
"Kau serius tidak mau memakannya?" tanya Dewi mendekati wanita itu.
"Makan sajalah, jika tidak bisa berbuat apa-apa apa bedanya dengan mati," ucap wanita itu mengarahkan wajahnya ke samping tanpa ada daya.
"Baiklah, itu tidak masalah, yang penting aku punya tenaga untu menyelamatkan kalian semua," ucap Dewi mengambil roti itu dan melahap karena ia juga biasa makan banyak.
Zeiro kembali pulang ke rumahnya dan melihat asistennya itu masih berlutut.
"Kerahkan semua pengawal untuk mencari Dewi sekali pun di lubang semut!" perintah Zeiro kepada asistennya.
"Baik Tuan." angguk asisten itu berdiri dan mengambil ponselnya dan menelpon semua pengawal Zeiro untuk mencari Dewi.
Zeiro duduk di sofa sambil berpikir, kemana lagi Dewi bisa pergi, ini adalah pertama sekalinya Dewi ke negara A, meskipun ia banyak tahu tentang cerita Dewi pembunuh, tapi tetap saja dia akan tersesat.
"Dewi, kemana kamu pergi, meskipun aku percaya kau bisa menjaga dirimu sendiri dan tidak kelaparan dengan uangmu itu, tapi kau tidak punya paspor untuk kembali ke Negara A," ucap Zeiro memegang kepalanya. Ia benar-benar bingung harus mencarinya di mana lagi, ke kantor polisi sudah, ke rumah sakit juga sudah, ketempat gedung Dewi pembunuh juga sudah, semuanya tidak dia di sana, atau mungkin ia pergi ke pantai tempat mereka bermain tadi siang?
Zeiro pun bergegas kembali masuk ke dalam mobilnya dan melaju menuju pantai.
__ADS_1
Malam semakin larut, Dewi dan yang lain sangat mengantuk, ia pun tidur.
****
Tak terasa pagi sudah tiba, kapal masih di tengah laut. Dewi bangun dengan ceria dan kembali melihat laut.
Seorang pria kembali datang membawakan roti.
"Ayo makan," ucap pria itu melemparkan roti itu ke arah mereka, layaknya tahanan.
"Pak, kalau boleh tahu apa masih lama sampainya ke Negara A?" tanya Dewi.
"OOO cepat juga ya, aku pikir akan membutuhkan waktu 3 hari," ucap Dewi.
"Enggak kok, ini juga pakai mesin kecepatan turbo dan di tambah hati cerah dan tidak ada badai, jadi kita akan cepat sampai," ucap pria itu.
Dewi mengangguk-angguk.
__ADS_1
Pria itu pun keluar sambil tersenyum. "Dia benar-benar polos." Pria itu pun menutup pintu.
"Heh! Benar-benar kesempatan yang pas, saat malam tiba. Saat malam itulah aku menghabisi kalian.
Dewi mengambil roti itu dan melahapnya untuk menambah energinya, setelah beberapa saat makan, Dewi melompat-lompat agar berolahraga.
"Apa yang kau lakukan? Ingin mengurangi kebosanan mu juga tidak berguna," ucap salah wanita itu yang memakai baju coklat.
"Aku harus sering berolah raga agar tubuhku tetap lentur," ucap Dewi yang melompat ke sana kemari.
"Haishh ... terserah kamu saja ingin melakukan apa saja, toh hasilnya juga akan tetap sama," ucap mereka yang tidak terlalu peduli dengan apa yang di lakukan Dewi.
Sedangkan Zeiro masih kebingungan mencari Dewi yang tetap tak kunjung di temui.
Zeiro juga sudah menelpon rektor kampus di tempat Dewi kuliah dan mendapati jika Dewi tidak datang kuliah.
Zeiro juga meminta rektor untuk memeriksa apa Dewi ada di rumahnya atau tidak. Rektor itu pun segera ke rumah Dewi dan mendapati Dewi juga tidak ada di rumah.
__ADS_1
"Sukurin jika dia hilang, kalau perlu dia mati saja sana," ucap Anita tersenyum sinis.