Truly Madly Love

Truly Madly Love
Bab 15. Terkenang


__ADS_3

Laporan Leon membuat pria di seberang sana mendapat tamparan yang tak berwujud. Pria yang di telpon Leon adalah Zack. Leon diberinya tugas untuk selalu memantau gerak-gerik Lily.


Flash back on


Zack sedang berada di ruang kerja mansion nya. Hari ini dia sangat malas untuk ke perusahaannya. Kepala nya sangat pusing jika berurusan dengan Amber. Hal yang sepele bisa menjadi luar biasa beratnya.


Kejadian di restoran kemarin membuatnya semakin muak dengan tingkah Amber. Sifat manjanya sudah kelewat batas normal. Jika saja dia tidak memikirkan Emily, putri tersayangnya. Dia sudah pastikan mendepak Amber keluar dari mansion nya, hidupnya dan Emily, bahkan dari kartu keluarga. Semua ini gara-gara kejadian lima tahun yang lalu.


Lima tahun lalu


Negara Inggris kota London ...


Zack berlari di tengah gelapnya malam. Hujan deras yang turun tak membuatnya surut untuk menghentikan langkahnya. Dia berlari sambil memegang perut kanannya. Dia sudah tidak bisa membedakan lagi yang mana air hujan dan darah. Seluruh pakaiannya basah. Sesekali dia berhenti untuk mengatur nafasnya.


Suara langkah kaki yang cepat masih dapat di dengarnya. Itu pertanda dua orang yang tadi mengejarnya masih terus mengejar. Dia terus berlari menjauh.


Dengan napas yang tersengal, Zack terus berlari hingga sampai di tepi sungai Thames. Dia menoleh kesana kemari mencari tempat perlindungan. Namun, nihil. Suara langkah kaki yang tadi nya sudah tidak terdengar, perlahan menggema. Dengan sisa kekuatannya, dia menceburkan dirinya ke sungai Thames.


Air sungai Thames bisa dipastikan sangat dingin saat itu. Derasnya hujan menambah tingkat kedinginan.


Dia berusaha mengangkat tubuhnya ke permukaan dan mulai berenang ke arah dermaga. Saat ini dermaga tempat yang aman untuknya bersembunyi.


Suara langkah kaki yang mengejarnya semakin menggema. Suara itu menghilang ketika mereka berhenti di pinggiran sungai Thames.


"****! Where is he?" (s**l! Dimana dia?) tanya seorang pria yang terlihat sangat kesal.


"He was shot by me. He won't survive." (Dia tertembak olehku. Dia tidak akan selamat). ucap seorang temannya.


Mereka berjalan di pinggir sungai untuk memastikan pekerjaan mereka selesai dengan baik.


"Look!" (lihat!) perintah salah satu dari mereka. Dia mengarahkan jari telunjuknya ke arah sesuatu yang terlihat mengapung. Jarak pandang yang agak jauh tak menyurutkan pandangan mereka. Mereka dapat melihat dengan jelas yang mengapung itu seperti tubuh manusia yang tertutup jasnya.


"I think he died." (aku pikir dia mati) ucap temannya.


Salah satu dari mereka mengambil ponsel dan memotret yang mereka kira adalah tubuh Zack. Kemudian mengirimkan kepada seseorang yang memerintahkan mereka.


Ting ...


Menandakan sebuah pesan masuk di ponselnya. Dia tersenyum melihat pesan itu.


"Let's go! Our job is done." (Ayo pergi! Tugas kita selesai). Perintah seorang pria yang mengirim pesan kepada pesuruhnya sambil memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jaketnya.


Zack yang berada di bawah dermaga dapat bernapas lega. Kedua pria itu telah pergi. Saat menceburkan dirinya ke sungai, dia melepaskan jas nya. Dia tak mengira sama sekali bisa selamat oleh jasnya. Ia berusaha berenang keluar dari bawah dermaga. Tubuhnya terasa sangat kaku sehingga sangat sulit untuk mengangkat tubuhnya ke atas. Dengan sisa tenaganya, dia berhasil naik ke atas dermaga dan ...


Bruk ...

__ADS_1


Setelah berhasil menaiki dermaga, Zack pingsan.


Setelah kejadian itu, Zack mendapati dirinya siuman di mansion tua milik keluarga Alexander. Orang yang paling tidak ingin di temui nya, malah yang menyelamatkannya.


Ayahnya duduk di sebuah sofa yang berada di seberang kasurnya. Pria paruh baya itu mengambil kesempatan untuk menekan Zack. Jadilah dia dengan keadaan saat ini.


Terpaksa menikah dengan wanita yang tidak di cintanya dan di paksa untuk memiliki keturunan dalam waktu satu tahun. Dia harus mengubur cinta sejatinya yang setia menunggunya disana.


Flash back off


"Aaarrghhh ...!" Zack berteriak frustasi. Fia memegang kepala dengan kedua tangannya. Kepalanya sangat sakit menerima kenyataan Lily hamil.


Di sisi lain ...


Sekembalinya Lily dari apotik, dia mendapati Rafa dan Liora sudah berada di samping brankar Naya. Liora merentangkan kedua tangannya, bersiap memeluk Lily.


"Aku sangat merindukanmu!" ucapnya sambil memeluk Lily.


"Aku juga merindukanmu, Lio." balas Lily sambil memeluk erat Liora.


"Kenapa tidak memberitahuku kalau kau akan datang?" tanya Lily yang terlihat cemberut.


Liora mengangkat kedua bahunya dan berkata "Kau tahu sendiri sahabatmu yang satu itu. Jika dia bilang rindu, aku sudah harus berada di depan matanya dalam waktu yang tidak boleh lebih dari satu hari." seloroh Liora sambil memanyunkan bibir bawahnya yang mengarah ke Rafa.


Lily terkekeh mendengar dan melihat tingkah Liora.


"Gimana mau nelpon lu, Fa. Naya sakitnya mendadak." jelas Lily.


"Terus apa kata dokter?" tanya Rafa.


"Dokter bilang ngga apa-apa. Katanya yang dialami Naya hal yang wajar. Apalagi trisemester pertama kehamilan." jelas Lily.


"Pokoknya habis ini lu sama Naya tinggal di apartemen sebelah gue!" ucap Rafa dan tak ingin di bantah.


* * *


Apartemen Rafa


Mereka berempat telah tiba di apartemen Rafa. Mereka menunggu Rafa mengurus administrasi apartemen di sebelahnya. Lily dan Liora ditugaskan Rafa untuk menjaga Naya. Dia tidak membiarkan Naya banyak bergerak. Sampai-sampai Lily, Naya, dan Liora di buat bingung oleh tingkah Rafa yang tiba-tiba sangat over protektif.


Untung saja Liora yang notabenenya adalah kekasih Rafa, sangat mengenal Lily dan Naya. Tidak ada rasa cemburu sedikitpun dengan mereka. Dari awal mereka menjalani hubungan, Rafa sudah memberitahunya bahwa ada dua orang sahabatnya yang harus dia lindungi.


Flash back on


Perasaan Liora saat ini sangat senang. Pria yang merupakan incaran hatinya menyambut perasaannya. Dia berjalan di sepanjang koridor kampus dengan perasaan yang berbunga-bunga. Rafa mengajaknya bertemu di taman kampus usai pelajaran.

__ADS_1


Setelah pelajaran terkahir nya selesai, dia segera mengemasi buku dan alat tulisnya ke dalam tas. Hari ini bisa terhitung kencan pertamanya dengan Rafa, walaupun hanya di taman kampus.


Bangku di dekat kolam ikan sudah terisi dengan seorang pria yang duduk disana. Pria itu memiliki rambut pendek yang hitam pekat, berkulit putih, dan berwajah tampan khas orang Asia. Sepasang mata hazel nya sangat menawan. Pria itu menatap dan tersenyum padanya.


Rafa memberi kode padanya untuk duduk di sampingnya. Dia duduk di samping Rafa dengan senang hati.


"Hubungan kita baru berjalan sehari. Ada hal yang ingin aku sampaikan padamu." ucap Rafa.


Liora sempat mendengus kesal. Prianya ini sama sekali tidak pandai berbasa-basi. Tapi dari awal dia juga tahu dengan sifat Rafa yang kurang romantis.


"Apa yang ingin kau sampaikan?" tanya Liora.


Rafa mengeluarkan ponselnya dan mulai memperlihatkan pada nya foto-foto dua orang gadis. Rafa mulai menjelaskan siapa mereka dan hubungannya dengan mereka.


Liora awalnya bingung dan sempat terbesit rasa cemburu saat Rafa menceritakan tentang mereka. Apalagi sikap Rafa pada mereka terlalu sangat peduli. Akan tetapi, Rafa berhasil meyakinkan dirinya bahwa wanita yang di cintai dari awal, saat ini dan seterusnya adalah dirinya.


Sejak saat itu, Liora sering berhubungan dengan Lily dan Naya walaupun hanya melalui video call.


Flash back off


Rafa memasuki apartemennya. Dia menyerahkan kunci kamar apartemen sebelah.


"Gue udah ngurus semuanya." ucap Rafa sambil duduk di sebelah Liora.


"Beneran ni, Fa. Kita berdua ngga ngerepotin lu." ucap Lily tak enak hati.


Rafa langsung menatap mereka tajam. Dia mencondongkan tubuhnya ke depan.


"Tumben bisa keluar kalimat gitu dari mulut lu, Ly." ucap Rafa marah


"iiisshh ... apaan sih, Fa. Orang gue emang ngga enak beneran." jawab Rafa.


"Iya ... iya ... kita tinggal di sebelah." jawab Naya hendak beranjak dari kursi roda.


"Eits ... mau ngapain? duduk!" perintah Rafa.


Bener-bener dah ... punya teman yang over protektif susah juga. Batin Lily.


"Jadi kedepannya, lu berdua gue kasi cuti kerja sampai Naya benar-benar udah melewati masa gentingnya. Tugas lu sekarang jagain Naya." perintah Rafa. Dia meletakkan telunjuknya di depan mulutnya. Tanda sebagai dirinya tidak ingin di sanggah.


"Masalah orang tua lu, besok gue dan Liora yang akan memberitahu mereka." ujar Rafa pada Naya.


Naya tersentak. Dia lupa jika mommy dan daddy nya belum tahu tentang kondisinya saat ini. Naya meneteskan air matanya. Dia merasa kecewa dengan dirinya sendiri. Dia telah mengecewakan mommy dan daddy nya.


Lily yang melihatnya, langsung merangkul pundak Naya. Dia berusaha untuk menenangkan Naya.

__ADS_1


~Hai my lovely readers. Aku ada novel yang recommended banget loh! Yukss mampir..~



__ADS_2