Transmigrasi Dewi Pembunuh

Transmigrasi Dewi Pembunuh
BAB 97


__ADS_3

"Kau meragukan kemampuan ku? Aku bisa melakukan apa pun yang aku mau, jika tertangkap itu mereka bukan aku, aku hanya menjadi korban saja di sana," jawab Dewi santai. Ia membuka kaca jendela mobil dan melihat keluar jendela sambil menopang dagunya.


"Aku tidak meragukan mu, hanya saja … ya sudahlah lakukan saja apa yang kau mau dan yang kau suka, asalkan tidak melukai mu," ucap Zeiro pasrah.


"Tapi bukankah aku katakan jangan temui aku lagi, kenapa kau mencari ku? Aku pergi dari mu berharap jika kau tidak menemui lagi," ucap Dewi dengan nafas berat.


"Tolong jangan katakan itu lagi, aku tak mau berpisah dari mu, tetaplah bersamaku, katakan saja siapa yang tidak kau suka maka aku akan memecatnya, katakan apa yang tidak kau suka dari ku maka aku akan merubahnya demi kamu," ucap Zeiro penuh harap.


"Lupakan itu, aku memang dari awal ingin menjauh dari mu, ini bukan kesalahan siapa, kau malah mengikuti ku seperti penguntit," jawab Dewi manyun.


"Terserah kau mau mengatakan ku apa, asalkan kau tidak menjauhiku." Zeiro terus memegang tangan Dewi dengan erat.


"Lepaskan tangan mu, dan fokuslah mengemudinya." Dewi melepaskan tangan Zeiro dan Zeiro menuruti ucap Dewi.

__ADS_1


Mobil terus melaju dan tak lama kemudian mereka pun sampai di kampus di mana tempat Dewi kuliah.


"Terima kasih sudah mengantar ku, aku masuk dulu, kau tidak perlu menjemput ku nanti, karena ada yang harus aku lakukan," ucap Dewi membuka pintu mobil.


Zeiro memegang tangan Dewi dan menatapnya penuh harap.


"Dewi, jangan melakukan hal melukai mu ya, aku percaya pada mu," ucap Zeiro. Dewi terdiam dan menatap Zeiro balik. Zeiro tersenyum lalu melepaskan tangan Dewi dan melajukan mobilnya di jalanan dan ia pun pergi entah kemana.


Melihat Dewi datang, para mahasiswa berdatangan.


"Astaga! Mereka ini," ucap Dewi mengerutkan hidung menyatukan alisnya.


"Iya Dewi, mulai hari ini aku akan jadi pengemar mu," ucap mereka yang berdesakan untuk meminta tanda tangan Dewi.

__ADS_1


"Oh ternyata sudah pulang dia ya, saat ini aku belum punya rencana untuk membalasnya, akan ku pikirkan nanti. Kalian bagaimana? Apa punya rencana?" tanya Anita kepada teman-temannya.


"Hm … kami juga tidak ada rencana dan tidak akan membuat rencana," jawab Karisa mengangkat dahinya.


"Apa maksud mu?" tanya Anita menekuk alisnya melihat Karisa.


"Anita, kamu lihat sendiri Kakak mu itu, di sudah terkenal di internasional dan melawan seluruh peserta yang berjumlah ratusan orang itu, hanya dengan kita 4 orang ini saja, apa yang bisa kita lakukan, aku rasa kemarin itu dia hanya mengerahkan 10% kekuatannya saja, jika dia mengerahkan 100% kekuatan mungkin kita sudah mati. Lagian kamu Adiknya kenapa kamu bahkan tidak tahu jika Kakak mu itu jago bela diri?" tanya Luna melipat tangannya.


"Lagian sudah tahu Kakak mu itu hebat, kamu masih nekat buat memprovokasi dia lagi? Kamu sungguh nggak kapok," sahut Ananda.


"Iya, kami nggak takut apa di bunuhnya diam-diam karena kamu terus mengusiknya," ucap Karisa.


"Sakit hati ku belum lepas, aku benar-benar ingin menghancurkannya." Anita mengengam erat tangannya.

__ADS_1


"Kalau kamu mau lakukan, lakukan saja sendiri kamu tidak mau ikut-ikutan, kami masih sayang nyawa," ucap Luna. Mereka pun meninggalkan Anita sendirian.


__ADS_2