
"Itu namanya bukan pilihan, Fa! Tapi."
"Tapi paksaan," jawab Rafa santai.
"Ish, Rafa!" teriak Lily.
Dia sangat kesal dengan keputusan Rafa yang seenak jidatnya. Menolak pun akhirnya tetap saja harus menurutinya.
"Udah Ly terima nasib aja," ucap Naya sambil menguap.
Yang dikatakan oleh Naya ada benarnya. Mau berdebat seperti apapun, ujung-ujungnya tetap Rafa yang lebih dominan.
"Gue saduin lu ke Liora. Liat aja besok," gerutu Lily didalam hatinya.
Di sisi lain (kota Pontianak)
Selama satu harian ini, Zack sudah mengitari hotel sampai tiga kali. Sudah seperti menghitung luas bangunan hotel saja. Dia juga sudah berapa kali membawa Emily ke kamar Lily. Semuanya nihil. Lily tidak ada di hotel. Batang hidung Rafa dan Naya juga tidak terlihat.
Zack merasa gundah. Mana mungkin mereka menghilang dalam waktu satu hari. Dia berusaha mengingat kejadian tadi pagi. Seingatnya dia tidak bangun telat pagi ini. Seharusnya mereka bertemu di resto hotel saat sarapan pagi seperti biasanya.
Dia berusaha berpikir jernih. Mungkin mereka menginap di rumah keluarga Lily atau mungkin Naya melahirkan. Dia mencoba berbagai kemungkinan. Zack sangat frustasi memikirkannya.
Keesokannya harinya, dia bangun satu jam lebih awal sebelum jadwal sarapan pagi. Tekadnya sudah bulat pagi ini dia harus bisa bertemu dengan Lily atau minimal sahabatnya.
Zack melangkahkan kakinya ke kamar mandi. Sudah kebiasaannya jika sudah bangun tidur pasti langsung mandi.
Selesai dengan ritual mandinya, dia mengambil pakaian ganti di dalam lemari. Pagi ini dia memilih mengenakan kaos oblong putih polos dan celana pendek cokelat selutut.
Zack segera keluar kamar dan berjalan ke arah lift. Dia segera memencet tombol satu ke lobi hotel. Tadi malam dia sudah memikirkannya, dia akan bertanya pada bagian resepsionis.
Seorang pria dengan mengenakan seragam hotel berdiri dengan santai sambil tersenyum pada tamu hotel yang datang dan keluar hotel. Dia tersenyum ramah saat melihat Zack berjalan ke arahnya.
"Selamat pagi pak," sapa nya pada Zack.
"Selamat pagi," balas Zack sambil tersenyum.
"Ada yang bisa saya bantu?"
"Saya ingin menanyakan teman saya. Dia bernama Rafa Ahmad kamar 561 lantai lima. Apakah dia masih berada di hotel atau sudah check out?" tanya Zack.
"Baik pak. Sebentar ya pak, saya lihat dulu," jawabnya sopan.
__ADS_1
Tak ... Tik ... Tik ...
Bunyi suara keyboard yang di tekan menggema di ruangan lobi hotel.
"Atas nama bapak Rafa Ahmad. Beliau sudah check out pak," jawab pria itu.
Zack ingin teriak tapi ditahan olehnya. Dia tidak ingin bertanya lagi kapan lelaki itu beserta sahabatnya check out dari hotel. Nafsu makannya seketika hilang.
"Apa ada lagi yang bisa saya bantu pak?" tanya pria itu sopan.
"Tidak ada. Terima kasih," balas Zack sambil berjalan menuju sofa yang tidak jauh dari meja resepsionis. Dia merogoh ponselnya yang berada di dalam saku celananya.
Dia tidak ingin berlama-lama lagi, di bukanya layar kunci ponselnya dan memilih kontak dengan nama Leon.
Waktu menunjukkan pukul lima pagi. Leon memang sudah bangun jam segini. Dia biasanya akan melakukan aktivitas olahraga ringan terlebih dahulu sebelum berangkat ke kantoe. Dia biasa melakukannya di salah satu ruangan apartemennya yang memang di fungsikan untuk kegiatan olahraga ringan. Ruangan itu terletak agak jauh dari kamar utamanya.
Drt ... drt ... drt ...
Ponselnya berbunyi sudah ke sekian kalinya. Leon tidak akan pernah membawa serta ponselnya jika sedang berolahraga. Karena itu bisa membuyarkan konsentrasinya saat berolahraga.
Seorang pria yang berada berbeda pulau menghubungi sudah ke sekian kalinya. Pria itu mulai kesal karena yang di hubungi tidak menjawab ponselnya sama sekali.
"****! Kemana dia?" umpat Zack.
Zack segera memutus panggilan itu. Dia menutup rapat kedua matanya. Dia berusaha untuk menahan amarah yang sepertinya akan meledak. Dia berusaha mengatur napasnya yang tersengal karena menahan amarah.
Ting
Bunyi pintu lift yang berada tidak jauh dari sofa yang diduduki Zack. Nana dan Emily keluar dari kotak silver itu.
"Daddy," panggil Emily.
Zack tersadar ketika mendengar suara khas putri kecilnya. Dia membuka mata dan melebarkan kedua tangannya bersiap untuk memeluk Emily.
"Sayang, ini masih pagi. Kenapa sudah turun?" tanya Zack.
"Nona muda tadi malam tidur lebih awal tuan. Nona muda meminta saya untuk mengantarnya ke kamar anda. Karena tidak dibuka pintunya, jadi nona muda minta diantar ke lobi. Dia ingin bermain disini saja sambil menunggu sarapan," jelas Nana.
Zack menatap putrinya, dia baru saja menyadari sesuatu. Dari kemarin Emily tidak merengek padanya untuk bertemu dengan aunty nya.
"Sayang, mengapa tidak mencari aunty jika ingin bermain?" tanya Zack penuh selidik.
__ADS_1
"Aunty pasti masih tidur Daddy," jawab Emily dengan polosnya.
"Ya ampun nona muda. Sejak kapan kau bisa berbohong seperti itu," ucap Nana dalam hati.
"Em tau dari mana jika aunty masih tidur di kamar?" tanya Zack lagi.
"Lihat Daddy! Masih gelap," ucap Emily sambil menunjuk ke arah luar jendela.
Memang benar diluar masih gelap. Emily kecil berpikir jika masih gelap berarti orang-orang pasti masih tidur. Sungguh pikiran yang sangat ringkas untuk seorang balita.
"Dad mau tanya?"
"Tanya apa?" Emily balik bertanya pada Daddy nya. Posisi nya sekarang sedang bergelantung di kedua kaki Daddy nya. Dibuatnya seolah-olah sedang bermain ayunan.
"Mengapa Em tidak mencari aunty kemarin?" tanya Zack penasaran.
Nana yang mendengar pertanyaan yang terlontar dari tuannya merasa tidak karuan hatinya. Apa yang akan di jawab lagi oleh nona mudanya itu.
"Oh, aunty bilang tidak enak badan. Jadi Em disuruh tidak boleh dekat-dekat aunty dulu. Kata aunty nanti Em bisa tertulal," jawabnya panjang.
"Astaga, ternyata nona mudanya masih ingat apa yang dikatakan oleh nona Lily padanya," ucap Nana di dalam hati.
"Tertular nona," koreksi Nana.
"Eh, memangnya Em bilang apa Nana?" tanya Emily.
"Nona muda barusan bilang tertulal," jawab Nana.
"Eh, itu Nana yang bilang barusan. Bukan Em," elak Emily.
Nana hanya tersenyum mendengarnya. Nona mudanya ini sudah semakin pintar berbicara semenjak dekat dengan nona Lily.
"Baiklah. Sebentar lagi kita akan sarapan, ok."
Zack tidak curiga sama sekali dengan putri kecilnya. Karena yang di katakan Emily masuk akal. Lagipula jika Lily mengatakan seperti itu, berarti Lily yang membohongi Emily.
"Nana siapkan semua koper mu dan Emily! Kita akan pulang setelah sarapan," perintah Zack.
"Baik tuan, akan segera saya persiapkan semuanya," jawab Nana.
Hai my lovely readers! Aku ada novel yang recommended banget loh! Yukss mampir...
__ADS_1