Truly Madly Love

Truly Madly Love
Bab 66. Terminal Bis


__ADS_3

Keesokan paginya, Nana bangun lebih awal dari biasanya saat mereka di mansion. Nana segera membersihkan tubuhnya. Setelah dia siap, dia segera membangunkan Emily. Gadis kecil itu terlihat mulai bergerak-gerak saat Nana mulai membersihkan diri. Tandanya si empunya tubuh akan segera bangun.


Garasi mobil box ini sangat luas. Ada enam mobil box yang terparkir di sini. Di pojokan terdapat dua toilet. Salah satunya untuk mandi, dan satu lagi untuk toilet.


Emily sangat mudah dibangunkan pagi ini. Mungkin karena waktu tidurnya lebih lama dari biasanya kemarin. Senyum.manis menghiasi wajahnya pagi ini. Nana segera membersihkan tubuh Emily, dan mengganti bajunya. Nana sempat membelikan Emily beberapa setelan untuk Emily dan dirinya.


Sambil mengurus Emily, Nana berpikir akan kemana mereka pergi. Nana kurang mengenal negara ini. Yang dia tahu hanya sebatas kita Jakarta saja. Emily kecil sudah siap. Perutnya juga sudah terisi dengan dua buah roti dan sekotak susu cokelat. Nana hendak menggendong tubuh kecil itu, namun ditolak oleh Emily.


"Em jalan saja Nana," ucapnya.


Nana tersenyum padanya dan mengangguk. Mereka berjalan keluar dari garasi sambil berpegangan tangan. Dua pria yang tadi malam membantunya sudah kembali ke rumah mereka.


"Nana, gelap," ucap Emily pelan.


"Iya sayang. Sekarang masih subuh. Kita harus segera pergi dari sini," jelas Nana.


Emily semakin mengeratkan genggaman tangannya pada Nana. Nana tahu jika Emily sangat takut gelap.


Setibanya mereka di gerbang, Nana berusaha melihat jejak ban mobil. Selama berada di dalam box mobil, Nana tidak tahu mereka datang dari arah mana. Untung saja masih ada sisa tanah yang belum teraspal sehingga memudahkan Nana untuk melihat dari arah mana tadi mereka datang.


Nana membawa Emily ke arah sebaliknya dari bekas jejak ban. Emily tidak mengeluh sama sekali selama perjalanan mereka. Meskipun masih gelap, beberapa warung makanan sudah ada yang buka. Nana membawa Emily singgah ke sebuah warung makanan untuk sarapan lagi disana.


Seorang pelayan menghampiri mereka. Dia tersenyum ramah pada Nana dan Emily.


"Lucu sekali cucunya Bu," sapa pelayan itu.


Nana hanya tersenyum mendengarnya.


"Namanya siapa?" tanya pelayan itu lagi.


"Em, ditanya sama kakak sayang," jelas Nana yang melihat Emily tidak merespon. Gadis kecil itu sedang asyik bermain dengan dua lembar tisu.


Emily mendongakkan kepalanya. Dia tersenyum kepada pelayan yang tadi bertanya padanya.

__ADS_1


"Emily, kakak," jawabnya polos.


Pelayan itu semakin gemas melihat wajah Emily dan mata birunya. Kedua pipinya juga chubby. Dia ingin sekali mencubit kedua pipi gadis itu.


"Mila! Tamunya ditanya mau pesan apa?" teriak seorang ibu dari dalam warung.


"Eh iya, sampai lupa. Mau pesan apa Bu?" tanya Mila sopan.


"Saya mau pesan nasi dengan ayam goreng nya satu, soto ayamnya satu, dan dua teh hangat. Sotonya jangan dikasi lontong ya kak. Banyak kan mie nya saja," ujar Nana.


"Baik Bu. Tunggu sebentar ya Bu," ucap Mila dengan sopan dan segera beranjak pergi dari sana.


Warung makan yang disinggahi Nana tidak begitu besar dan juga tidak kecil. Tempatnya sangat bersih. Karena itulah Nana memutuskan untuk singgah disana. Menu makan yang ditawarkan juga tidak terlalu banyak. Semua menu itu tertempel di kaca etalase membuat Nana mudah untuk membacanya. Untung saja dulu dia ikut belajar bahasa Indonesia bersama maid yang lain. Jika tidak, dia pasti sudah seperti orang asing disini.


Tidak berapa lama, makanan yang dipesan Nana sudah tersedia di atas meja. Mila, pelayan yang tadi melayaninya mempersilahkannya untuk menikmati makanan dari warung mereka. Gadis remaja itu bukannya pergi, dia justru ikut duduk di seberang Nana.


Mila sangat takjub melihat seorang anak kecil bule di warungnya. Dia belum pernah bertemu dengan orang luar negeri sekalipun. Wajar saja sekarang dia bertingkah seperti itu.


Pletak ...


"Sakit Bu!" rintihnya lagi.


"Kebiasaan banget lu. Tamu lagi makan malah dilihat-lihat. Ngga sopan tau," oceh ibu Mila.


"ih ... ibu. Kapan lagi ketemu anak bule," ucapnya sambil tersenyum pada Emily.


"Eh iya. Lucu banget. Cucunya ya Bu?" tanya ibu Mila sambil menyuruh Mila menggeser duduknya. Ibunya langsung duduk disebelahnya saat melihat wajah lucu Emily.


Nana tidak terbiasa berbicara saat makan. Tapi mau bagaimana lagi. Beberapa orang sangat senang melakukan hal itu.


"Iya, ini cucu saya," jawab Nana.


"ih lucu banget. Cantik lagi," ucap ibu Mila.

__ADS_1


"Yee ... ibu. Tadi aja aku di jitak. Sekarang justru ibu yang kek gitu," gerutu Mila.


Ibunya langsung melirik tajam pada Mila.


"Iya ... iya... Emak-emak pasti selalu benar dah," gerutu Mila lagi.


Nana tersenyum mendengar perdebatan ibu dan anak itu. Sedangkan ibunya Mila tidak memperdulikan ocehan putrinya itu.


"Mau ke Bogor ya Bu?" tanya ibu Mila.


Nana sedikit bingung ingin menjawab apa. Ibu Mila melihat kebingungan yang tersirat dari wajah Nana.


"Di depan kan terminal bis ke Bogor Bu," jelas ibu Mila sambil menunjuk ke depan.


Nana mengikuti arah jari telunjuk ibu Mila. Dia memalingkan kepalanya. Benar saja. Ada tiga bis di sana. Satu bis terlihat memasuki area terminal. Nana segera menjawab pertanyaan ibu Mila.


"Cucu saya ingin sekali naik bis. Makanya kami kesini," jelas Nana. Dia terpaksa harus berbohong sedikit.


"Oh gitu. Itu bis ke Bogor Bu. Tapi lumayan jauh loh perjalanannya. Kenapa ngga naikin bis trans Jakarta aja Bu?" tanya ibu Mila.


"Sudah biasa Bu. Emily ingin naik bis Yangs seperti itu," jawab Nana sambil menunjuk ke arah bis.


"Oalaa ... permintaan anak kecil selalu ada-ada saja ya Bu," ucap ibu Mila sambil tertawa.


Nana membalas tawanya dengan senyuman.


"Mpok ... kopi panasnya satu," teriak seorang pengunjung laki-laki yang baru saja tiba.


"Iya bang. Sebentar. Saya tinggal dulu ya Bu," tutur ibu Mila.


"Silahkan Bu," jawab Nana sopan.


Nana segera merampungkan makannya dan menyuapi soto ayam pada Emily. Dia juga membeli beberapa camilan dan air mineral untuk perbekalannya di dalam bis.

__ADS_1


Setelah selesai membayar semuanya. Nana segera pamit dan melangkahkan kakinya ke terminal bis. Nana sempat melihat jam dinding yang bertengger di salah satu dinding warung makan tadi. Masih ada waktu sekitar lima belas menit lagi pukul lima. Nana segera mencari loket untuk membeli dua tiket bis.


Tepat pukul lima bis yang dinaiki Nana dan Emily berangkat dari terminal menuju kota Bogor. Hanya ini yang bisa Nana lakukan saat ini. Dia akan memikirkan nasib mereka setelah sampai di tujuan.


__ADS_2