
Zack yang ingin segera bertemu dengan putrinya, segera mengurungkan niatnya. Dia mematung di samping pintu resto. Pemandangan di depan matanya sangat di luar perkiraannya. Sungguh pemandangan yang sangat menyejukkan hati.
Dia memperhatikan Emily dan Lily dari kejauhan. Putrinya bergelayut manja pada Lily. Dia tidak pernah bertingkah seperti itu kepada Amber. Apakah Emily sangat merindukan kasih sayang seorang ibu?. Dia berkata dalam hati.
Di seberang resto terdapat sebuah cafe yang hanya menyediakan minuman dan makanan ringan. Zack memutuskan untuk kesana. Dia memilih tempat duduk yang strategis agar bisa melihat Emily dan Lily. Dua orang gadis berbeda usia yang sangat di sayangi nya.
Zack hanya memesan secara asal. Dia tidak terlalu begitu suka dengan kopi. Bukan berarti dia tidak meminumnya. Caffe latte adalah pilihannya kali ini. Baru saja ingin menikmati pemandangan yang menyejukkan suasana hatinya. Hatinya mulai panas ketika melihat seorang pria yang mulai di ingatnya. Pria yang selalu berada di dekat Lily.
Pria itu sedang berbicara dengan dua orang lainnya. Setelah dia memperhatikan mereka dengan teliti, mereka mengenakan pakaian yang sama. Pakaian yang mereka kenakan hanya pakaian kasual biasa, tapi jika dua orang atau lebih sudah terlihat seperti pakaian seragam.
Sangat tidak mungkin jika mereka kembar atau senang memakai pakaian kembar. Zack tampak berpikir keras. Detik berikutnya dia sudah tidak peduli lagi.
Di alihkan nya pandangan ke Emily dan Lily sambil menyeruput minumannya. Zack tersedak melihat tubuh Lily yang terlihat ramping. Dia mulai menghitung-hitung dengan jarinya.
Mana ada bayi lahir hanya dalam waktu kurang lebih lima bulan? Apa dia kehilangan bayinya? Jika iya, tidak mungkin sekarang keadaannya sangat baik-baik saja. Zack bermonolog di dalam hatinya.
Di lihatnya lagi ketiga pria itu dengan teliti, terutama seorang pria yang dekat dengan Lily. Kemudian tatapannya beralih ke Lily. Dia melakukannya sampai kepalanya berdenyut.
"****!" umpat nya sambil menggebrak mejanya. Walaupun tidak keras, tapi cukup menarik perhatian pengunjung cafe di sekitarnya duduk. Dia segera merogoh ponsel di dalam saku celananya. Saat ini dia butuh penjelasan dari Leon. Orang yang dianggapnya bertanggung jawab atas kesalahpahaman dirinya terhadap Lily.
Tut ... Tut ... Tut ...
"Halo, tuan." sapa Leon.
"Aku butuh penjelasan darimu," ucap nya.
"Proyek di kota khatulistiwa nanti sudah selesai di tanda tangani tuan Rafa, tuan," jelas Leon.
__ADS_1
"Bukan itu maksudku," ucap Zack.
Leon yang di sebrang sana terdiam cukup lama. Dia berpikir keras, setahunya semua informasi sudah diberikannya kepada tuannya itu. Tidak ada satupun yang terlewat.
"Lily," tambah Zack.
"Ohh... nona Lily. Ada apa dengan nona Lily, tuan?" Leon balik bertanya.
Dia mulai merasa geram dengan Leon.
"Apa kau sudah memberi seluruh informasi padaku tentang Lily?" tanyanya menahan geram. Jika saja Leon ada di hadapannya sudah dia jitak kepalanya berkali-kali.
Suara telpon kembali hening beberapa saat. Tidak biasanya Leon sangat lama berpikir. Dia sebenarnya sudah tidak sabaran mendengar penjelasannya.
"Oh... aku baru ingat tuan Waktu itu aku belum menyelesaikan laporan ku, tuan sudah memutuskan sambungan telpon," jawab Leon.
"Jadi informasi apa yang aku tertinggal?" tanya Zack geram.
"Setelah memberikan vitamin nona Lily, aku mengikutinya diam-diam. Dari jauh aku melihat dia berjalan ke arah IGD. Seorang wanita sedang terbaring disana. Aku juga melihat ada tuan Rafa dan salah seorang wanita yang kemungkinan adalah temannya," jelas Leon panjang lebar.
Leon terdengar seperti sedang mengambil napas di seberang sana.
"Cukup lama aku memperhatikan mereka sampai mereka pulang. Vitamin hamil itu ternyata untuk temannya yang terbaring diatas brankar. Dari info yang ku dapat, namanya adalah nona Naya Bailey. Dia juga bekerja dengan tuan Rafa sekaligus sahabat mereka," tambah Leon menjelaskan.
"Jadi dari pembicaraanmu yang panjang lebar ini, intinya yang hamil adalah Naya, sahabatnya? Bukan Lily?" tanya Zack.
"Benar tuan. Seperti itu maksudku," jawab Leon.
__ADS_1
"****," umpat Zack.
Dia memegang kening dengan sebelah tangannya. Dia merasa geram pada dirinya sendiri. Bagaimana dia bisa salah selama ini. Rasa salah mulai melingkupi relung hatinya. Akibat tidak bisa mengontrol emosinya, kecerobahan itu menjadi suatu kesalahan yang sangat fatal.
"Apa masih ada lagi yang tertinggal?" tanya Zack setelah berhasil menguasai dirinya.
"Hmmm... tuan Rafa memberikan tiga orang pengawal untuk selalu menjaga nona Lily dan nona Naya. Untuk alasan yang lebih lanjut, jujur aku tidak mengetahuinya tuan. Karena anda mendadak menyuruhku untuk berhenti mengawasi nona Lily," ucap Leon.
Mendengar penjelasan Leon membuat nya langsung menatap ke arah tiga pria tadi. Benar saja dugaannya. Pria itu adalah salah satu pengawalnya. Tanpa di sadari ya dia memutuskan panggilan telponnya sepihak.
Leon menatap layar ponselnya dan hanya mendengus kesal. "Lagi-lagi," ucapnya pada dirinya sendiri.
Zack menahan gejolak di hatinya. Semua bercampur aduk bagaikan roket yang siap diluncurkan. Wanitanya adalah wanita yang baik, dan selalu menjadi yang terbaik.
Dia ingin segera menghampirinya. Meraih dan merengkuhnya ke dalam dekapannya. Apalagi sekarang disana ada Emily yang berada di pangkuan Lily. Menambah perasaannya yang tidak karuan semakin menjadi-jadi.
Lily dan Emily bagaikan potongan puzzle yang sangat lengkap. Seperti sudah ditakdirkan untuk saling melengkapi. Dua wanita berbeda generasi yang sangat dia sayangi.
Zack berusaha menetralkan kembali dirinya. Rasa bersalah menghantui pikirannya. Semua yang terjadi adalah salah dirinya. Salah dirinya yang lebih memilih mengorbankan cintanya. Dia telah menyiakan seorang wanita yang sangat setia padanya hanya demi terbebas dari keluarga mafia nya, dan membangun perusahaannya sendiri.
Merasa beban di hatinya begitu berat, dia menyenderkan kepalanya ke punggung kursi. Dia berusaha mengingat pertemuan awalnya dengan Lily, dan bagaimana dia melukai perasaannya dengan tingkah dan ucapannya.
Dia juga mengingat bagaimana dia begitu terlihat melindungi Amber dan mengakuinya secara verbal 'istriku'. Padahal selama ini dia tidak pernah menganggap Amber sebagai istrinya. Status istri itu hanya diatas kertas dan resmi secara hukum. Di tambah dia sudah melahirkan seorang putri kecil untuknya, membuat status istri semakin melekat di dirinya.
Nyatanya, dia bukanlah seorang istri dan ibu yang baik untuk dirinya dan Emily. Dia hanya berpura-pura mencintai Zack, hanya demi kepuasaan ekonominya.
Mau disalahkan juga bukan salah Amber seutuhnya. Yang paling bertanggung jawab atas ini semua adalah ayahnya.
__ADS_1
Zack berusaha untuk berpikir jernih dan tidak ingin larut dalam penyesalannya. Dia memutuskan untuk berhenti menyalahkan orang lain.
Dia bangkit dari duduknya. Tekadnya sudah tidak bisa di bantah lagi. Dia ingin mengambil kembali yang sudah ditinggalkannya. Lily adalah miliknya, dan selamanya akan selalu menjadi miliknya. Tujuan utamanya saat ini adalah merengkuh Lily kembali ke sisinya.