
Amber meminta Zack untuk menjemputnya di mall. Zack terpaksa menjemputnya karena Emily saat ini sedang sakit. Dia juga ingin melihat ketulusan Amber terhadap Emily. Dia meminta Amber untuk menunggu di depan pintu mall. Dia sangat malas untuk masuk memarkirkan mobilnya.
Saat itu Zack mengambil telponnya, dia ingin memberitahu Amber bahwa mobilnya akan segera tiba. Pandangan Zack mengarah ke depan, tempat dimana Amber berdiri. Perhatiannya bukan kepada Amber, melainkan seorang gadis yang terlihat sangat cantik yang berdiri di belakang Amber.
Hatinya seketika menghangat melihat wajahnya lagi. Kehangatan hati nya menghilang ketika dia melihat seorang pria yang tadi pagi di lihatnya berdiri tak jauh dari Lily.
Zack tidak sempat menghubungi Amber. Dia memarkirkan mobilnya di parkiran luar saja. Baru saja dia setengah jalan ke arah Amber, dia melihat Lily dengan sengaja menabrak Amber. Dia segera berlari dan berusaha menahan tubuh Amber agar tidak terjungkal lebih parah lagi.
Amarahnya semakin memuncak saat melihat Lily yang di rangkul oleh pria yang dari tadi bersamanya. Perasaan dan perbuatannya saat ini bekerjasama. Dia mencengkram lengan Lily, dan bahkan memperingatkannya lagi. Dia sangat membenci ucapannya yang terlontar begitu saja.
Pria itu balik mencengkram lengannya dan menghempaskan nya dengan sangat kasar. Perbuatannya semakin memprovokasi amarahnya. Namun Zack sadar dia sekarang berada di tempat umum, dan hampir menarik perhatian semua orang. Tak ingin menjadi bahan tontonan orang banyak, dua segera merangkul pinggang Amber dan membawanya pergi dari sana.
* * *
Zack dan Amber sudah berada di dalam mobil. Zack terlihat sangat marah sehingga Amber tidak berani untuk berkata sepatah kata pun.
Kurang lebih tiga puluh lima menit, mereka telah tiba di mansion.
"Aku ingin kau memberi sedikit perhatianmu pada Emily. Dia sedang sakit," perintah Zack.
Amber yang hendak keluar dari mobil langsung mengurungkan niatnya.
"Seperti yang sebelumnya. Aku akan memberi perhatianku padanya jika kau menyentuhku." balas Amber tidak mau kalah.
Amber keluar dari mobil dan membanting pintu mobil ketika menutupnya.
"****," umpat Zack.
Dia memukulkan kedua tangannya di atas kemudi.
"Pilihanmu benar-benar sempurna, Dad," gerutu Zack. Dia keluar dari mobil dan membantingnya.
Suasana mansion saat ini sedang sepi. Tidak ada celotehan dari si kecil Emily. Walaupun baru berumur tiga tahun, Emily sudah fasih berbicara. Bahasa Inggris dan Indonesia adalah dua bahasa yang di kuasainya.
Zack berjalan memasuki mansion. Derap langkah kaki nya sangat menggema. Dia menaiki tangga menuju kamar Emily. Dibukanya pintu kamar Emily perlahan. Nanny nya sangat siaga, dia selalu berada di samping Emily. Dua pelayan yang ditugaskan untuk menemani mereka juga sangat siaga. Dua pelayan itu bertugas untuk melayani segala kebutuhan Emily dan Nanny nya.
Nanny berdiri, memberi jarak untuk Zack. Dia kemudian berjalan keluar dan memberi kode kepada kedua pelayannya untuk mengikutinya keluar.
Zack duduk di samping tubuh kecil Emily. Selang infus masih tertancap di tangan kanannya. Hatinya sangat begitu pedih melihat putri kecilnya yang terbaring sakit. Di tambah lagi wanita itu sama sekali tidak mengunjungi Emily.
Ibu mana yang sangat tega dengan anaknya sendiri. ucapnya pelan sambil membelai lembut kening putrinya. Di rabanya perlahan kening putrinya. Panas di tubuh nya sudah mereda. Setidaknya dia bisa merasa lebih lega.
Dia berdiri dan mengeratkan selimut putrinya. Kecupan hangat didaratkan ke kening putri tercintanya. Emily tampak bergerak sedikit tapi tidak membuatnya terbangun.
__ADS_1
Melihat putrinya sudah terlelap, dia melangkahkan kakinya keluar.
"Jangan biarkan Amber masuk ke dalam," perintah Zack.
Dia sudah memutuskan untuk tidak memberi Amber kesempatan. Selama tiga tahun terakhir ini, selalu dia yang meminta Amber untuk selalu memperhatikan Emily. Ia sudah bertekad, tadi adalah kesempatan terakhir Amber. Kesempatan terakhir yang sudah berakhir beberapa menit yang lalu.
Zack memasuki ruang kerjanya. Dia mengambil wiski dari lemari penyimpannya dan meminumnya tanpa menuangnya terlebih dahulu ke dalam gelas. Setelah beberapa teguk, dia meletakkan botol wiski itu di atas meja.
Langit malam ini tampak lebih gelap dari biasanya. Zack melangkahkan kakinya ke balkon. Dibukanya tirai dan jendela. Udara malam menyentuh kulitnya yang kasar. Ada terasa sejuk disana. Sangat disayangkan rasa sejuk itu tidak sampai ke hatinya yang panas. Sehingga dia harus membuka kancing kemejanya hingga menampakkan bagian depan tubuhnya yang sempurna.
Cahaya bulan malam ini tampak begitu lebih cemerlang. Zack menatapnya sangat lama. Kau tahu, kau itu seperti bulan. Semakin lama di pandang membuat hatiku nyaman tanpa membuat sakit mata. Zack berbicara seolah-olah menatap seseorang yang di rindukannya.
Zack kembali terdiam dan larut dalam pikirannya sendiri. Beberapa bulan lalu, terakhir kali dia bertemu Lily saat di restoran. Awalnya dia sangat senang bisa melihat wanita nya itu. Dari memasuki pintu restoran, dia sudah bisa mengenal Lily bahkan hanya bayangannya saja.
Setelah itu, dia tidak bisa melihat Lily lagi. Dia sengaja terjun langsung dalam proyek kerjasama dengan Ahmad's Company agar dapat melihat Lily.
Walaupun itu bukanlah kali pertama dia bertemu Lily. Perasaan itu masih ada dan terus berkembang. Semakin ingin melupakannya, batinnya semakin tersiksa.
Dia berusaha mencari Lily, dan sering menghadiri rapat di Ahmad's Company dengan harapan agar dapat melihat wajahnya. Namun, Lily seolah-olah menghilang selama dua bulan lamanya. Sampai akhirnya dia menugasi Leon untuk mengawasi dan mencari Lily.
Berita pertama yang di dengarnya sebelum Lily menghilang, dia sedang berada di rumah sakit dan memiliki vitamin untuk wanita hamil. Ia merasa sangat hancur saat itu. Dia berusaha menepisnya. Dia tahu selama ini Lily sangat setia padanya.
Selama dua tahun terakhir, saat dia sudah kembali ke Indonesia. Dia segera mencari Lily. Lily yang dicintainya masih sama seperti yang dulu. Hanya saja dia tidak memiliki keberanian untuk menghadapi Lily dan kenyataan.
Potongan puzzle itu berusaha di gabungkan nya menjadi satu. Bagaimana mungkin Lily bisa hamil dan memiliki seorang pria. Bagaimana mungkin semuanya terlepas dari kendalinya.
Satu kesimpulan yang dia dapat. Kesalahan dari awal adalah dirinya. Beberapa tahun yang lalu dia sangat pengecut dan ceroboh sampai akhirnya semua terlepas.
Kepalanya semakin berdenyut memikirkannya. Dia memutuskan untuk merendam dirinya di bak mandi. Berharap semuanya akan kembali di jalurnya.
Keesokan harinya
"Aku mau Daddy, Nana." pinta Emily pada nanny nya. Ketika Emily kecil baru mulai belajar bicara, dia tidak bisa mengucapkan kata nanny. Dia hanya bisa menyebut Nana. Akhirnya panggilan sayang 'Nana' untuk nanny nya berlanjut sampai sekarang.
"Baiklah sayang, tapi kau harus menghabiskan sarapan mu dulu," bujuk nanny nya.
Emily mengangguk pelan. Dia menuruti permintaan nanny nya. Baginya, nanny nya adalah segalanya. Dia tahu mommy nya adalah Amber. Akan tetapi, sayangnya hanya untuk nanny nya.
Nanny menyuruh salah seorang pelayan untuk memberitahukan pada tuan Zack jika Emily mencarinya. Pelayan itu langsung mengangguk dan segera berjalan keluar.
Zack memasuki kamar Emily sambil memberikan senyum terbaiknya.
"Em merindukan, Dad." ucapnya manja.
__ADS_1
Zack menghampirinya dan meraihnya ke dalam pelukannya.
"Dad juga merindukanmu sayang," balas Zack sambil menggendongnya
"Look, dad! selangnya sudah lepas," ucap Emily sambil memperlihatkan tangan kirinya yang sudah terbebas dari selang infus.
Zack menatap ke arah nanny meminta penjelasan.
"Dokter berkunjung jam delapan pagi tuan, dan sudah mengecek keadaan nona. Hasil pemeriksaannya sangat baik sehingga nona tidak memerlukan infus lagi. Yang nona butuhkan saat ini hanya istirahat total, tuan." jelas nanny.
"Wah... Putri dad hebat," puji Zack.
"Karena Em pintar, Em boleh bermain di mall, dad." pinta Emily.
Wajahnya sangat imut jika mulai meminta sesuatu.
"Boleh." ucap Zack.
"Yeaay... Nana dengar, kita bisa bermain di mall," teriaknya girang.
"Tapi tidak sekarang," tambah Zack.
Emily langsung cemberut mendengar larangan daddy nya. Melihat putrinya yang sedang cemberut spontan membuatnya mencubit geram kedua pipi putriny.
"Aw... sakit Daddy," rengek Emily.
"Daddy tidak melarang mu bermain. Tapi kau baru sembuh. Tepat nya baru satu hari," ucap Zack sambil menunjukkan satu jari pada Emily.
Emily memegang hari tangannya.
"Itu tandanya baru sedikit ya, dad?" tanya Emily.
"Iya... itu baru sedikit," jawab Zack.
Emily perlahan membuka jari Zack satu persatu sambil bertanya apakah ini sudah banyak atau belum. Sampai kelima jari Zack terbuka.
"Kalau ini, dad?" tanya Emily yang ke empat kalinya.
"Iya... ini baru boleh," jawab Zack sambil menggelitik perut Emily dengan kelima jarinya yang sudah terbuka sempurna.
Ha... ha... ha...
Tawa Emily dan Zack menggema di seluruh kamarnya. Nanny dan kedua pelayan pun ikut tertawa. Kecuali Amber yang berdiri di depan pintu kamar Emily.
__ADS_1