
Dewi pun mengirimnya ke luar negeri dan itu sudah di view jutaan orang dalam sekejap dan menawarkan berbagai harga.
"Sudah aku bilang, kalau tidak ada uang sebanyak 1 kuadriliun jangan menawar, mereka masih saja menawar kalau tawarnya dua kuadriliun aku akan terima," ucap Dewi mendengus kesal.
Triring!
Triring!
Triring!
Ponsel milik Zeiro berbunyi dan segera mengangkatnya
"Halo," jawab Zero.
"Aku ingin membeli rumah milik Dewi pembunuh, aku akan membelinya 1,2 kuadriliun." terdengar suara pria yang agak berat.
"Baiklah, kapan kita bisa bertemu," ucap Zeiro.
"Aku besok akan terbang ke sana," jawab pria itu.
"Baik, akan aku tunggu di perusahaan ku," ucap Zeiro mengangguk.
"Baiklah," ucap pria itu memutuskan panggilannya.
"Ada yang menawar?" tanya Dewi.
__ADS_1
"Ya, 1,2 kuadriliun, apa itu harga pantas?"
"Tapi jika ada yang menawarkan lebih apa salahnya," jawab Dewi melipatkan tangannya.
"Sifat mu itu sungguh mirip sekali dengan Dewi pembunuh, jangan bilang kamu adik kandung Dewi pembunuh tapi belum di ketahui identitas mu," tebak Zeiro.
'Ayolah, aku memang Dewi pembunuh yang sebenarnya, tentu saja sifat asliku tidak berubah, aku juga tidak punya adik kandung, adik sepupuku saja ku anggap musuh karena berani berkhianat,' batin Dewi sambil melihat Zeiro sayup.
"Terserah kamu menganggap aku apa, aku mau lanjutkan pekerjaan ku dulu," ucap Dewi kembali menghadap ke laptop dan mengembalikan akun palsunya.
Dewi tersenyum puas karena banyak berita miring tentang Andika dan Mei.
"Rasakan itu, terima akibatnya, berani berkhianat terima hukuman mu, makan itu pengkhianatan kalian," ucap Dewi tersenyum sinis.
Andika masih dalam pemeriksaan, Mei sudah kehilangan anaknya, tapi rasanya itu semua belum puas bagi Dewi, ia benar-benar ingin menghancurkan semua yang berharga dalam hidup mereka, termasuk orang-orang yang mendukung mereka Dewi tidak akan melepaskannya.
"Tentu saja boleh, tapi aku tidak mau bayarannya uang karena uang ku sudah menumpuk banyaknya binggung mau bagaimana menghabiskannya," ucap Zeiro tersenyum lebar.
"Bilang saja kau pamer, katakan mau apa," ucap Dewi.
"Cium aku, akan ku berikan mobil itu untuk mu," ucap Zeiro tanpa basa-basi tanpa malu-malu.
"Tidak perlu, aku hanya ingin sewa, aku bisa beli mobil sendiri nanti," jawab Dewi datar.
"Baiklah, baiklah, tidur dengan ku malam ini, aku janji tidak akan menyentuhmu, akan ku berikan mobil untuk mu," ucap Zeiro.
__ADS_1
Dewi menatap Zeiro dengan tatapan membunuh lalu tersenyum menyeramkan. "Baiklah, tapi aku tidak yakin jika besok paginya kau akan bangun dengan selamat."
"Ya udah, ayo, aku ikut dengan mu," ucap Zeiro berdiri terlebih dahulu.
"Tidak, aku ingin pergi sendiri saja, tidak perlu kamu mengikuti ku seperti penguntit," ucap Dewi merogoh kantong celana Zeiro untuk mencari kunci, akan tetapi tiba-tiba saja mereka terdiam sambil berpandangan.
"Aaaaaaaa!" jerit Dewi menarik kembali tangannya mata dengan kedua tangannya.
Zeiro membuang wajahnya ke samping berdehem dengan wajah memerah.
"Hm, ini kuncinya," ucap Zeiro mengulurkan kunci mobil tapi tidak melihat ke arah Dewi. Dewi merampasnya lalu pergi berlari keluar dari ruang utama kantor Zeiro.
"Sial! Aku malah memegang anunya," ucap Dewi buru-buru masuk ke dalam mobil dan tanpa pikir panjang lagi ia melakukan mobilnya.
Zeiro duduk di sofa dengan menopang dagu dengan kedua tangannya.
"Gadis itu, apa dia sengaja membuatku bergairah?" Zeiro berjalan menuju tempat tidur yang sudah tersedia di kantornya yang luasnya mencapai 20 meter persegi itu.
Ia merebahkan tubuhnya lalu memejamkan mata membayangkan hal-hal indah bersama Dewi sambil tersenyum.
"Astaga! Aku ini kenapa?" tanya Zeiro memegang kepalanya. "Mungkinkah aku di mabuk cinta?"
Dewi menarik nafasnya lalu membuangnya dengan pelan, jika di ingat lagi itu sungguh memalukan, ya sepenuhnya adalah kesalahannya karena berani merogoh kantong Zeiro. Bagaimana ia akan bertemu dengan Zeiro nanti? Itu pasti akan sangat canggung.
"Ah sudahlah, pikirkan saja nanti saat menghadapinya, sekarang masih ada di depan mata yang harus aku selesaikan," ucap Dewi mencoba fokus dengan tujuan awalnya.
__ADS_1
Dewi mengemudi mobilnya menuju rumah sakit di mana Mei berada untuk melihat bagaimana keadaanya. Sesampainya di sana terlihat seorang wanita yang di seret menuju rumah sakit jiwa yang tidak jauh dari rumah sakit besar itu, yang hanya berjarak 40 meter.
"Aku tidak gila! Aku tidak gila! Dia yang gila! Dia yang bunuh anak ku! Dia yang bunuh anakku!" teriak Mei meronta-ronta berusaha melepaskan diri.