
"Tentu saja, semua orang yang di ketahui Dewi pembunuh aku tau semuanya," jawab Dewi.
"Kau benar-benar adik kesayangannya Dewi pembunuh ya," ucap Zeiro kembali fokus ke depan.
'He-he-he, akhirnya kau kena batunya. Semua orang tahu jika Joshi dan Dewi pembunuh mereka tidak akur, jika dia mengaku berteman baik Bram, dia dan Bram juga akan tetap bersalah, mereka akan di katakan pengkhianat di belakang Dewi pembunuh. Maju kena mundur pun kena,' batin Dewi menyunggingkan bibirnya.
"Wajar saja jika dia membunuh notaris Dewi pembunuh, secara mereka bermusuhan, kali ini dia pasti tidak akan bisa lolos dengan mudah," ucap Zeiro.
'Jika dia tahu jika aku yang pembunuhnya, entah bagaimana perasaanya,' batin Dewi melihat ke arah Zeiro.
"He-he-he biarkan saja dia buat drama, entah bagaimana dia dan Andika di pertemukan bersama dalam penjara," ucap Dewi menyengir.
"Katakan kenapa kamu membunuh notaris Dewi pembunuh?" tanya polisi mengintrogasi Joshi di ruang interogasi.
"Aku tidak membunuhnya!" teriak Joshi.
"Lalu kenapa ada namamu di kertas yang di tulis notaris Dewi pembunuh!" bentak polisi itu.
"Bisa saja itu adalah pesan terakhir yang ingin ia sampaikan pada ku tapi tidak ke sampaikan," jawab Joshi.
"Ya, itu pesan terakhir yang mengatakan jika kamu pembunuhnya, mana mungkin dia ingin menyampaikan sesuatu pada musuhnya," jawab polisi itu.
Benar juga, yang dunia tahu, dia dan Dewi pembunuh sudah berseteru cukup lama, tiba-tiba Bram ingin menyampaikan sesuatu padanya itu sangatlah aneh, Dewi pembunuh juga sudah meninggal, lalu siapa yang menjebaknya?
"Sudah aku katakan berulang kali, aku tidak membunuhnya, aku tidak melakukannya!" teriak Joshi membela diri.
__ADS_1
"Bagaimana?" seorang komandan masuk ke dalam ruang interogasi.
"Dia tetap tidak mau mengaku komandan," ucap polisi itu.
"Baiklah, masukkan dia ke dalam penjara bawah tanah, biar dia mau mengaku," perintah komandannya.
"Baik komandan," ucap polisi itu. Mereka pun memegang tangan Joshi dengan kuat dan menyeretnya ke ruang bawah tanah dan mengurungnya.
"Sial! Jika aku tidak mabuk aku tidak akan di tangkap seperti ini, lagian Bram kenapa bisa mati? Siapa yang membunuhnya? Setahuku dia selalu memakai baju anti peluru, kecuali jika dia di serang dari dekat, itu pastilah orang yang sangat kuat, sekelas dengan Dewi pembunuh, tapi Dewi pembunuh sudah meninggal," ucap Joshi berpikir keras.
Tak lama kemudian, Zeiro dan Dewi sampai di sebuah restoran, mereka pun masuk ke dalam dan duduk di kursi meja nomor 10.
"Lagi-lagi, nomor sepuluh, jangan bilang kamu sudah memesan meja ini?" tebak Dewi.
"Ya, tentu saja, mana ada ini kebetulan, kecuali takdir," jawab Zeiro.
"Ya, nggak dapat kakaknya, dapat adiknya tidak masalah," sahut Zeiro pelan.
"Apa maksud mu?" tiba-tiba pelayan restoran datang menghampiri mereka.
"Nona, Tuan, silakan pesan apa," ucap pegawai itu memberikan buku menunya.
Dewi melihat seluruh isi menu di buku itu dan mencari yang paling enak dan paling mahal.
"Aku pilih ini, 3 porsi, yang ini 2 porsi dan yang ini, 2 porsi, terima kasih," ucap Dewi tersenyum.
__ADS_1
"Aku sama dengannya tapi masing-masing hanya satu porsi saja," ujar Zeiro mengembalikan buku menu kepada pelayan restoran.
"Baiklah, harap menunggu," ucap pegawai itu tersenyum lalu kembali ke dapur.
"Kau ini seorang gadis, bersikaplah seperti seorang gadis," ucap Zeiro.
"Tidak perlu menasehati ku dalam hal makanan, lihatlah tubuh ini sangat kurus, aku harus mengisi lebih banyak energi agar kuat menghadapi para pengkhianat," jawab Dewi sambil bercekak pinggang.
"Jadi bagaimana keadaan Mei sekarang?" tanya Zeiro.
"Dia ya, dia sudah di bawa ke rumah sakit jiwa, ku rasa saraf otaknya sudah konslet, tapi saat ini aku sangat penasaran, Andika sangat percaya jika dia bisa menang karena ia kenal dengan pengacara, siapa orang itu? Apa orang yang di kenal Dewi pembunuh juga atau dia menyembunyikan seseorang?" tanya Dewi berpikir.
Zeiro memindahkan kursinya dan duduk mendekati Dewi lalu menatap kiri dan kanan memastikan jika tidak ada yang sedang mendengarnya.
"Katakan, jangan bilang kau yang membunuhnya," bisik Zeiro dengan suara yang sangat pelan dengan membata-batakan ucapannya.
Dewi terkejut, lalu melihat ke arah Zeiro. "Katakan saja di mobil nanti," ucap Dewi menatap Zeiro.
Zeiro tersenyum lalu memindahkan tubuhnya ke posisi semula.
"Sungguh gadis yang luar biasa, kau bahkan kau lebih pintar," puji Zeiro mengacungkan jempol.
Tentu saja dirinya kini lebih pintar, setelah di khianati oleh orang kepercayaannya, barulah ia menyadari jika tidak ada yang benar-benar setia, dulu dirinya hanya mengandalkan kekuatan untuk berada di puncak, sehingga ia di beri julukan yang sangat berarti, tapi itu ternyata membawanya kehancuran pada dirinya sendiri, kini ia tak mau lagi terjebak dengan masa lalu, kali ini ia akan memanjat ke puncak lagi tapi hanya mengandalkan dirinya sendiri tanpa mempercayai orang lagi.
Sudah cukup ia mati akibat di khianati, jika ia mati sekali lagi, ia berharap jika itu adalah takdirnya dan memang saatnya ia mati. Dewi ingin merubah hidupnya menjadi lebih baik lagi, ia hanya ingin hidup tenang tanpa siapa pun yang mengganggunya.
__ADS_1
Dewi menatap pria yang ada di hadapannya, sedangkan pria itu melihat ke luar jendela.