bisnis, saat ini tidak tahu siapa yang memakai identitas ku, saat ini sedang di selidiki oleh para bawahan ku," jelas Zeiro.


"Gaji para bawahan mu pasti sangat besar, selain berbahaya mereka terus mencari tahu meski nyawanya terancam."


"Ya, gaji mereka 50 juta perbulan," jawab Zeiro.

__ADS_1


"Aku ingin bertanya, dari mana kau tahu jika aku membunuh notaris Dewi pembunuh?" tanya Dewi.


"Salah satu bawahan ku menyuruhnya untuk mengikuti mu, sayangnya saat perjalanan pulang, bawahan ku tidak bisa mengikutinya karena kau menyetirnya terlalu laju dan menyelip-nyelip di antara mobil-mobil besar," jawab Zeiro.


Dewi mengangkat alisnya sambil mengangguk pelan.


"Setelah pulang ke Negera A, aku harap kau tidak membuntuti ku lagi," ucap Dewi menatap tajam ke arah Zeiro.


"Kenapa? Kita sudah saling mengenal, dan aku juga ingin bertanggung jawab atas perbuatan ku dan kau juga harus bertanggung jawab atas perbuatan mu."


"Hey! Memangnya apa perbuatan ku yang harus aku pertanggung jawabkan!" sanggah Dewi dengan membulatkan matanya.


"Oke! Kita bahas pelan-pelan. Perbuatan ku yang harus aku pertanggung jawabkan adalah, aku sudah pernah mencium mu 2x. Yang pertama saat kau tidur di rumah ku sebelum keberangkatan kita ke Negera Q, apa kau ingat saat kau tiba-tiba terkejut dan kau mengatakan mimpi buruk?" tanya Zeiro.


Jika di ingat waktu itu, Dewi memang mimpi buruk, ia mimpi jatuh dari tebing di bawahnya ada jurang tak berujung, tapi tiba-tiba saja ada seorang pria yang bersayap menyambutnya dengan lembut. Setelah itu ia terbangun, yang ia ingat hanya ia terjatuh ke jurang tak berujung yang gelap gulita itu saja dan ia merasakan kesakitan dan kepedihan mendalam. Mungkin karena si pria bersayap itu hanya sebentar hadir di dalam mimpinya, ia pikir itu hanya pelengkap mimpi saja.


"Hey! Dasar sialan! Kau mencari kesempatan dalam kesempitan! Dasar brengsek!" teriak Dewi menekan kepala Zeiro ke bawah.


"Hey! Hey! Kau ingin kita mati! Eh, tapi tidak apa-apa, yang penting kita mati bersama," ucap Zeiro menyengir. Dewi langsung melepaskan kepala Zeiro melipat tangannya dan memanyunkan bibirnya.


Zeiro tersenyum lalu memperbaiki posisi duduknya dan tadi sempat mobil menabrak pembatas jalan.

__ADS_1


__ADS_2