Truly Madly Love

Truly Madly Love
Bab 49. Hari ke-1


__ADS_3

Zack tersenyum senang mendengar laporan dari Leon. Sesuai dengan dugaannya, pasti ada yang salah denan Amber.


"Tuan, apa anda masih mendengarkan ku?" tanya Leon.


"Tentu saja. Kau pikir aku akan langsung menutup telponnya," tukas Zack.


"Biasanya seperti itu tuan," jawab Leon dengan polosnya.


"Mau ku putuskan sambungan telpon mu sekarang?" tanya Zack datar.


"Eits tuan, jika anda memutuskan sambungan telpon ini sekarang, anda tidak akan mendengarkan informasi yang terakhir," jelas Leon.


Pantas saja asistennya itu berani mempermainkannya. Dia belum selesai memberikan informasi padanya.


"Tuan, aku harap anda siap mendengarnya. Brandon meminta nyonya Amber menyerahkan Emily dalam waktu tiga hari. Jika dalam tiga hari nyonya Amber tidak membawa Nina muda Emily padanya, dia akan mendatangi mansion anda, tuan."


Informasi terakhir yang diterima Zack berhasil membuatnya murka. "Siapa dia berani mengambil putriku," ucap Zack dalam hati.


"Brandon tahu jika nona muda Emily bukanlah darah dagingnya. Dia ingin nona Emily menggantikan anaknya yang telah digugurkan oleh nyonya Amber," jelas Leon lagi.


"S**t!" umpat Zack. Dia menghempaskan ponsel keatas kasur king size miliknya.


"Halo, tuan. Halo!" seru Leon. Kemudian dia memutuskan panggilan telponnya.


Zack berjalan mondar-mandir di pinggir tempat tidurnya.


"Kau berhutang banyak padaku Amber, argh!" teriaknya frustasi.


Dia harus berpikiran jernih. Saat ini fokus utamanya adalah Emily, putri kecilnya. Dia meraih ponsel yang tadi dilemparnya. Dia harus segera menghubungi Jimmy, ketua tim Beta.


"Jimmy, perketat semua keamanan di mansion. Taruh beberapa pengawal profesional di setiap sudut pekarangan bahkan jika perlu taruh tiga orang penembak jitu!" perintah Zack.


"Baik tuan!"


Jimmy yang mendengar perintah langsung dari tuannya segera mempersiapkan beberapa orang kepercayaannya dan penembak jitu. Dia juga menambah beberapa CCTV bahkan empat buah drone yang diterbangkan untuk mengambil visual area sekitar mansion.

__ADS_1


Setelah selesai menghubungi Jimmy, dia berniat untuk menghubungi Nana. Rasa khawatir menyelimuti hatinya. Dia ingin menyembunyikan Emily, bahkan jika bisa ingin dia memasukkan Emily ke dalam tubuhnya agar tidak dapat diraih oleh siapapun. Sungguh pemikiran yang sangat tidak mungkin. Tapi begitulah rasa sayang seorang ayah pada putrinya.


Mengingat sudah lewat tengah malam, Zack mengurungkan niatnya. Dia tidak ingin mengganggu waktu tidur Nana. Dia juga harus bisa mengendalikan dirinya. Jangan sampai emosi yang meledak merajai dirinya hingga dia tidak bisa mencari solusi yang baik untuk masalah ini.


Emily saat ini sedang dalam keadaan bahaya. Akan tetapi, dia masih aman berada di ruang bawah tanah. Ayahnya sendiri tidak bisa menemukan keberadaan Emily setiap kali dia datang untuk melihatnya. Zack tidak pernah membiarkan ayahnya menemui Emily.


Dia berjalan ke arah rak minuman dan mengambil sebotol wine. Setidaknya dengan meminum sebotol wine bisa mengantarnya tidur malam ini.


* * *


Keesokan paginya di mansion Zack.


Cahaya mentari bersinar sangat terik pagi ini. Jendela kamar Amber yang terbuka lebar tanpa ditutupi gorden berhasil membawa sinar itu masuk kedalam tanpa hambatan. Meskipun masih terpejam, tapi sinar matahari pagi itu berhasil menyentuh Indra penglihatannya.


Dia merasa sangat silau dan perlahan terbangun. Seluruh tubuhnya pegal-pegal. Dia meregangkan semua otot tubuhnya, dan duduk di tempat tidur.


Dia meraih ponsel yang berada diatas nakas samping tidur. Dibukanya ponsel itu dengan dua ketukan pelan.


10.33


Selesai dengan ritual mandinya, dia segera mengenakan salah satu gaun favoritnya.


Ting ... Ting ...


Bunyi notifikasi ponselnya. Dia meraih ponsel diatas nakas tadi dan melihat siapa yang mengiriminya pesan. Pesan itu berasal dari nomor yang tidak dikenal. Dia membuka isi pesan dan membacanya. Ponsel ditangannya terjatuh ke lantai dengan bunyi yang tidak terlalu kuat. Untung saja jatuhnya diatas karpet berbulu. Jika langsung ke marmer, sudah dipastikan layarnya akan retak.


Dia sampai menutup mulut dengan kedua tangan. Isi pesan itu membuat dirinya teringat akan kejadian semalam dan tenggat waktu yang diberikan oleh Brandon padanya.


..."Amber, Aku hanya ingin mengingatkanmu. Waktu satu harimu sedang berjalan."...


Brandon


Isi pesan singkat itu yang berhasil mengguncang tubuh Amber.


"Bagaimana dia bisa mendapatkan nomor ponselku?" tanya Amber dalam hati.

__ADS_1


Pandangan matanya mulai kabur. Tubuhnya merosot ke lantai. Pagi yang cerah hari ini ternyata tidak mau berteman dengan suasana hatinya yang sangat kalut.


Selama tiga tahun terakhir ini yang membuatnya bisa bertahan dan berada disisi Zack adalah Emily. Meskipun dia tidak menyayangi gadis kecil itu. Setidaknya, gadis kecil itu bisa dimanfaatkan olehnya.


Semuanya menjadi sangat kacau saat dia tanpa sengaja bertemu dengan Brandon di hotel itu. Dia menyesal kenapa harus mengikuti Zack malam itu. Padahal sebelumnya dia tidak pernah peduli kemanapun laki-laki itu pergi.


"Lily," ucapnya sendiri.


Ya benar. Dia menyalahkan Lily atas semua yang telah terjadi. Dia mengikuti Zack karena curiga jika Zack bertemu dengan wanita murahan itu. Jika saja Lily tidak kembali muncul atau mereka tidak kembali ke Indonesia, pasti kehidupan rumah tangganya masih normal seperti biasanya. Bahkan mungkin sekarang dia akan mengandung lagi seperti permintaan ayah mertuanya.


"Semua gara-gara kau! Gara-gara kau, Lily! Tunggu saja pembalasan dariku. Argh ...!" Teriak Amber.


Teriakannya bahkan terdengar di pintu luar kamarnya. Saat itu seorang maid ingin mengantarkan sarapan untuknya. Dia ingin mengetuk pintu kamar nyonya Amber sebelum memasukinya. Tapi dia segera mengurungkan niatnya ketika mendengar suara teriakan dari dalam kamar itu. Meskipun dari luar tidak terlalu kuat tapi maid itu cukup jelas mendengarnya.


Dia segera turun ke bawah dengan kedua tangan yang memegang nampan berisi makanan. Dia tidak ingin menjadi bahan amukan nyonya Amber. Lebih baik dia menyelamatkan dirinya saat ini.


Setelah puas dengan keluhannya. Amber segera membersihkan wajahnya dari sisa air mata. Dia merapikan gaunnya yang terlihat kusut dan memoles wajahnya sedikit. Dia tidak ingin para maid melihatnya seperti itu.


Amber membuka pintu kamarnya dan melangkahkan kakinya keluar. Dia menuruni anak tangga dengan gaya sombongnya. Maid yang tadi tidak jadi mengantar makanannya, berpura-pura tidak melihat ke arahnya.


Amber berjalan menuju ruang makan. Saat ini perutnya sangat lapar. Dia ingin segera mengisi perutnya agar bertenaga menghadapi seorang rubah betina. Dia menarik kursi makan di bagian tengah dan duduk.


"Siapkan makananku!" perintahnya pada seorang maid.


"Baik nyonya," jawab maid itu dengan sopan sambil menundukkan kepalanya sedikit. Dia berjalan menuju dapur mansion.


"Tunggu! Di mana nona muda kalian?" tanya Amber.


"Maksud anda, nona Emily?" tanya maid.


"Tentu saja. Memangnya ada nona muda yang lain selain dia," cecar Amber.


"Astaga, ibu mana yang tidak menyayangi putrinya sendiri. Menyebut nama putrinya saja, dia enggan." Maid itu bermonolog didalam hatinya.


"Nona muda Emily dibawa pergi liburan oleh tuan, nyonya."

__ADS_1


"Apa? Kapan? Bagaimana bisa?" Amber mencecar maid itu dengan tiga pertanyaan.


__ADS_2