
Mobil Rafa memasuki halaman parkir di sebuah restoran ternama di pusat Jakarta. Jalan raya hari ini sangat bersahabat sehingga Rafa dapat melajukan mobilnya tanpa hambatan. Setelah mobilnya terparkir sempurna, Rafa mematikan mesin mobilnya.
Naya yang sempat terlelap terbangun ketika mendengar mesin mobil dimatikan. Naya meregangkan otot-ototnya yang terasa pegal. "Hooaamm... udah sampe ya, Fa?" tanya Naya sambil menguap.
"Ya ampun anak gadis satu ini. Nguap itu ditutup pakek tangan!" ucap Rafa dengan ketus. Baru saja Rafa memberitahu Naya untuk menutup mulutnya saat menguap. Naya malah semakin melebarkan mulutnya ketika menguap untuk kedua kalinya. Tiba-tiba Naya terbatuk.
Uhukk ... uhhukk ... uuhhuukkk... Naya terbatuk-batuk karena merasa ada sesuatu yang masuk ke dalam mulutnya. "Lu kenapa, Nay?" tanya Rafa khawatir.
Lily yang mendengar suara batuk Naya yang sangat keras segera terbangun. Lily mengusap kedua matanya dan merapikan pakaian dan rambutnya yang sedikit berantakan karena tertidur.
Rafa menyodorkan sebotol air mineral yang masih bersegel kepada Naya. "Minum dulu, Nay!" perintah Rafa.
Naya mengambil botol air mineral dan membuka tutupnya. Naya minum dengan perlahan. Sesekali Naya berdehem untuk mengetes tenggorokannya yang masih terasa sedikit gatal.
"Udah enakan?" tanya Rafa sambil mengambil botol air yang disodorkan kembali oleh Naya.
"Udah, Fa." jawab Naya dengan suara yang sangat serak.
"Waduuhh...suara seksi lu mana, Nay?" tanya Lily dengan polosnya.
"Tuh suara udah kayak kodok aja, Nay." Rafa tak mau kalah menimpali perkataan Lily.
Naya berdehem kembali berkali-kali membuat ada sesuatu yang keluar dari dalam mulutnya. Sesuatu yang berwarna hitam dan berkaki, dan tidak bernyawa lagi. Naya mengambilnya dengan tisu. "Ini apa, Fa?" tanya Naya sambil menyodorkan benda kecil yang sudah dipungutnya dengan tisu.
Rafa menghindar secepat kilat. "iisshhhh... jauhin ngga!. Jorok amat sih jadi anak gadis." Rafa mengibaskan tangannya ke udara tepat didepan wajah Naya.
Lily yang dari tadi melihat kelakuan kedua sohibnya bergerak maju ke depan. Tangan kanan Lily menggenggam pangkal tangan kanan Naya. Kemudian memajukan tangan kanan Naya ke arahnya. Lily mengamati benda kecil itu.
"Kek nya ini nyamuk deh." ucap Lily dengan santai tanpa ada rasa geli. Lily pun melepaskan tangannya dari Naya.
"Mimpi apa gue tadi malam. Punya teman joroknya bukan maen dahhh." ucap Rafa sambil menaik-turunkan kedua bahunya.
Naya tersenyum penuh arti melihat Rafa. Naya memainkan kedua alis matanya turun naik. Ketika Naya akan melancarkan idenya, Rafa langsung berteriak "Coba aja... Mampir dikit aja tu ban*ke nyamuk ke celana gue. Batal gue traktir lu berdua!"
Lily yang mendengar namanya di ikut sertakan dalam pembatalan makan gratis, sontak mengajukan protes kepada Rafa "Kok gue dibawa-bawa sih, Fa? Gue kan ngga ngapa-ngapain."
__ADS_1
"Kan elu yang bilang itu nyamuk. Kalo lu ngga bilang, ngga bakalan ada tuh ide joroknya Naya." Rafa berkata dengan ketusnya.
"Haaa... haaa... haaa ... Rafa...Rafa... gitu aja hebohnya bukan maen." Naya tertawa melihat Rafa yang kelabakan gara-gara keusilannya.
"Buang ngga tuh! Buruan!" perintah Rafa sambil menunjuk tisu yang berisi bangkai nyamuk.
"Tadi kan udah gue kasi tahu, Nay. Kalo nguap itu ditutup mulutnya. Ngerasain kan lu makan nyamuk." ucap Rafa. "Gimana rasanya, enakkk?" tanya Rafa tanpa melihat Naya.
Naya mencibirkan bibir bawahnya ke Rafa. Lalu membuang tisu itu ke dalam tempat sampah mini di dalam mobil.
~Kkkrruuuyyuukkk~
Perut Lily bernyanyi lagi. Rafa memutar tubuhnya ke belakang menghadap Lily. "Keknya cacing-cacing di perut lu udah pada konser, Ly." Rafa tertawa mendengar suara perut Lily yang ingin segera minta diisi.
Lily tersenyum malu sambil memegang perutnya.
Mereka bertiga segera turun dari mobil dan bergegas menuju restoran.
Sesampainya mereka di dalam restoran, mereka langsung mengarah ke spot tempat favorit mereka. Di ujung kanan dalam, di samping jendela. Lily dan Naya sangat menyukai spot ini. Karena hanya ada dua meja pelanggan dan agak terhindar dari orang-orang lain. Kalau Rafa jangan ditanya lagi. Dia hanya diam dan mengikuti kedua temannya.
Lily menghentikan gerakan tangan pelayan yang menyodorkan buku menu kepadanya. "Aku kayak biasa aja, mba." ucap Lily yang langsung dijawab dengan pelayan itu "Baik, kak."
"Aku juga sama mba. Mba... minumannya dianter duluan ya. Udah seret banget*." ucap Naya sebelum ditanya oleh pelayan itu.
Pelayan itu tersenyum dan segera kembali ke dalam mempersiapkan pesanan mereka. Mereka bertiga sudah lama berlangganan di restoran itu. Wajar saja hampir semua pelayan disana hafal dengan menu favorit atau menu sampingan mereka.
"Ya ... iyalah seret. Orang habis makan nyamuk." Lily menimpali perkataan Naya sambil tertawa.
"Baguss...ledekin aja terus sampe puas. Ntar kalo gue balas jangan ngamuk ya!" balas Naya sambil membesarkan kedua matanya.
Lily mencibirkan bibir bawahnya ke Naya. "Gitu aja ngambek. weeekkk..." jawab Lily tak mau kalah sambil menjulurkan lidahnya. Dan akhirnya, terjadilah perang mulut antara Lily dan Naya.
Keanehan tingkah kedua temannya sudah menjadi makanan sehari-hari Rafa. Akan terasa sangat aneh apabila diantara mereka tidak ada yang bertingkah absird. Rafa hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan mereka lagi.
Karena asyiknya mereka perang mulut, tanpa mereka sadari makanan yang mereka pesan sudah tersedia sepuluh menit yang lalu diatas meja. Jika bukan karena suara sendawa Rafa, mungkin perang mulut mereka tidak akan berhenti.
__ADS_1
Mendengar Rafa yang bersendawa, Lily dan Naya kompak menoleh ke arah Rafa. Piring Rafa sudah licin, sampai-sampai semut saja bisa terpeleset.
"Raaafffaaa...!" teriak Lily dan Naya bersamaan.
"Mending kalian buruan makan. Yang terakhir makan yang bayar." jawab Rafa acuh.
"Ishhh... kagak niat keknya lu traktir kita berdua." ucap Lily sambil memulai ritual makannya.
Rafa tidak memperdulikan ucapan Lily. Rafa tak ingin menghabiskan energi yang baru saja diisi ulang secara percuma hanya untuk meladeni Lily.
Lily dan Naya menikmati makan siang menjelang sore mereka dengan khidmat.
Satu hal yang di salutkan oleh Rafa terhadap dua sahabatnya itu, yaitu di saat menikmati rezeki makanan, Lily dan Naya pasti berhenti dengan perang mulutnya. Apalagi saat ini mereka memiliki tujuan yang sama yaitu 'Makan'."
Beberapa saat kemudian, Lily dan Naya telah selesai mengisi kampung tengahnya (perutnya). Mereka memutuskan untuk berbincang kembali sambil meminum minuman mereka.
"Jadi, rencana lu selanjutnya apa Ly?" tanya Rafa perlahan karena tak ingin membuka lembaran kesedihan Lily lagi.
"Ya gue mau kembali kerja lagi dan menata hidup gue lebih baik lagi." jawab Lily dengan penuh keyakinan.
"Bagus, Ly! gue pasti dukung lu." Naya tak mau kalah memberikan dukungannya untuk Lily.
"Terus ... elu ngga apa-apa kalo bakalan sering ketemu sama Zack selama kerjasama proyek kita? tanya Rafa yang berhasil membuat Lily terdiam.
"Gue seratus persen yakin, Fa! Gue akan berusaha move on. Lagian Zack kan sekarang laki orang. Amit...amit ... deh gue kalo sampe ngerebut laki orang." ucap Lily dengan penuh keyakinan tingkat tinggi.
Rafa dan Naya tersenyum senang. Sahabat mereka sudah mulai kembali seperti sedia kala.
Tanpa mereka sadari, mereka telah dibuntuti oleh sebuah mobil mini van berwarna hitam. Mobil itu berhenti sekitar beberapa meter dari mobil Rafa yang terparkir.
Pria di dalam mobil itu memperhatikan gerak gerik mereka dan mengambil beberapa foto Lily, Naya, dan Rafa. Kemudian mengambil ponselnya menghubungi seseorang. Panggilan itu pun terhubung.
"Halo..."
~Kakak-kakak mohon dukungannya ya. Untuk kirim vote, like, komen, dan favoritnya~ 🥰🥰🥰
__ADS_1