
"Kau jelas sangat mengerti apa maksudku!" seru Zack dengan tatapan tajamnya.
"Sepertinya ada sesuatu yang terlewat, tutur Brandon.
"Kumohon, jangan Zack," pinta Amber.
Dia segera menghambur ke arah Zack dan memeluk kedua kaki pria itu. Zack sangat jengah dengan perlakuan Amber. Dia menatap Leon agar segera menjauhkan Amber darinya. Melihat tatapan tuan nya, Leon segera menghampiri Amber dan menjauhkannya dari Zack.
"Tidak! Lepaskan aku! Lepaskan!" teriak Amber.
"Kau bawa saja dia sekarang!" seru Zack pada Brandon.
"Mengapa aku harus membawanya?" tanya Brandon.
"Bukankah kekacauan ini berawal dari dia," tutur Zack sambil menunjuk pada Amber yang saat ini di pegang oleh dua orang pengawal.
"Hmm ... Kau pikir aku tempat penerima barang bekas!" seru Brandon sedikit kasar.
"Sudah kukatakan dia bersih," balas Zack.
"Apa maksudmu?" tanya Brandon. Dia mulai tampak tertarik dengan ucapan Zack.
"Aku tidak pernah menyentuhnya sama sekali," tutur Zack.
"Hahaha ... Kau pikir aku bodoh!" sergah Brandon.
Zack hanya diam saja. Dia sengaja memberi waktu untuk Brandon berpikir.
"Kalau kau tidak pernah menyentuhnya, bearti Emily putriku," ucap Brandon.
"Tidak! Emily putri kandungku!" ucap Zack tegas.
Leon yang sekarang berada di samping tuan nya mulai terkekeh.
"Si Brandon itu terlihat sangat sangar. Cocok sekali menjadi seorang mafia yang kejam. Tapi kenapa otaknya tidak sesuai dengan tampangnya," ucap Leon dalam hati.
"Kau sendiri yang bilang tidak menyentuhnya. Bagaimana dia bisa hamil jika tidak kau sentuh?" tanya Brandon. Dia sangat kesal dipermainkan oleh Zack.
"Bayi tabung," jelas Zack.
Brandon sampai melongo mendengarnya.
"Bagaimana bisa kau melakukan itu?" tanya Brandon.
"Hahaha," lepas sudah pertahanan Leon. Dia sudah tidak tahan lagi menahan tawanya.
__ADS_1
Salah seorang pengawal segera menyikut atasannya itu. Sebenarnya dia sendiri juga ingin tertawa dari tadi. Tapi dia tidak berani. Begitu juga dengan pengawal lainnya dari pihak Zack dan Brandon, mereka bersusah payah menahan tawa. Nyali mereka lebih ciut dari pada tuan Leon.
"Tentu saja bisa. Mengapa harus tidak bisa?" Zack balas bertanya.
Kepala Brandon semakin berdenyut. Didalam otaknya dia memikirkan bayi dan tabung. Dia berpikir bagaimana memasukkan bayi ke dalam tabung atau tabung yang dimasukkan ke dalam bayi.
Zack menghela panjang napasnya. Dia pikir Brandon adalah lawan yang tangguh. Ternyata tidak sesuai ekspektasi nya. Dia menyuruh Leon memberinya penjelasan pada Brandon.
Leon yang sigap segera membuka iPad dan mencari informasi tentang bayi tabung. Setelah mendapat informasi itu, dia meminta izin kepada Brandon untuk menjelaskannya.
"Maaf tuan, jika berkenan aku akan menjelaskannya kepada anda," tutur Leon dengan sopan.
Brandon merasa seperti orang bodoh saja saat mendengar ucapan Leon. Dia segera mengibaskan tangan kanannya, tanda dia tidak membutuhkan penjelasan dari Leon.
"Memangnya aku terlihat bodoh tentang masalah bayi tabung!" ketus Brandon.
Leon sebisa mungkin menahan tawanya yang sudah meronta untuk keluar dari mulutnya. Dia berusaha menahannya hingga mukanya memerah.
Brandon kemudian membalikkan tubuhnya membelakangi Zack, Leon dan beberapa pengawal mereka. Dia memanggil Bixie untuk mendekat.
"Keluarkan ponselmu! Cari informasi tentang bayi tabung!" perintah Brandon pada Bixie.
Dia memberi perintah pada Bixie dengan berbisik karena tidak ingin terdengar oleh rivalnya itu. Lain halnya dengan Amber. Dia masih menangis tersedu-sedu memikirkan bagaimana nasibnya kelak.
Setelah informasi yang ingin di carinya dapat, dia segera memberikan ponsel pada tuannya. Brandon membaca sebuah artikel online yang membahas mengenai bayi tabung. Dia berusaha mencerna setiap kata demi kata agar tidak salah, dan terlihat bodoh lagi.
Leon mengamati gerak-gerik mereka dari tempatnya. Baru kali ini dia bertemu dengan orang seperti itu. Dia tahu tentang senjata, dunia mafia, bisnis, tapi tidak tahu apa itu bayi tabung. Mungkin dalam pikiran Brandon, memiliki anak itu harus berasal dari suatu hubungan suami istri.
"Ah ... ternyata seperti itu!" seru Brandon.
Lagi-lagi Leon tidak bisa menahan dirinya. Dia tertawa sampai mengeluarkan air mata. Benar saja dugaannya, pasti Brandon sedang mencari informasi tentang bayi tabung.
Brandon segera membalikkan tubuhnya menghadap Zack. Dia menatap Zack dengan tatapan serius.
"Jadi kau benar-benar tidak pernah menyentuhnya?" tanya Brandon sambil menunjuk ke arah Amber.
"Tidak!" tegas Zack.
"Sayang sekali jika kau belum pernah menikmati tubuhnya," goda Brandon.
"Aku terpaksa menikahinya karena ayahku," jelas Zack.
"Kau itu laki-laki masa di paksa menikah saja kau menurut," tutur Zack.
"Apa kau yakin dia bersih?"
__ADS_1
Brandon masih penasaran dengan hubungan mereka. Tiga tahun menikah tapi tidak pernah berhubungan sama sekali. Akan tetapi, apa bedanya dengan dia. Dia sendiri tidak pernah berhubungan dengan wanita manapun selain Amber.
Setelah pengkhianatan yang dilakukan oleh Amber padanya, dia tidak pernah berhubungan dengan wanita manapun. Pernah sekali dia mencoba untuk one night stand, tapi hasilnya nihil. Belum sempat dia melakukan apapun, dia sudah mual-mual melihat wanita di hadapannya yang seperti cacing kepanasan.
Mungkin tidak ada salahnya dia menerima Amber kembali. Mengingat Zack tidak pernah menyentuhnya sama sekali. Dia sudah lama mengamati Zack. Dia tahu jika wanita yang dicintainya bukanlah Amber. Melainkan seorang wanita yang bernama Lily.
"Aku bisa pastikan dia bersih. Tidak ada seorang lelaki pun menyentuh dirinya selama tiga tahun terakhir ini," jelas Zack.
"Baiklah aku percaya padamu. Aku akan membawanya sekarang. Setidaknya dia akan ku jadikan mesin pencetak keturunanku," tutur Brandon.
Brandon bergegas untuk meninggalkan mansion Zack. Baru saja dia hendak berdiri, Zack menghentikan langkahnya.
"Tunggu! Kau membutuhkan ini untuk membawanya pergi. Kau tidak ingin kan di cap membawa kabur istri orang."
Zack berkata sambil memperlihatkan selembar kertas. Dia memberi perintah pada Leon untuk memberikannya pada Brandon.
Brandon menerima kertas itu, dan mulai membacanya.
"Ah, benar juga," ucap Brandon.
"Pastikan dia menandatanganinya sekarang!" perintah Zack.
"Jangan khawatir! Sebelum dia keluar dari pintu itu, dia sudah menandatanganinya," jawab Brandon sambil memberikan kertas itu pada Amber.
"Satu hal lagi. Emily!" tegas Zack.
"Aku tidak akan merebutnya darimu. Dia adalah milikmu. Kita selesai hari ini," jawab Brandon dengan tegas.
"Aku senang mendengarnya," jawab Zack sambil tersenyum.
"Kau juga sudah menjaga seseorang dengan baik untukku," balas Brandon.
Amber sangat shock melihat isi surat itu. Surat itu berisi perceraiannya dengan Zack. Tapi saat ini dia tidak punya pilihan. Setidaknya masih ada Brandon yang akan menaunginya. Dengan berat hati dia menandatangani surat itu.
Brandon segera menyerahkan surat itu setelah ditandangani oleh Amber. Dia membawa Amber keluar dari mansion Zack sambil menggendongnya ala bridal.
Setelah kepergian mereka. Zack teringat untuk menghubungi supir yang membawa Emily. Baru saja dia meminta Leon untuk menghubungi supir itu, seseorang berlari dengan terburu-buru memasuki mansion.
Dia adalah salah satu dari pengawal yang mengawal Emily dan Nana keluar dari mansion.
"Tu-an," ucapnya terbata.
"Apa yang terjadi?" tanya Zack.
"Nona muda di culik!"
__ADS_1