
Dewi pun menyetop taksi yang biasanya memang sering lalu lalang di sana mencari penumpang.
Dewi pun masuk ke dalam.
"Mau ke mana Nona?" tanya supir mobil itu.
"Antarkan saya ke restoran," ucap Dewi.
"Baik Nona." angguk supir tersebut. Mobil pun melaju di jalanan.
Awalnya Dewi tidak curiga, tapi rasanya kenapa lama sekali sampai di restorannya. Ini adalah perkotaan, seharusnya banyak restoran di pinggir jalan. Yang ini malah masuk gang dan sampailah di gang buntu.
"Kenapa Anda membawa ku ke sini?" tanya Dewi.
"He-he-he, kamu sangat cantik, maukah menemani Abang barang sebentar?" tanya supir itu tersenyum mesum.
Dewi melihatnya datar. "Kau pasti sudah punya anak dan istri kan?" tanya Dewi.
__ADS_1
"Hm … punya sih, cuma … istri ku tidak mau meladeni ku dengan alasan capek ngurus anak-anak," jawab supir itu terlihat kesal.
"Aku peringatkan pada mu, jika kau masih sayang dengan anak mu dan masih ingin menafkahi anakmu, tolong jangan kurang ajar! Aku berbaik hati memperingatkan mu karena kau punya keluarga yang ingin di nafkahi," ucap Dewi memperingatinya.
"Ayolah sayang, kamu jangan malu-malu, di sini tidak ada orang kok, hanya ada kita berdua," ucap supir itu mengunci mobil itu dan melihat Dewi menyeringai.
Ia berpindah duduk dari depan dan mendekati Dewi yang duduk di kursi belakang.
"Matilah sayang, ayo kita lakukan di sini, masalah makan aku akan mentraktir mu," ucap supir itu ingin menggapai Dewi.
Dewi menangkap tangan pria itu dan menahannya agar tangan pria itu tidak kurang ajar padanya.
"Apa kamu tahu? Pria itu paling suka dengan wanita yang suka memberontak seperti kamu, pura-pura tidak mau tapi pada akhirnya menikmatinya," ucap supir itu mengangkat tangannya sebelah ingin menyentuh Dewi.
Dengan kuat, Dewi menendang pria itu hingga pria itu terpental keluar dan pintu taksi juga itu terbang.
Brakkkkkk!
__ADS_1
Bruk!
Pria itu mendarat di tanah sambil memegang bokongnya yang kesakitan.
"Aduh duh duh," rintih pria itu kesakitan.
"Sudah aku peringatkan pada mu, tapi kau tidak mendengarkannya, jadi terima pukulan ku ini agar kau sadar bahwa tidak semua wanita seperti yang kau pikirkan," ucap Dewi mendekati supir itu.
"Jangan! Jangan mendekat!" teriak pria itu ketakutan.
Dewi mengangkat tangannya lalu menghantam wajah supir itu hingga wajahnya bonyok dan hidungnya berdarah.
Dewi mengembuskan tinjunya. "Heh! Jika tidak begini kau tidak akan jera, jika kita bertemu lagi dan kau masih melakukan hal yang tidak senonoh seperti ini, jangan salahkan aku akan memotong anu mu! ancam Dewi menatap tajam supir itu.
"Tidak, tidak ampuni saya, saya tidak akan pernah melakukannya lagi," ucap supir itu sambil menangis dan memohon.
"Kau lebih baik pulang dan minta maaf pada istri dan anak mu, jangan memohon pada ku karena bisa jadi ini adalah doa dari istri mu," ucap Dewi meninggalkan supir itu.
__ADS_1
Dewi pun keluar gang dan melihat ke kiri dan kanan untuk mencari tempat makan. Karena hari sudah sore juga. Dan terlihat lah di seberang jalan ada restoran yang tidak terlalu mewah juga tidak terlalu sederhana.