
"Kau sibuk, untuk apa mengantar ku, lagian aku juga punya paspor dan bisa berangkat sendiri," ucap Dewi.
"Aku tidak sesibuk itu kok, jika mereka mau menunggu ku ya silakan, tidak juga tidak masalah," jawab Zeiro santai.
"Terserah kau saja," ucap Dewi.
***
Keesokkan paginya, Dewi sudah bersiap dengan koper di tangannya. Mobil Zeiro datang menjemput.
"Apa kamu sudah siap? Tidak ada yang ketinggalan lagi?" tanya Zeiro.
"Tidak, lagian juga aku pergi tidak akan lama," jawab Dewi.
Asisten Zeiro mengambil koper Dewi dan memasukkan ke dalam bagasi mobil.
Mereka pun masuk ke dalam mobil.
"Bi Inah, aku pergi dulu ya, jangan buka pintu untuk orang asing, termasuk Surya dan keluarganya," ucap Dewi.
"Baik Nona, laksanakan! Nona juga harus hati-hati ya," pesan bi Inah.
"Iya Bi."
Perlahan-lahan mobil pun melaju di jalanan menuju ke arah jet pribadi Zeiro.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, mereka sampai di bandara milik Zeiro. Mereka pun masuk ke dalam jet.
Jet milik Zeiro pun lepas landas dan terbang ke udara.
Para pramugari datang mengantarkan sarapan untuk mereka, yaitu roti selai stroberi dan susu.
"Silakan Nona, Tuan," ucap pramugari itu tersenyum ramah.
Dewi dan Zeiro pun menyantap makanannya hingga habis.
***
Jam sudah menunjukkan pukul 17:20 menit. Jet pun mendarat. Asisten Zeiro mengeluarkan koper milik Dewi.
"Iya," jawab Dewi. Perlahan-lahan tangan Dewi bergerak dan ia pun memeluk Zeiro.
"Terima kasih." Zeiro menenggelamkan wajahnya di bahu Dewi dan memeluk Dewi dengan erat. Dewi hanya diam. Ia merasakan ketulusan yang Zeiro berikan padanya selama ini, sedikit terharu.
"Kamu juga hati-hati," ucap Dewi pelan.
"Iya."
Mereka pun tenggelam dalam perasaan, sedikit ada kerinduan dalam hati Dewi di saat detik-detik mereka akan berpisah.
"Ya udah, kamu pergilah, nanti terlambat," ucap Dewi. Mereka pun saling melepaskan pelukannya.
__ADS_1
"Aku pegi dulu ya," ucap Zeiro masuk kembali ke dalam jet pribadi miliknya, ia pun melambaikan tangan menandakan perpisahan.
Dewi pun juga membalasnya dan perlahan-lahan jet Zeiro pun naik ke udara.
Setelah melihat kepergiannya, sedikit terasa ada yang kurang, terasa sepi di hatinya. Mungkinkah dirinya mulai jatuh cinta?
"Ah, lupakan itu, aku harus mencari hotel saja dulu untuk istirahat.
Beberapa taksi lewat, Dewi pun memberhetikannya. Ia pun masuk ke dalam.
"Mau ke mana Nona?" tanya sang supir.
"Ke hotel terdekat," ucap Dewi. Supir itu pun melajukan mobilnya di jalanan. Tak berapa lama, supir itu berhenti di sebuah hotel yang tidak terlalu mewah, tapi juga tidak terlalu sederhana.
Dewi membayarnya lalu keluar dari taksi tersebut dan melihat hotel itu sejenak.
Triring! Triring! Triring!
Ponsel milik Dewi berbunyi.
"Halo," jawab Dewi.
"Kamu di mana? Supir ku mencari kamu di bandara kok nggak ada? Aku menyuruh supir ku untuk menjemput mu dan kau tidur di rumah ku saja," ucap Zeiro.
Dewi teringat saat ia ada di rumah Zeiro waktu itu, ia kabur dari rumah Zeiro akibat dari ucapan asisten Zeiro waktu itu.
__ADS_1