Transmigrasi Dewi Pembunuh

Transmigrasi Dewi Pembunuh
BAB 60


__ADS_3

"Terima kasih banyak Nona, terima kasih," ucap ibu itu menangis.


"Ini juga ada sedikit uang di dalam ATM ini, semoga juga bisa membantu anak-anak," ucap Zeiro memberikan kartu ATM kepada ibu itu.


Lagi-lagi ibu itu menangis. "Terima kasih kepada kalian berdua, semoga harta apa yang kalian beri hari ini akan kalian dapatkan dengan berlipat ganda," ucap ibu itu tak bisa membendung air matanya.


"Sama-sama, semoga anak-anaknya sehat semua dan kembali ceria lagi," ucap Zeiro. Ibu itu mengangguk sambil menyeka air matanya.


Zeiro dan Dewi memberi tahu kodenya dan mereka pun berpamitan untuk pergi.


"Hati-hati di jalan Nona, Tuan," pesan ibu itu mengantarkan mereka hingga di depan pintu.


"Baik, salam untuk anak-anak," ucap Dewi.

__ADS_1


"Pasti Nona," angguk ibu itu tersenyum.


Zeiro dan Dewi masuk ke dalam mobil, Dewi memilih untuk pulang ke penginapan.


"Aku tidak tahu ternyata Dewi pembunuh sangat berarti bagi anak yang berusia belia, dia memang pantas di sebut panutan masyarakat," ucap Zeiro tersenyum.


"Iya, tentu saja, dia itu bukan hanya kaya, baik, cantik, tulus, peduli, kuat, hebat, jago dan lain-lain," jawab Dewi menyengir.


"Kau memujinya berlebihan," ucap Zeiro.


Tak lama kemudian mereka pun sampai di depan penginapan Dewi. Dari kejauhan terlihat Mei yang berdiri di depan penginapan.


"Kenapa Mei ke penginapan mu?" tanya Zeiro.

__ADS_1


"Ha-ha-ha, paling dia ingin melabrak ku," jawab Dewi tersenyum sinis. Ia membuka sabuk pengamannya lalu keluar dari mobil dan menghampiri Mei. Karena penasaran, Zeiro juga ikut turun dan mengikuti Dewi.


"Kau! Kurang ajar! Beraninya kau cobloskan suamiku ke penjara! Dia salah apa pada mu!" teriak Mei dengan mata berkaca-kaca.


"Salah dia sungguh besar, bahkan tidak termaafkan, seharusnya kau juga ku cobloskan ke penjara bersama suami mu yang tersayang itu biar kalian hidup bahagia di penjara," ucap Dewi tertawa.


Terlihat Mei sangat marah, itu terlihat hidungnya memerah dan mengengam erat tangannya.


"Beraninya kau tertawa di di saat suami ku menderita di tahanan, dasar kau wanita tak punya hati! Kau lihat aku sedang hamil dan beraninya kau pisahkan anak dan ayahnya yang masih membutuhkan kasih sayang dari Ayahnya!" ucap Mei dengan suara parau.


"Apa kamu bilang! Justru kau tidak pantas menjadi manusia, kau dan suami bejat mu itu pengkhianat besar! Kau adalah adik sepupu dari Dewi pembunuh, tapi kau dan pacar Dewi pembunuh sudah berhubungan, belum lagi kuburan Dewi pembunuh kering, kau sudah hamil 5 bulan! Dewi pembunuh benar-benar sial mempunyai adik sepupu seperti mu dan punya pacar bejad seperti Andika! Seharusnya kalian yang mati, bukan dia!" balas Dewi dengan mata berapi.


"Aku … tapi siapa kamu yang peduli dengan hal ini! Dari mana fitnah yang dapatkan ini!" teriak Mei tak mau kalah.

__ADS_1


"Aku adalah Dewi Larasati, adik angkat dari Dewi Maha Putri, seluruh harta Dewi pembunuh akulah pewaris sahnya, bukan kau atau Andika. Dia memang sudah sepantasnya ada di penjara, karena beraninya mencuri harta milik Dewi pembunuh sedangkan Dewi sudah mempunyai ahli waris," ucap Dewi membelalakkan matanya.


"Apa! Ti-tidak mungkin, mana mungkin Dewi memberikan warisannya kepada mu! Kau pasti berbohong," ucap menggeleng kepala tak percaya.


__ADS_2