Transmigrasi Dewi Pembunuh

Transmigrasi Dewi Pembunuh
BAB 49


__ADS_3

"Kau benar-benar seperti …."


"Berhenti mengatai ku jika kau sayang nyawa mu." Dewi menatap Zeiro tajam menandakan agar Zeiro berhati-hati.


"Tidak masalah kau makan banyak bahkan hingga kau makan satu restoran ini, tapi makanan mu potong sama gaji mu," ucap Zeiro menyengir.


"Bangsat! Dasar pria kaya yang pelit! Aku tidak tahu kau menimbun hartamu entah untuk apa? Apa akan kau bawa masuk dalam kuburan?" tanya Dewi manyun.


"Tentu saja itu kan hartaku yang aku cari sendiri, tentu saja akan ku bawa masuk dalam kuburan," jawab Zeiro menyengir.


Pesanan Dewi pun sampai, di meja itu penuh dengan lobster yang di pesan Dewi. Lobster yang menjunjung tinggi hingga menutupi wajah Zeiro.

__ADS_1


"Kau yakin ingin menghabiskan sebanyak ini?" tanya Zeiro berdelik ngeri, rasanya ia tak percaya jika Dewi bisa menghabiskan porsi sebanyak itu, lagian yang ia tahu, wanita selalu menjaga dietnya dengan makan makanan yang sehat dan porsi tidak berlebihan.


"Kenapa? Kau tidak percaya aku bisa menghabiskankannya?" tanya Dewi.


Zeiro menggeleng kepalanya. "Haishh … entah apa yang merasuki tubuhmu itu, aku tidak yakin jika manusia bisa menghabiskannya sebanyak ini, jangan-jangan kau di rasuki roh jahat, apa perlu kau di bawa ke dukun untuk mencabut iblis yang merasuki tubuh mu."


"Berhenti berbicara dan diamlah." Dewi mengambil sarung tangan plastik lalu mulai melahapnya.


"Hm … ini sangat enak, aku benar-benar hidup sekarang." Dewi mengunyah daging lobster itu dengan lahap, satu persatu lobster itu berkurang tingginya.


"Setelah ini kau harus minum obat pencahar," ucap Zeiro membiarkan Dewi makan dan berpesta untuk kesenangan dirinya.

__ADS_1


Ponsel milik Zeiro berbunyi dan melihat di layar ponselnya bahwa yang menelponnya adalah pengawalnya.


"Kau makanlah dulu, aku terima telpon sebentar," ucap Zeiro berlalu pergi, Dewi juga tidak peduli dan terus melahap makanannya. Zeiro pergi keluar dari restoran dan mencari tempat sepi untuk mengangkat telponnya.


"Halo, ada apa Bobi," jawab Zeiro melirik kiri dan kanan memastikan tidak ada yang mendekatnya.


"Bos, dari pengamatan kami, saat ini Andika setelah mengantar istrinya, ia menuju rumah Dewi pembunuh, rumah itu kosong tanpa ada sisa barang di dalamnya, barang-barang itu di bawa ke tempat pembuangan. Rumah Dewi pembunuh itu mungkin akan segera di renovasi kembali dan di jadikan sebuah gedung, tapi belum tau akan di gunakan tempat apa, kami akan terus menyelidiki dan mengamatinya selalu. Ada beberapa pengawal yang lain akan berusaha meletakkan penyadap di sana, hanya saja saat ini tidak bisa di lakukan karena renovasi rumah, di takutkan mereka akan menemukan penyadap itu dan akan memperketat keamanan ruangan."


"Baik, pantai terus sampai kalian benar-benar dapat informasi yang berguna," ucap Zeiro.


"Baik Bos." Zeiro memutuskan panggilannya dan kembali masuk ke dalam restoran. Ia sangat terkejut karena baru di tinggal beberapa saat, di piring hanya menyisakan 2 ekor lobster lagi.

__ADS_1


"Wah …kau benar-benar menghabiskannya? Jika begitu kenapa kau tidak ikut lomba makan saja, lumayan dapat makan gratis dan di bayar lagi," ucap Zeiro melihat piring yang kini sudah kosong, hanya menyisakan saos asam pedas yang mewarnai piring tersebut.


"Jika ada tolong daftarkan aku." Dewi meneguk air minum lalu membuka sarung tangan plastik dan meletakan ke dalam piring kotor itu.


__ADS_2