Transmigrasi Dewi Pembunuh

Transmigrasi Dewi Pembunuh
BAB 73


__ADS_3

"Kau tahu banyak ya tentang dirinya ya, masalah ini saja kau tahu, sepertinya dia mengatakan semuanya padamu, kau memang benar-benar adalah orang kepercayaan dia," ucap notaris itu menyengir.


"Ya, dia sangat mempercayaiku, maka dari itu aku juga sangat ingin tahu siapa pembunuhnya agar dia mati dengan tenang," jawab Dewi.


"Kau sangat ingin tahu siapa pembunuhnya?" tanya Bram memajukan wajahnya sedikit mendekati Dewi.


Dewi diam tak menjawab. Bram tertawa sambil menarik kembali wajahnya dan menghempaskan tubuhnya kesandaran sofanya, kemudian ia terdiam menatap langit-langit.


"Akulah pembunuhnya," jawab Bram. Ia menatap Dewi tajam.


Dewi sangat terkejut terbelalak, tidak mungkin rasanya orang yang ia percayai itu telah membunuhnya.

__ADS_1


"Asal kau tahu, aku menginginkan tanah timur karena ingin membangun markas untuk pasukan khusus ku, itu juga untuk melawan Dewi pembunuh, apa dia pikir aku benar-benar bekerja untuknya? Apa dia pikir aku benar-benar setia padanya? Heh! Sungguh naif, wanita itu memang pantas mati, mendengarkan kematiannya sungguh membuat aku hidup," ucap Bram tertawa.


"Apa penyebabnya kau bunuh dia, kurang baik apakah dia kepada mu?" tanya Dewi meminta jawaban yang pasti.


"Tidak ada, aku hanya membencinya, semenjak dia tidak ingin memberikan tanah timur itu, karena aku tidak mendapatkan di saat dia hidup mungkin akan aku dapatkan saat dia sudah mati, meskipun Mei dan Andika tidak terlibat, tapi mereka setuju atas rencana ini, dengan begini cinta mereka bisa menyatu, mereka saling suka dan cinta, dan Andika tidak benar-benar mencintai Dewi pembunuh, ia hanya ingin mendapatkan harta Dewi pembunuh, begitu juga Mei yang merelakan Andika untuk sementara waktu untuk bersama Dewi pembunuh, dan suatu saat mereka akan mendapatkan harta Dewi pembunuh dan hidup bahagia," ucap Bram menyunggingkan senyumnya.


"Kedua pengkhianat itu benar-benar keterlaluan," ucap Dewi geram.


"Cinta sejati? Andika adalah anjing yang di pungut oleh Dewi karena kasihan, Dewi pembunuh membiarkan Andika berada di sisinya awalnya bukan karena dia cinta, tapi karena kasihan, merasa peliharaannya itu baik dan selalu penurut barulah ia jatuh cinta, ia bahkan tidak ada Andika ke dua di dunia ini yang paling baik, ternyata semua orang yang di percaya oleh Dewi pembunuh adalah pengkhianat dan pembunuh, dia benar-benar sial sudah mempercayai kalian semua, entah dosa di masa lalu apa yang sudah ia buat," ucap Dewi. Dirinya benar-benar tak menyangka akan ada hari ini di mana ia tahu siapa pembunuhnya. Hanya saja kenapa ini bisa terjadi? Kenapa pembunuhnya adalah orang yang paling ia percaya, mulai sekarang di kehidupan kedua, dia tidak akan mempercayai siapa pun.


"Karena kamu sudah tau siapa pembunuhnya maka kau tidak akan bisa keluar hidup-hidup," ucap Bram. Ternyata Bram sudah menyiapkan orang-orangnya untuk mengepung Dewi, mereka membawa senjata api masuk melalui pintu.

__ADS_1


"Oh ini pasukan khusus mu? Bukannya mereka adalah para bawahan Dewi pembunuh?" tanya Dewi, ia ingat betul ternyata benar, ada wajah asing saat dia pergi waktu itu, wajah asing itu yang juga menyiapkan kopernya untuk di masukkan ke dalam mobilnya saat ia pergi ke luar negeri dalam rangka kompetisi ajang internasional dan ia di panggil menjadi juri waktu itu.


'Awalnya aku tidak percaya jika kau yang membunuh ku, setelah melihat wajah pria itu aku jadi percaya,' batin Dewi.


Waktu memang cepat berlalu, saat ini ia sungguh berada di situasi yang menyulitkan, bukan para bawahan Bram yang menyulitkan dia untuk pergi, tapi situasi sulit untuk dia mempercayai mereka yang pernah ia tolong tapi mereka malah memintanya lebih.


"Pantas saja waktu itu Mei mengatakan jika dia bukan membunuh Dewi pembunuh dan bukan Andika juga, jadi aku merasa mereka tidak terlibat tapi mereka tahu masalah ini, dan ternya kalian sama saja satu komplotan," ucap Dewi datar.


"Lalu kenapa? Kau juga tidak akan bisa keluar hidup-hidup dari sini, mungkin jika Dewi pembunuh bisa melewati rintangan ini karena aku pernah melihat dia dengan mata kepala ku langsung bagaimana dia membantai tero ris, tapi tidak dengan dirimu, kau belum pernah menghadapi perang yang sesungguhnya, kau belum berpengalaman. Saat kau menang di kompetisi itu juga karena mereka tidak membawa senjata, tapi saat ini situasinya berbeda, semua pasukan ku ini sudah terlatih dan mereka membawa senjata api, kalau begitu baik-baiklah mengantar nyawamu," ucap Bram tersenyum sinis.


"Lakukan saja, kau pikir aku tidak bisa melakukannya," ucap Dewi.

__ADS_1


"Tembak dia!" perintah Bram.


__ADS_2