
Dewi melihat Zeiro datar, ini pria nggak ada takut-takutnya padanya.
Dewi pun kembali melahap makanannya dan segera menghabiskan porsi untuknya.
"Kamu makan sebanyak ini nggak takut gemuk?" tanya Zeiro.
"Aku takut kekurusan, nggak punya tenaga buat melawan musuh," jawab Dewi mengambil tissue dan menyeka mulutnya.
Setelah selesai makan, Zeiro membayarnya lalu mereka kembali masuk ke dalam mobil dan melanjut perjalanan menuju kantor Zeiro.
Sesampainya di kantor, mereka pun turun, Zeiro mendapat panggilan dari bawahannya.
Triring! Triring! Triring!
"Halo," jawab Zeiro.
"Tuan, kami sudah menyelamatkan keluarganya, hanya saja pengejar terhenti karena keberadaan Jhon tidak bisa di kami temukan, jadi untuk sementara waktu, kami memberhetikan pencariannya, mungkin akan lanjutkan besok, dan juga cuaca di sini tidak mendukung, kami juga belum mempersiapkan perlengkapan perjalan," ucap bawahan Zeiro.
"Tidak apa-apa, dia pasti bersembunyi suatu tempat, dan saat ini pasti belum berani keluar, lanjutkan saja besok. Untuk keluarganya itu, kirim mereka ke negaranya, dan beri tahu padanya jika keluarganya selamat," ucap Zeiro.
"Baik Tuan," jawab bawahannya. Zeiro memutuskan panggilannya.
__ADS_1
Zeiro melihat ke arah Dewi yang sedang duduk di kursi. Ia pun datang mendekat dan duduk di samping Dewi.
"Bagaimana jika kamu batalkan penjualan itu pada orang lain, biarkan aku membeli aset mu itu 1,5 kuadriliun," tawar Zeiro.
"Tidak, orang lain siapa pun boleh membelinya, tapi kau tidak boleh," tolak Dewi.
"Memangnya apa yang salah dengan ku sih?" tanya Zeiro tak mengerti.
"Pokoknya kau tidak boleh, itu rumah punya kenangan buruk, nanti keburukannya pindah pada mu," jawab Dewi.
"Aku tidak tahu jika aku sepenting itu di hati mu." Zeiro tersenyum manis.
"Haishh, lupakan itu," gerutu Dewi.
"Ya sudah, terserah kamu mau jual pada siapa, aku coba hubungi orang yang akan membeli aset mu ya, untuk menanyakan keberadaannya," ucap Zeiro. Dewi mengangguk.
Tuuut! Tuuut! Tuuut!
"Halo," jawab suara pria yang agak berat itu.
"Sudah sampai di mana?" tanya Zeiro.
__ADS_1
"Aku sekarang sedang berada di mobil untuk menuju perusahaan mu," jawab pria itu.
"Oke! Aku sedang menunggumu," jawab Zeiro. Panggilannya pun di putuskan.
"Sebentar lagi dia akan sampai, kau mau kopi?" tanya Zeiro.
"Boleh." angguk Dewi.
Zeiro memanggil pegawai untuk segera di buatkan kopi. Pegawai itu pun bergegas langsung ke dapur kantor.
"Hari ini setelah selesai penjualan aset mu, kita pulang ke negara A."
"Tapi sebelum itu, aku ingin ke kantor polisi untuk memastikan Andika dulu, aku berharap ia segera diputuskan hukuman untuknya," jawab Dewi.
"Baiklah, aku akan menemanimu."
Tak lama dari pegawai mengatakan kopi untuk Zeiro dan Dewi, seorang pria yang bertubuh besar memakai jas putih keabu-abuan datang masuk ke dalam ruangan.
"Saya ingin bertemu dengan Tuan Anda, bisakah Anda memberi tahu jika saya sudah sampai," pinta pria bersuara berat itu.
"Apa Anda sudah membuat janji pada Tuan sebelumnya?' tanya resepsionis.
__ADS_1
"Belum," jawab pria itu menggeleng.
"Jika begitu Anda harusnya buat janji dulu ya Tuan," ucap pegawai itu.