
Sepulangnya dari rumah sakit. Zack dan Lily tidak berbicara seperti biasanya. Hanya celotehan Emily yang membuat mereka berbicara. Suasana canggung sangat terasa berada di antara mereka.
Zack larut dalam pikirannya sendiri. Mencari cara agar Emily kembali tidur di kamarnya sendiri. Gurauan Rafa sedikit membuatnya tersinggung. Makna di balik ucapan Rafa yaitu secara tidak langsung mengatakan bahwa dia tidak mampu melakukan malam pertama. Kali ini, Zack bertekad. Malam ini dia harus berhasil membuka segel Lily.
Beda halnya dengan Lily. Dia bingung dengan keadaan saat ini. Awalnya dia sangat bersyukur Emily tidur bersama mereka karena dia belum siap untuk melakukan malam pertama. Akan tetapi, Lily tidak menyangka jika Emily akan keterusan tidur bersama mereka.
Tanpa Lily sadari, usia pernikahannya dan Zack sudah berjalan tiga bulan. Pernah suatu waktu Zack bersikap lebih romantis dari biasanya. Lily tahu jika Zack ingin mencoba merayunya untuk melakukan kontak fisik. Bukannya Lily ingin menolak. Akan tetapi, saat itu tamu bulanannya sedang mampir.
Setelah tamu bulanannya pulang, giliran Zack yang harus melakukan perjalanan ke luar negeri karena salah seorang klien tidak ingin menandatangani surat perjanjian kerjasama antar perusahaan tanpa kehadiran Zack. Begitulah biduk pernikahannya selama tiga bulan terakhir.
"Sampai. Em mau cepat-cepat!" seru Emily. Tubuhnya sudah bergoyang kesana-kemari ingin segera turun dari pangkuan mommy nya.
"Em mau ke kamar mandi?" tanya Lily sambil membantu sang putri turun dari pangkuannya.
"No, mommy," jawab Emily. Sepasang kaki mungilnya berhasil mendarat ke tanah dengan sempurna. Gadis kecil itu mulai berlari kecil sambil memanggil Nana.
"Em kenapa?" tanya Zack yang sudah berdiri di samping Lily.
"Entahlah. Dia terburu-buru masuk ke dalam. Aku pikir dia ingin ke kamar mandi," jawab Lily.
__ADS_1
Zack merangkul pinggang Lily, mengajaknya berjalan masuk ke dalam mansion bersama. Sesampainya di kamar utama. Mereka dikejutkan dengan tingkah Emily yang terlihat sangat sibuk. Gadis kecil itu berjalan kesana kemari sambil memerintahkan beberapa pelayan untuk membantunya.
"Wow. Putri ayah sedang apa?" tanya Zack bingung sambil melepas rangkulan di pinggang Lily. Zack berjalan menghampiri Emily.
"Em mau pindahan," jawab Emily tanpa menghentikan langkah kakinya.
"Pindahan?" Lily mengulang kembali ucapan Emily.
"Iya mommy. Em mau pindahan," jawab Emily singkat tanpa menoleh ke arah Lily. Emily sibuk mencari barang-barang miliknya sendiri. Dia tidak ingin ada satu pun yang tertinggal saat pindahan.
"Pindahan ke mana?" tanya Zack bingung sambil berjongkok dan menahan Emily dengan kedua tangannya. Gadis itu kini berada di dalam dekapan sang ayah.
Mendengar jawaban Emily membuat Zack ingin berteriak riang. Susah payah dia memikirkan cara untuk memisahkan Emily dari mereka. Ternyata, si buah hati berinisiatif sendiri untuk pindah.
"Daddy, jangan peluk-peluk Em! Nanti Em bisa lama pindahannya," protes Emily.
"Ok," jawab Zack yang disertai dengan melepas Emily.
"Jangan ganggu Em lagi, ok!" tegas Emily.
__ADS_1
"Siap tuan putri," ucap Zack sambil mengangkat sebelah tangan sebagai tanda hormat.
"Good boy," jawab Emily sambil berlalu.
Lily masih setia berdiri di dekat pintu kamar. Dia terperangah mendengar percakapan antara ayah dan anak. Apalagi Emily dengan santainya mengatakan good boy pada Daddy nya sendiri.
Sebuah pikiran terlintas. Lily baru menyadari jika Emily kembali ke kamarnya. Artinya, dia dan Zack akan tidur bersama. Wajah Lily langsung memerah memikirkan yang akan terjadi nanti malam. Dia tidak bisa mengelak. Belum lagi hari ini bertepatan dengan tamu bulannya yang sudah usai kemarin.
Lily segera menghambur ke kamar mandi. Dia tidak ingin Zack melihat wajahnya yang sudah memerah seperti tomat. Kadang Lily sedikit kesal dengan reaksi tubuhnya jika mendengar sesuatu yang sensitif, terutama wajah.
Tak ingin membuat curiga, Lily memutuskan untuk berendam di sore hari. Dia butuh menyegarkan pikiran dan tubuhnya. Kurang lebih hampir satu jam gadis itu berendam. Waktu yang dia habiskan untuk berendam bukanlah waktu yang lama. Biasanya dia bisa menghabiskan waktu hingga dua sampai tiga jam. Di saat terserang gugup, berendam adalah solusi terbaik.
Lily keluar dari kamar mandi dengan mengenakan jubah handuk. Dia cukup terkesima melihat suasana kamar yang sepi seketika. Tidak ada Emily yang dari tadi sibuk pindahan. Lily tersenyum saat mengingat tingkah Emily yang sibuk pindahan. Padahal hanya pindah kamar saja.
Untung saja saat pindah ke mansion yang baru ini, mereka masih berada di hotel. Dapat dia bayangkan bagaimana sibuknya Emily yang mondar-mandir pindahan.
Lily melangkahkan kaki menuju tempat tidur. Dia merebahkan tubuhnya tanpa mengganti pakaian. Kasur terasa sangat empuk dan nyaman. Dia mengerakkan tangan dan kaki seolah sedang terbang seperti burung, merasakan empuknya kasur.
Kasur hari ini terasa sangat berbeda dari sebelumnya. Padahal kasur yang digunakan adalah kasur yang sama. Mungkin karena penghuni kasur berkurang satu. Lily menelungkup kan tubuh sambil memeluk guling.
__ADS_1
Lily tak menyadari akan kehadiran seseorang. Sepasang mata itu menatap tajam pada tubuh Lily. Dia menikmati setiap gerakan yang dilakukan Lily di atas kasur.