
Ehem...
Wanita itu berdehem karena Lily tidak menyadari kehadirannya. Dia duduk di sofa dengan gaya yang sangat elegan. Kedua kakinya yang jenjang terlihat rapat dan dimiringkan sedikit. Semakin menambah daya tariknya dan menunjukkan keangkuhannya.
Mendengar suara yang tiba-tiba itu membuat Lily terkejut. Lily menyipitkan sebelah matanya memperhatikan wanita itu. Sungguh wanita yang sangat cantik. Rambut pirangnya tergerai hingga ke pinggang. Polesan merah di bibirnya sangat cocok dengan warna kulitnya yang putih. Lily memperhatikannya dengan seksama. Wanita di hadapannya bukanlah seorang wanita yang biasa. Dia memakai gaun yang tentunya sangat mahal dan beberapa perhiasan mewah. Yang menjadi pertanyaan Lily 'Bagaimana dia bisa masuk ke ruangannya?' . Lily segera menghalau pikiran itu.
Aura kutub selatan mulai berpindah ke ruangan Lily. Ada sebuah dorongan yang membuat Lily tak ingin melangkahkan kakinya ke sofa dan duduk berhadapan dengannya. Bukannya Lily tidak sopan, tapi salah wanita itu sendiri yang masuk tanpa permisi dan duduk di sofa ruang kerjanya. Lily memilih duduk kembali di kursi kerjanya.
Ekspresi wajah wanita itu sempat terkejut melihat reaksi Lily. "Tidak sopan sekali dia." ucapnya dalam hati.
"Kau mungkin terkejut melihatku." ucap wanita itu dengan nada angkuhnya.
Pandangan mata Lily menatap lekat kedua matanya bahkan tidak merespon sama sekali perkataannya.
"Aku tidak akan basa basi lagi. Namaku Amber White, dan aku adalah istri sah dari Zack Alexander. Aku ingin kau tidak berhubungan lagi dengan Zack dalam hal apa pun itu." Ancam Amber sambil membulatkan kedua matanya.
Tik... Tok ... Tik ... Tok ...
Kali ini kutub selatan benar-benar pindah ke ruangan Lily. Keadaan sangat hening untuk beberapa saat.
"Apa yang dipikirkan wanita ini? Kenapa dia diam saja. Bukankah seharusnya dia menangis atau apalah yang membuatnya histeris". Amber bermonolog di dalam hatinya.
Lily bangkit dari kursi kerjanya dan berjalan melangkah keluar. Lily meraih gagang pintu dan memutarnya. Pintu itu terbuka separuhnya.
"Kau bisa pergi sekarang, NYONYA!" ucap Lily penuh penegasan dan menekankan kata 'nyonya'.
Perasaan serba salah dan marah mulai merasuki Amber. Serba salah karena shock mendapat respon Lily di luar dugaannya. Marah karena dia diusir oleh seorang wanita yang tak berharga di matanya. Harga diri tinggi dan gengsi yang dimilikinya membuat dia semakin membenci Lily. Lily telah menjatuhkan harga dirinya secara tidak langsung.
Amber mengambil tas tangannya yang tergeletak di atas meja. Dia melangkahkan kakinya keluar. Tepat di hadapan Lily, dia berhenti dan berkata "Kau akan menyesalinya."
Langkahnya terhenti saat sebuah tangan mencengkram lengannya sangat kuat.
Cengkraman itu berasal dari tangan Lily. Lily sengaja melakukannya agar Amber tahu bahwa Lily bukanlah seorang yang mudah ditindas.
"Aku tidak pernah menyesali apapun yang telah terjadi dan yang mungkin akan terjadi nanti. Mengenai Zack, mungkin aku akan merebutnya darimu." ucap Lily sambil menunjukan senyuman yang licik.
"Kauuu...!" Amber terkejut dan menghempaskan tangan Lily. Amber sedikit tergoyahkan dengan gertakan Lily. Lengan kirinya sedikit berdenyut. Dia pergi meninggalkan Lily dengan amarah yang tertahan. Dia adalah seorang nyonya Alexander. Akan sangat memalukan jika dia ribut di kantor klien suaminya.
Ruang kerja Lily
__ADS_1
Kedatangan Amber yang seperti hantu itu membuat hati dan jantung Lily tak beraturan. Lily berusaha sekuat tenaga untuk terlihat kuat. Dia tak ingin Amber meremehkan dan menindas nya.
Lily menutup pintu ruang kerjanya dan melangkah masuk ke dalam. Baru saja Lily ingin merebahkan dirinya di kursi, pintu ruang kerjanya kembali terbuka dan menampilkan sosok Rafa. Lily menatap Rafa dengan malas dan berkata "Bisa-bisanya kejadian yang barusan terulang lagi. Keknya nanti mau minta tolong mang Ujang ganti kursi deh."
"Kenapa mau diganti, Ly?" tanya Rafa bingung.
"Hari ini udah dua kali kejadian. Tiap kali mau duduk hampir ngga jadi terus. Pertama nenek sihir yang datang. Kedua, eeelluuu." jelas Lily malas.
"Eh, iya. Elu ngga apa-apa, Ly?" Rafa terburu-buru ke ruang kerja Lily untuk memastikan sahabatnya baik-baik saja. Rafa yang baru mengetahui Amber datang menemui Lily segera menghampiri sahabatnya itu. Informasi itu dia dapat dari Mang Ujang.
Flash back on
Setelah dari ruang meeting, Rafa berencana akan pergi dengan Bram untuk menemui klien. Mereka sedang berdiskusi dan mempersiapkan berkas-berkas yang akan dibawa.
Tok... tok ... tok ...
"Masuk." perintah Rafa.
Mang Ujang masuk kedalam sambil menganggukkan kepalanya "Permisi tuan Rafa , Den Bram. Ini kopinya." ucap Mang Ujang sembari meletakkan dua cangkir kopi yang masih panas di atas meja.
"Oiya tuan." ucap Mang Ujang sambil berdiri memegang nampannya, "Bentar lagi kan makan siang. Jadi mau dianterin ke ruangan atau di pantry?" tanya Mang Ujang dengan sopan.
"Ngga usah, Mang. Saya dan Bram akan makan siang di luar sekalian mau ketemu klien." jelas Rafa.
"Kalau tamu yang ada di ruangannya non Lily, bagaimana tuan? Apa di anterin makanannya? Terus makanan berat atau ringan, tuan?" Mang Ujang bertanya panjang lebar.
"Tamu?" tanya Rafa. Rafa berhenti dari kegiatannya.
"Iya ... tamu, tuan. Cewek. Cakep. Kulitnya putih. Yang pasti bule, tuan" jelas Mang Ujang.
Mendengar penjelasan Mang Ujang membuat Rafa langsung berlari meninggalkan ruangannya. Itu pasti Amber. Aarrghhh... Semoga saja aku tidak terlambat. Rafa berkata dalam hati.
Seorang wanita terlihat berjalan cepat, keluar dari ruang kerja Lily. Rafa sempat melihat Lily mencengkram tangan Amber. Rafa tidak menyangka jika Amber akan secepat itu menghampiri Lily.
Flash back off
"Ngga jadi duduk, Ly?" Rafa mencoba berbasa-basi.
"Ya jadilah. Tapi di sofa." jawab Lily sambil berjalan ke arah sofa.
__ADS_1
"Gue baik-baik aja, Fa. Lebih baik malahan. Untung kemaren lu udah infoin ke gue tentang anak sama istirnya si Zack. Jadi gue udah ngga terlalu kaget. Cuma yaa... di datangin tiba-tiba kek gitu juga, gue jadi kaget kan. Udah kek jelangkung aja tu nenek sihir. Datang tak di undang, pulang.. ya...pulang sendiri plus gue usir." terang Lily.
Haaa...haaa...haaa...
Suara tawa Rafa akhirnya memecahkan aura kutub selatan di ruang kerja Lily. Perang dingin antara Lily dan Amber membuat kutub selatan otomatis berpindah.
"Hebat lu, Ly! Keknya khawatir gue percuma deh." kekeh Rafa sambil menepuk pundak Lily.
"Udah ketawanya?" tanya Lily malas.
Rafa berusaha menenangkan dirinya. Dia tak ingin membuat Lily tambah kesal.
"Lu ikut gue aja sama Bram ketemu klien. Sekalian MAKSI." tawar Rafa.
"MAKSI apaan?". tanya Lily yang kemudian menautkan kedua alisnya hingga bertemu.
"MAKAN SIANGGG, LILYYYY...." Rafa sengaja berkata sedikit keras di telinga kiri Lily.
"iiiisshhh... berjoget nie entar gendang telinga gue." balas Lily sambil mengusap telinga kirinya.
Lily menerima tawaran Rafa dengan senang hati. Lily bergegas merapikan dirinya dan bersiap pergi. Saat ini ditraktir Rafa lagi sangat menguntungkan baginya karena usia dompetnya bisa bertambah beberapa hari Selain itu, dia sangat butuh udara segar setelah melewati situasi pagi ini. Situasi yang dipaksa untuk dimengerti, tapi Lily sendiri kurang mengerti akan situasi dan keadaannya.
Dua puluh lima menit kemudian ...
Rafa, Lily, dan Bram telah tiba di restoran. Mereka sudah memesan menu makan siang mereka masing-masing. Tak berapa lama, sang pelayan wanita mengantarkan satu per satu pesanan mereka. Setelah wanita itu selesai mengantarkan semua pesanan mereka. Mereka baru sadar jika meja makan kini penuh dengan berbagai menu makanan.
"Oh my God... Rafa. Lu mau buka meja prasmanan, ya!". Lily terperangah melihat hampir semua menu yang di restoran itu ada di meja makan mereka. Menu-menu itu tertata rapi dan sangat menggiurkan.
"Udahhh...makan aja. Ntar yang terakhir makan yang harus bayar." Rafa berujar dan memulai ritual makannya.
Bukk...
Lily menginjak kaki Rafa. Walaupun tidak kuat, tapi lumayan juga rasanya.
"issshh ... kau itu, kalo udah bilang mau traktir, pasti ujung-ujungnya begitu. Kek ngga ikhlas aja " Lily terlihat kesal dengan perkataan Rafa.
Mereka makan dengan lahapnya. Menu makan yang tadinya sangat banyak mulai menipis. Lily menggunakan kesempatan ini dengan sangat baik.
Baru menikmati makanannya beberapa suap, Lily dikejutkan dengan dua orang sejoli yang tak ingin Lily lihat dan temui. Pasangan itu baru saja memasuki restoran. Cukup sudah hari ini. Jangan sampai ada insiden yang ke tiga. Geram Lily dalam hati sambil memperhatikan mereka.
__ADS_1
~Hai my lovely readers. Aku ada novel yang recommended loh! Yukss mampir...~