
"Tidak percaya?" Dewi membuka tas kecilnya lalu mengeluarkan surat wasiat itu dan memperlihatkan surat itu.
Mei terbelalak karena ia sangat kenal dengan tulisan Dewi pembunuh, ia mengambilnya lalu membacanya.
Zeiro menekuk alisnya, ia berpikir sejak kapan Dewi kenal dengan Dewi pembunuhan dan bisa menjadi adik angkat Dewi pembunuh.
"Ti-tidak! Tidak mungkin! Tidak mungkin Kak Dewi memberikan semua warisan ini kepada mu yang bukan siapa-siapa seperti mu, ini pasti bohong, ini pasti hanya rekayasa kamu kan? Kamu meniru tulis tangan milik Kak Dewi kan? Ngaku nggak kamu!" teriak Mei dengan tangan bergetar.
"Hey! Apa mata mu buta, lihatlah cap milik Dewi pembunuh itu, berarti ini adalah sah," ucap Dewi menunjuk cap miliknya.
Mei benar-benar geram, ia merampas kertas wasiat itu dari tangan Dewi lalu merobeknya hingga hancur lalu memijak-mijaknya dengan kuat.
Dewi melipat tangannya sambil melihat kegeraman Mei.
"Sudah tidak ada lagi, sekarang kau tidak punya surat wasiat lagi, karena dari yang kulihat itu adalah yang asli," ucap Mei tersenyum sinis tapi dengan air mata berlinang.
"Maaf ya Mei, ini mungkin akan sangat mengecewakan mu, tapi aku masih ada banyak surat warisan yang di buat Dewi pembunuh untuk ku karena biar berjaga-jaga juga," ucap Dewi memperlihatkan surat wasiat yang ada di dalam tasnya.
Mei kembali terbelalak dan ia berusaha berebut surat wasiat itu dari tangan Dewi, tapi Dewi menghindarinya dan Mei pun terjatuh, perutnya teramat sakit, keluar darah mengalir di lantai.
"Aaaaaaaahhhhh!" teriak Mei yang teramat sakit, Dewi terdiam sejenak, lalu ia pun membantu Mei dan langsung menuju mobil Zeiro.
"Zeiro, aku pakai mobil mu dulu, dan kamu tolong cek CCTV dan simpan rekaman buat berjaga-jaga, kalian ini aku minta tolong pada mu, aku berhutang pada mu, aku akan menuruti keinginan mu setelah semuanya selesai," ucap Dewi buru-buru dan langsung menginjak pedal gas mobil milik Zeiro.
"Dia bilang menuruti apa yang aku inginkan? He-he-he, ini adalah permintaan mu sendiri Dewi, aku harap kamu jangan menyesalinya," ucap Zeiro tersenyum penuh kemenangan.
Zeiro pun pergi ke ruang kontrol rekaman CCTV, ia meminta para petugas itu untuk memeriksanya.
__ADS_1
Sedangkan di dalam mobil, perut Mei mulas-mulas, Mei memegang perutnya dengan kuat karena sakit tak bisa ia tahan. Mei menjerit-jerit kesakitan. Mobil terus melaju menuju rumah sakit. Mei menahan sakit hingga mau pingsan.
Sesaat kemudian, mereka pun sampai di rumah sakit, Dewi membopong Mei masuk ke dalam rumah sakit.
"Sus, tolong, ini dia lagi sakit," ucap Dewi dengan polosnya.
Para suster berdatangan dengan panik, karena sudah banyak darah yang keluar, mereka langsung membawa brankar dan membawa Mei ke dalam ruang UGD.
"Harap menunggu ya Nona," ucap dokter itu masuk ke ruangan dan Dewi duduk di kursi tunggu.
Beberapa saat kemudian, seorang dokter keluar, dokter itu menghampiri Dewi.
"Apa kamu adalah keluarganya?" tanya dokter itu.
"Bukan," jawab Dewi menggeleng.
"Suaminya sedang di penjara, katakan saja pada ku Dok apa yang terjadi, mungkin aku bisa bantu," ucap Dewi.
"Hm … begini, anak yang ada di perutnya itu tidak bisa di selamatkan lagi, karena ada benturan membuat sang calon bayi meninggal di dalam perut, jadi kami ingin menyiapkan operasi untuk mengangkat bayinya, jadi saya harap untuk segera mengurus administrasinya agar bisa segera di operasi," ucap dokter itu.
"Oh begitu ya, lalu di mana dia?" tanya Dewi melihat ke dalam ruangan.
"Dia akan di persiapkan untuk menuju ruang operasi," jawab Dokter.
"Baiklah kalau begitu," ucap Dewi mengangguk. Dokter pun pergi dan Dewi pergi ke meja administrasi dengan wajah manyun.
"Lihat saja nanti, aku akan meminta uangnya 2x lipat untuk pembayaran ini, benar-benar merasa di rugikan," omel Dewi yang berjalan menuju meja administrasi.
__ADS_1
"Sus, atas nama pasien Mei," ucap Dewi.
"Oh yang akan di operasi itu ya?" ucap pegawai itu.
"Iya," angguk Dewi.
"Baik, sebentar ya," ucap pegawai itu melihat biaya operasinya.
"Semuanya 15 juta buk," ucap pegawai itu.
"Oh iya, saya transfer saja ya," ucap Dewi.
"Baik buk," angguk pegawai itu. Dewi pun mentransfer uang ke rekening rumah sakit.
"Terima kasih ya buk, uangnya sudah masuk," ucap pegawai itu.
"Iya, sama-sama. Oh ya apa aku bisa melihat pasien sebelum di operasi?" tanya Dewi.
"Boleh buk," jawab pegawai itu. Dewi langsung pergi ke ruangan di mana Mei berada sebelum di pindahkan ke ruang operasi.
Di ruang terlihat Mei sendiri, ia menangis sesenggukan. Dewi pun masuk ke dalam ruangan itu. Saat melihat Dewi Mei langsung membelalakkan matanya.
"Untuk apa kau kesini!" teriak Mei.
"Aku ke sini tentu saja untuk menagih yang yang sudah ku bayarkan ke kasir tadi, memangnya aku akan berbaik hati meskipun kau pasien sekarang," ucap Dewi melipat tangannya.
Mei menangis dengan berlinangan air mata. "Ini semua gara-gara kamu! Kau yang sudah membunuh anakku, aku akan laporkan kau dan penjarakan kau seumur hidup karena membuat aku seperti ini!" teriak Mei.
__ADS_1
"Ha-ha-ha sangat lucu, kau itu terjatuh sendiri, kenapa aku yang kau salahkan, lihatlah diri mu yang bodoh ini, benar penderitaan yang pantas di terima," ucap Dewi menyunggingkan senyumnya.