Transmigrasi Dewi Pembunuh

Transmigrasi Dewi Pembunuh
BAB 92


__ADS_3

"Kemana dia pergi?" tanya Zeiro tambah binggung.


Zeiro juga menelpon para bawahannya yang lain yang ada di negara A untuk terus memantau siapa tahu jika Dewi sudah pulang ke Negara A.


Siang pun tiba, pria itu datang lagi membawa roti.


"Bang, bisakah beri kami roti yang lebih banyak lagi? Sepertinya untuk tengah hari ini mana cukup makan segini, takutnya nanti malam kami nggak makan roti ini lagi karena harus pergi," ucap Dewi mengiba.


"Baiklah," ucap pria itu setuju. "Hehehe, tentu saja kalian tidak bisa makan roti ini lagi karena kalian akan di jual." pria itu tersenyum menyeringai.


Pria itu kembali datang membawa roti yang sangat banyak. "Ayo makan yang banyak," ucap pria itu tersenyum.


"Terima kasih Bang," ucap Dewi tersenyum. Pria itu kembali menutup pintu dan pergi.


"Aku sudah meminta roti yang banyak, kalian harus makan!" perintah Dewi.


"Apa peduli mu, jika kau ingin makan, ya makan saja semuanya," ucap wanita baju kuning itu menatap Dewi tidak suka.


"Jika kalian tidak makan, kalian tidak akan punya tenaga untuk melarikan diri, kalian tidak mau di jual ke pria hidung belang kan?" tanya Dewi dengan mata yang penuh harapan.


"Memangnya apa yang bisa kita lakukan?" tanya wanita yang berambut kusut itu.


"Aku akan menghajar mereka dan melepaskan kalian," ucap Dewi.


"Kau sendiri yang melawan mereka memangnya bisa?" tanya mereka tak percaya.


"Kalian sungguh meremehkanku." Dewi merenggangkan tangannya lalu menarik dengan kuat dan borgol itu lepas.


Mereka melihat itu sangat terkejut. Dewi lalu melepaskan borgol dengan kuat dan borgol itu putus.


"Jadi bagaimana menurut kalian? Apa kalian ingin melepaskan diri dari mereka? Jika iya, maka makan lah," ucap Dewi dengan nada rendah.

__ADS_1


"Ya ya, kami akan makan," ucap mereka mengangguk dengan penuh harapan dan bersemangat.


"Begini, nanti pria melihat kalian, kalian harus menyatukan kembali tangan kalian agar mereka tidak curiga sebelum aku menghajar mereka," pesan Dewi. Mereka mengangguk mengerti.


Dewi pun membantu mereka memutuskan borgol itu dari tangan dan kaki mereka. Dan borgol itu pun putus. Mereka pun makan dengan semangat berharap bisa pergi dengan selamat.


Tak terasa malam pun tiba, kira-kira jam sudah menunjukkan pukul 20:00 malam. Benar saja, dari kejauhan sudah terlihat lampu-lampu dari negara A.


Terlihat wajah mereka penuh ceria dan suka cita dan mereka sambil berpelukkan.


"Ingat, kalian jangan terlalu mencolok, jika kapal ini sudah merapat aku akan membuka jalan dan kalian lari ke atas darat segera," pesan Dewi lagi mengingatkan.


"Siap! Kamu juga harus hati-hati, kalau perlu kita serang bersama-sama saja," saran wanita berambut kusut tersebut.


"Tidak, aku saja sudah cukup, dengan mereka segitu saja tidak cukup membuat tanganku gatal," jawab Dewi.


"Kalau kami punya kemampuan itu kenapa nggak dari tadi saja kamu hajar sebelum berangkat tadi?" tanya mereka.


Tak lama kemudian, kapal pun merapat, ternyata ada 4 mobil yang datang bersamaan. Jika di lihat itu adalah mobil yang akan membawa mereka pergi.


Pria itu mengikat tali ke tiang pelabuhan dan para pria yang dari mobil juga datang mendekat, mereka ada sekita 6 orang.


"Mana mereka?" tanya temannya yang membawa mobil tadi.


"Ada di dalam, Key dan yang lain sedang membawa mereka keluar," jawab pria itu.


Pria yang bernama Key itu datang membuka pintu.


"Ayo keluar, kita sudah sampai!" perintah Key.


Buk!

__ADS_1


Sebuah tinju yang sangat keras mendarat di kepala Key membuat Key langsung pingsan mendadak. Mereka bersorak kesenangan.


"Ssstttttt!" Dewi meletakkan jari telunjuknya di jari.


"Kalian jangan mencolok, bagaiman jika ada senjata api, bisa mati kita di sini.


Karena terdengar ada suara keras di dalam ruangan, 2 pria yang menjaga di pintu ruangan itu, segera memeriksa mereka dan mendapati jika Key sudah pingsan.


Tanpa pikir panjang lagi, Dewi langsung menendang perut pria itu dan satunya lagi Dewi menarik kepalanya dan menghantam dengan dengkulnya membuat hidung pria itu mengeluarkan darah dan Dewi menarik tangan pria itu lalu memutar kebelakang lalu mematahkannya.


Krak!


"Aaaaaaaa!" teriak pria itu. Temannya datang ingin menangkap Dewi, Dewi menepis tangan pria itu lalu menendang bagian utama pria dengan kuat membuat pria itu kesakitan, lalu Dewi mematahkan lehernya.


Mereka berdelik ngeri melihat Dewi yang sangat sadis.


Dewi berjalan terlebih dahulu untuk memastikan jika di dalam kapal itu tidak ada orang lagi. Dewi melihat ke dalam ruangan yang lainnya juga.


"Ayo, maju, seperti di dalam tidak ada," ucap Dewi. Mereka pun pelan-pelan maju.


"Di mana mereka, kenapa lama sekali?" tanya temannya yang akan membawa mereka ke mobil.


"Ya sudah, aku pergi lihat dulu," ucap pria itu kembali melangkah ke dalam kapalnya.


"Key! Kenapa lama sekali!" panggil pria itu. Dewi menyuruh mereka untuk bersembunyi di dalam ruangan lainnya. Saat pria itu berjalan mengarah ke arah ruang di mana para wanita di sekap.


Dewi langsung menendang dagu pria itu dan membuat pria itu terjatuh terlentang.


Dewi melompat ke arah tubuh pria itu dan menghantam dadanya dengan siku membuat pria itu sesak nafas, Dewi menarik kepala pria itu dan menghentakkan ke lantai beberapa kali membuat pria itu pingsan.


Dewi kembali berjalan dan melihat ke luar dan di luar masih ada 6 orang yang masih menunggu.

__ADS_1


"Kalian jangan keluar dan terus bersembunyi, aku akan menghajar mereka," ucap Dewi. Mereka mengangguk mengerti.


__ADS_2