
"Kalo aku sih biarin aja, lihatlah dia punya cincin berlian, setidaknya itu sudah cukup untuk bayar pekerjaan kita, ngapain harus capek-capek mencarinya, kita masih banyak pasien yang harus di tangani," ucap suster yang lain.
"Ya sudah deh, biarin aja lah. Ya udah, kita keluar, biarkan dia istirahat," ucap temannya.
Mereka pun pergi meninggalkan ruangan itu dan menutup pintunya.
"Oh, jadi di sini kamu ingin bawa aku," ucap Dewi saat melihat tempat yang di kelilingi danau. di sana sudah di sediakan tempat terbuka dan sudah di sediakan makanan dan minuman dan juga tempatnya sudah di hiasi.
"Iya, ayo ke sana, karena besok kita harus pulang ke negara A, jadi aku ingin membawamu ke sini," ucap Zeiro membuka sabuk pengamannya lalu keluar.
Dewi mengikuti Zeiro menuju tempat tersebut.
Mereka berdua pun duduk berhadapan, hembusan angin membuat rambut Dewi melambai-lambai.
"Ini kamu yang siapkan?" tanya Dewi melihat ke arah Zeiro.
"Iya, lagian kan kamu kuliah, entah kapan ada waktu buat ke sini lagi," jawab Zeiro mengambil gelas yang berisikan jus lemon.
"Tapi masalahku belum selesai di sini, aku ingin balas dendam pada Andika, aku tidak ingin Andika hidup tenang, dan di tambah lagi kematian Dewi belum terungkap, aku harap kita bisa tahu siapa pelakunya, mungkin Mei tahu orangnya, jika kita bisa mencari informasi darinya maka kita akan tahu pelakunya," ucap Dewi sedikit kecewa.
Rasanya masih berat saat ia meninggalkan di mana ini adalah tempat ia berdiri di puncak, tapi negara ini juga membuat dia harus kehilangan segalanya, bahkan menghilangkan nyawanya, ia harus menyelesaikan ini semua dan setelah mendapatkan hartanya, barulah ia pindah dan menetap di negara A dan hidup sendirian.
"Kamu tidak perlu khawatir, aku punya pengawal di setiap negara, mereka akan mengurus masalah ini," ucap Zeiro menenangkan.
__ADS_1
"Tapi aku tidak tenang meninggalkan ini dan di urus oleh orang yang tidak tahu apa-apa, aku harus mengurusnya sendiri," ucap Dewi khawatir.
"Begini saja, para bawahan ku yang menyelidikinya, setelah tahu kita berangkat ke negara A, bagaimana menurut mu?" saran Zeiro.
"Tapi masalah dengan Andika ini belum selesai, pasti akan ada sidangnya jika dia tetap bersikeras untuk mendapatkan harta Dewi pembunuh," ucap Dewi lagi.
"Oh ya, kamu kenal notaris Dewi pembunuh nggak?" tanya Zeiro.
Dewi menundukkan kepala, tidak ada yang bisa ia percayaan lagi selain diri sendiri, bisa jadi mereka semua berkhianat dan menginginkan harta miliknya, bisa jadi mereka bekerja sama untuk membunuhnya karena hartanya, siapa yang bisa ia percaya lagi?
Melihat wajah Dewi sedih, Zeiro mendekati Dewi dan memindahkan kursinya.
"Kamu tidak perlu khawatir, aku pasti akan bantu sampai akhir," ucap Zeiro lembut.
"Tapi untuk masalah ini, aku nggak minta apa-apa kok, aku ikhlas beneran ingin bantu kamu," ucap Zeiro.
Dewi terdiam, yang ia pikirkan saat ini bagaimana cara menyelesaikan dengan cepat, masalah membunuhnya ia akan pelan-pelan selidiki, tapi untuk saat ini ia harus memperjuangkan harta miliknya, sedikit hartanya tak boleh tersentuh oleh mereka yang berusaha untuk mencurinya, mengunakan yang tidak-tidak, ia sungguh tak bisa membiarkan itu.
"Hm … aku punya ide, bagaimana kalau panggil wartawan dan membuka pers terbuka, aku akan menunjukkan surat wasiat ini di umum, dan sekalian menghancurkan Andika, karena surat-suratnya masih tersusun rapi di dalam tas ku," ucap Dewi.
"Baiklah, aku akan telpon pimpinan pers terlebih dahulu, untuk berkumpul di perusahaan ku, kita juga akan ke sana, tapi kamu makan dulu, biar kuat nanti ngomongnya," ucap Zeiro.
"Aku selalu kuat dalam segi apa pun," ucap Dewi manyun, ia mengambil piring bagiannya dan melahap makanannya.
__ADS_1
Zeiro kembali memegang rambut Dewi sambil tersenyum.
"Hey! Kau berhentilah main rambutku, apa hobi mu suka main rambut perempuan?" tanya Dewi menatap Zeiro tajam.
"Ini hobi baru ku, aku juga tidak pernah memegang wanita apa lagi mesin rambutnya, Dewi pembunuh yang dulunya aku suka, kami hanya sering bertatapan saja, tidak pernah berpikir untuk lebih dekat seperti ini. Lagian rambutmu sangat lembut dan wangi, apa aku aku akan ketagihan di dekat kamu terus?" tanya Zeiro sambil memainkan rambut Dewi.
"Akhhh! Jangan menggangguku makan, singkirkan tangan mu itu," ucap Dewi merasa risih.
"Baiklah, baiklah, habiskan makanan mu, aku akan menelpon pimpinan pers dulu," ucap Zeiro berdiri meninggalkan Dewi agar ia bisa makan dengan tenang. Zeiro merogoh saku jas untuk mengambil ponselnya lalu menelpon pimpinan pers.
Tuuut! Tuuut! Tuuut!
"Halo, Ada apa Tuan Zeiro? Ada yang bisa kami bantu?" tanya pimpinan pers tersenyum, karena di telpon oleh orang terkenal berarti mereka akan punya job besar.
"Iya, kalian silakan berkumpul di perusahaan ku sekarang juga, karena ada sesuatu yang harus aku sampaikan," ucap Zeiro.
"Baik Tuan, kami akan segera datang, nggak pake lama," ucap pimpinan pers tersebut dengan senang hati.
"Baiklah, jika begitu sampai jumpa nanti," ucap Zeiro menutup panggilannya.
Dewi berjalan yang langsung menarik tangan Zeiro menuju mobilnya.
"Ayo ke tempat penginapan ku dulu," ajak Dewi. Dewi duduk di kursi pengemudi, jika dia yang nyetir akan cepat sampainya.
__ADS_1