
"Tidak perlu Tuan Andika, di kantor kami sudah di sediakan khusus untuk mencocokkan tulisan tangan," jawab polisi itu membawa surat wasiat itu keluar dan menuju ruangan tempat khusus pencocokan tulisan.
Setelah memberikan surat wasiat itu, mereka pun menunggu di ruang tunggu.
Andika terlihat pucat pasi, ia terus jalan bolak balik.
"Hey kau! Bisakah duduk, melihat kau terus bolak balik membuat kepala ku pusing," ucap Dewi. Sejenak Andika terdiam, ia pun memilih untuk keluar.
"Maaf Tuan Andika, sebelum surat itu keluar Anda harus tetap Ada di sini," ucap polisi itu.
"Cih! Merepotkan," umpat Andika.
Tak lama kemudian, orang yang menganalisis tulis tangan itu keluar dari ruangan, mereka semua berdiri.
"Ini adalah hasil analisisnya dan hasilnya adalah, benar! Ini adalah tulisan dari Dewi pembunuh, surat ini sah di tambah dengan cap milik Dewi," ucap penganalisis itu.
"Nah! Gi mana? Benarkan, jadi tangkap dia pak," ucap Dewi.
"Maaf Tuan Andika, Anda untuk sementara kami tahan, untuk memberi keterangan," ucap polisi itu.
"Kalian ingin menahan ku! Beraninya kalian! Apa kalian tidak tahu siapa aku!" teriak Andika dengan wajah merah padam.
Dewi memegang bahu Andika dengan kuat lalu mencekamnya dengan kuat. "Kau! Lebih baik ikuti kata polisi ini sebelum aku benar-benar mematahkan bahu mu ini, aku di sini meminta keadilan atas harta milik Dewi pembunuh, aku di sini sebagai pewarisnya berhak menjaga harta milik Dewi, bukan kau gunakan untuk berfoya-foya. Pak interogasi dia baik-baik pak, karena bisa jadi ada harta milik Dewi yang dia sembunyikan," ucap Dewi.
__ADS_1
"Baik Nona, jika Anda menemukan sesuatu beri tahu kami secepatnya," ucap polisi itu.
"Terima kasih pak," ucap Dewi tersenyum mengembang melihat Andika, ia melambaikan tangan lalu mengatakan sesuatu, tapi hanyalah gerakkan bibir saja yang mengatakan 'Aku tidak akan membiarkan hidupmu tenang'
Dewi menyengir dan ia pun pergi meninggalkan kantor polisi.
"Kematian ku seperti ya memang ada keuntungan tersendiri bagiku, jika aku tidak mati, aku tidak tahu siapa Andika sesungguhnya, selama ini dia sungguh pandai mencari muka sehingga aku menurunkan kewaspadaan ku dan mempercayai sepenuhnya padanya, heh! kali ini aku tidak akan membiarkan kalian yang mengkhianati ku, termasuk bawahan ku yang dulunya setia pada ku tapi memilih Andika karena hartaku," ucap Dewi berjalan ke arah jalan raya menunggu taksi.
Sebuah taksi pun lewat, Dewi memberhentikannya.
"Taksi!" panggil Dewi. Sebuah taksi berwarna kuning mendekat dan berhenti di depan Dewi.
Ia pun naik ke dalam taksi dan menutup pintu mobilnya.
"Ke rumah Dewi pembunuh," jawab Dewi.
Mobil pun melaju di jalanan menuju rumah Dewi pembunuh, meskipun pengemudi binggung tapi ia tidak peduli.
Tak lama kemudian, ia pun sampai di depan rumahnya.
"Pak, bapak tunggu sebentar di sini ya, aku mau ambil sesuatu," ucap Dewi membuka pintu taksi dan ia berjalan menuju rumah besarnya itu.
Dewi melihat rumah itu sejenak, lalu pergi masuk ke dalam, Dewi membuka brankasnya dengan mudah, karena ia tau kata sandinya.
__ADS_1
Dewi mengambil semua barang-barang berharganya lalu membawanya masuk ke dalam taksi.
"Jalan pak, menuju gedung kompetisi internasional," ucap Dewi.
"Baik Nona," angguk pengemudi itu, ia pun melajukan kembali taksinya. Pengemudi itu masih bingung, di kepalanya bertanya-tanya, sesekali ia melihat Dewi lewat cermin depan.
"Pak, dari tadi bapak terus melihat ku, apa ada yang ingin di tanyakan?" tanya Dewi menyadari jika bapak itu penasaran dengannya.
"Maaf Nona jika saya lancang, tapi hati saya tidak bisa tenang jika tidak bertanya, tapi bagiamana Nona bisa masuk ke dalam rumah itu dan mengambil barang milik Dewi pembunuh, tidak takut jika di tangkap polisi?" tanya pengemudi itu.
"Tenang saja, pencuri yang sesungguhnya sudah di tangkap dan sekarang dia ada di kantor polisi, sedangkan aku adalah ahli waris yang tersembunyi yang sesungguhnya," jawab Dewi.
"Oo," angguk pengemudi itu sedikit mengerti.
Sesampainya di gedung kompetisi, Dewi membayar ongkos taksi dan ia keluar dari taksi itu menuju kamarnya.
Dewi meletakan semua barangnya di kasur dan melihat semua barangnya yang di ambil tadi, yaitu berupa surat gedung, surat usaha, surat rumah dan surat-surat penting lainnya.
Terselip sebuah gambar, Dewi mengambil gambar itu dan itu adalah foto mesranya dirinya dan Andika.
"Cih! Sungguh menjijikkan aku pernah berfoto mesra dengannya. Argghhh, tidak tahu kenapa aku bisa foto menggelikan seperti ini. Wek, rasanya mau muntah," ucap Dewi merobek foto itu lalu membuangnya ke tong sampah.
Dewi membereskan surat-suratnya lalu memasukkan ke dalam koper. Ia pun merebahkan tubuhnya ke kasur, memandang langit-langit kamar itu. Dewi memejamkan mata lalu ia pun tidur.
__ADS_1