
Zack melangkahkan kakinya ke resto, tempat dimana Lily dan Emily berada. Dengan berbekal keyakinan dan percaya diri yang kuat, dia merasa yakin jika Lily pasti akan menerimanya kembali. Langkah kakinya sudah hampir mencapai pintu masuk resto, tiba-tiba dia dihentikan oleh tiga orang pengawal yang tadi di lihatnya.
Dia ingin melawan, namun diurungkannya. Hanya melawan mereka bertiga sangatlah mudah baginya. Masalah utamanya adalah ini tempat umum. Sangat tidak mungkin dijadikan arena tinju. Apalagi ada Lily dan Emily. Kebingungannya terjawab ketika Rafa berjalan mendekatinya.
"Zack, menjauh dari Lily! jangan pernah berpikir apalagi terlintas dari benakmu untuk mendekatinya lagi!" gertak Rafa.
"Dia wanitaku," balas Zack.
"Sudah tidak lagi sejak kau meninggalkannya, geram Rafa.
Zack tidak terima dengan perkataan Rafa. Dia memajukan tubuhnya dan berniat untuk mengintimidasi Rafa. Salah seorang pengawal segera menghalanginya.
"Kau camkan itu, Zack. Menjauh dari hidup Lily! ancam Rafa, dan pergi meninggalkan Zack.
Zack ingin sekali menarik kerah baju nya dan menghujani Rafa dengan tinjunya. Belum sempat melaksanakan niatnya, ketiga pengawal itu sudah berdiri lagi tepat dihadapannya. Mereka berjejer seperti membentuk benteng manusia. Dia hanya bisa menggeram dan mengepalkan kedua tangannya.
Zack memundurkan langkah kakinya. Dia memutuskan untuk beranjak pergi dari sana. Kali ini aku gagal, next... tidak akan lagi. Dia bersumpah di dalam hatinya.
Tanpa dia sadari, kedua kakinya membawa dia ke tempat parkir mobil. Dia membuka pintu mobil dan menutupnya dengan kencang. Tak ingin berlama-lama, dia segera menghubungi Nana. Pulang adalah jalan terbaik untuk saat ini.
Cukup lama Zack menunggu Emily dan Nana. Dari dalam mobil dia dapat melihat, Nana berjalan keluar dari pintu mall. Dia terlihat kesulitan berjalan. Kedua tangannya di gunakan untuk menahan berat tubuh Emily, ditambah beberapa buah paper bag. Zack segera keluar dari mobil dan berlari menghampirinya.
Zack langsung mengambil alih Emily dari gendongan Nana. Tubuhnya sedikit bergerak dengan bibir yang sedikit manyun. Emily terlihat sangat lucu saat tidur. Melihat wajah Emily yang lucu membuat suasana hati Zack kembali normal.
Zack berjalan cukup cepat, sehingga Nana sulit untuk mengimbangi langkahnya. Nana tahu, pasti ada sesuatu yang terjadi dengan tuannya itu. Sampai di depan mobil, Nana langsung membuka pintu penumpang. Dia masuk terlebih dahulu agar Zack dengan mudah menyerahkan Emily padanya. Setelah itu dia kembali ke balik kemudi. Merasa Emily sudah nyaman di pangkuan Nana nya di dalam mobil. Zack segera menancapkan gas.
* * *
Rafa memasuki resto dengan emosi yang masih membara di hatinya. Bagaimana tidak. Hari ini dia harus menghadapi dua orang laki-laki yang sudah menghancurkan kehidupan dua sahabatnya itu.
Zack Alexander dan Keith Philips.
Dua orang pria yang sangat menyebalkan. Salah satu sifat terbaiknya adalah tidak pernah membenci musuhnya. Dia hanya ingin memberi pelajaran pada Zack dan Keith agar lebih menghargai perasaan orang lain, terutama perasaan pasangannya.
Untuk kasus Keith, dia cukup mengerti. Keith yang berniat menolong Naya justru jatuh ke dalam pelukan Naya. Tapi tetap saja harus di beri pelajaran sedikit.
Ayah dari bayi yang dikandung Naya adalah Keith Philips. Rafa sudah lama mengetahuinya sejak Lily dan Naya menginap di hotel. Dia juga tahu jika Keith berusaha mencari dan mendekati Naya. Sejak saat itu, ia memutuskan untuk menyembunyikan mereka. Dia juga menambah beberapa pengawal yang bertugas untuk menjaga mereka.
Rafa memiliki alasan yang cukup kuat atas apa yang dilakukannya. Nyatanya saat ini, hal yang dikhawatirkannya terjadi. Keith semakin gencar mencari keberadaan Naya. Sedangkan Zack, pria bodoh itu baru sadar akan kebodohan dan kecerobohannya.
* * *
Setelah Nana pergi membawa Emily dalam gendongannya. Rafa mulai menatap wajah kedua sahabatnya dengan intens.
Lily dan Naya sangat tidak suka jika Rafa menatap mereka seperti itu. Tapi mau tidak mau harus mereka hadapi juga.
"Besok lu berdua ikut gue ke kota Khatulistiwa," ucap Rafa dengan tegas.
"What?" ucap Lily dan Naya bersamaan.
"Mau ngapain?" tanya Naya.
__ADS_1
"Kapan pergi?" timpal Lily.
Pertanyaan yang hampir bersamaan di lontarkan mereka berdua membuat Rafa sedikit pusing. Dia membenarkan posisi duduknya, lalu menghela napasnya kasar.
"Pertama gue ada kerjaan disana. Lu berdua bisa ikut sambil liburan. Lagian keluarga Lily disana juga banyak. Jadi, ya itung-itung temanin gue plus liburan," jelas Rafa.
"Kedua dan terakhir, karena gue ngga mau denger ada alasan lain lagi. Kita pergi nanti malam, penerbangan terakhir," tambahnya lagi.
"What?" teriak Lily dan Naya bersamaan.
"Gila lu, Fa!" ucap mereka lagi bersamaan.
"iiihhh Fa... gue kan lagi hamil," ucap Naya.
"Kalo gue sih ok aja. Cuman masalahnya, ini udah jam berapa BAPAK RAFA?" kesal Lily.
"Belom siapin baju, ini, itu, keperluan laen. Sekarang aja nih ya, kita masih di resto mall. Tau sendiri keluar dari mall aja udah makan waktu berpuluh-puluh menit," oceh Lily.
"Tau nih Rafa. Dikira mau ke Ancol kali ..." ucap Naya.
"Gini ya nona-nona sekalian, semua udah gue siapin. Lu berdua tinggal ikut aja, duduk manis," ucap Rafa.
"What?" teriak Lily dan Naya bersama lagi.
"Aduh... bisa ngga sih lu berdua jangan teriak-teriak gitu. Gue lagi ngga kangen sama dokter THT," ucap Rafa sambil menggosok kedua telinganya.
"Lagian elu, ngomongnya enak banget. Semua udah beres. Bearti lu masuk kamar gue dong," ucap Naya.
Lily yang mendengarnya langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
Bener-bener dah ngadepin bocah bedua ini. Sabar... sabar ... Rafa menggerutu di dalam hatinya sambil mengusap dadanya.
"Ratu Naya, tuan puteri Lily udah kena penyakit amnesia ya. Mpok Ijah cuman pajangan aja ya di apartemen?" geram Rafa.
"Terus untuk baginda Ratu Naya, terakhir check up itu keadaan debay, kondisi, dan kesehatan lu dalam keadaan sehat. Gue juga udh konfirmasi ke dokter Rini. Kondisi lu siap kok buat perjalanan jauh," tambah Rafa.
"Oh ... iya ya... lupa gue kalo ada Mpok Ijah yang urusin," tukas Lily sambil menepuk jidatnya.
"Bagaimana dengan baginda Ratu, apa sudah paham?" tanya Rafa.
"He... he... he..." Naya hanya terkekeh.
Rafa melirik jam tangannya. Dia merasa sekarang adalah waktu yang tepat untuk segera menuju ke bandara."Jadi, kita pergi sekarang! jadwal penerbangan barusan gue geser ke jam tujuh!" perintah Rafa.
"Wha...."
Rafa segera menutup kedua mulut sahabatnya itu dengan tangannya. Dia tidak ingin mendengar teriakan mereka untuk yang ke empat kalinya. Dia memberi kode kepada pengawal untuk segera membereskan belanjaan Lily dan Naya.
Empat puluh menit kemudian
Mereka bertiga telah tiba di bandara Soetta. Karena ini adalah penerbangan terakhir, suasana di terminal dua tidak begitu ramai. Mereka langsung memasuki ruang tunggu.
__ADS_1
"Gue berasa kabur dari rumah deh," ucap Naya.
"Hoo ohh... baru kali ini gue pergi ke luar pulau ngga ada persiapan. Fa... gue kok ngerasa nya kek kabur dari apa gitu," ucap Lily.
Uhuk... uhuk...
Rafa yang sedang meminum air mineralnya langsung tersedak mendengar ucapan Lily. Ni anak, kadang kalo ngomong suka bener dah. Rafa berkata dalam hati.
"Eh... aki.. aki... malah batuk," ucap Naya.
Ting Tong
Selamat malam. Boarding untuk Maskapai ABC dengan nomor penerbangan XX tujuan Pontianak akan segera dimulai. Para penumpang dimohon untuk menuju gerbang D2 dan persiapkan pas naik dan identifikasi Anda. Terima kasih.
Pengumuman untuk menaiki pesawat akhirnya terdengar. Lily, Naya, dan Rafa segera beranjak dan memasuki pesawat. Rafa sengaja memilih untuk menggunakan pesawat komersial daripada jet pribadinya. Dia tidak ingin meninggalkan jejak apapun untuk Zack dan Keith.
Di dalam pesawat
"Fa... gue di pinggir ya!" pinta Lily.
"Gue takut Fa," tambahnya lagi.
Lily tidak takut ketika menaiki pesawat. Dia hanya takut ketika pesawat akan take off dan landing.
Untuk hal yang satu ini, Rafa tidak ingin berdebat dengan Lily. Dia mau saja mengalah tanpa harus berdebat panjang dengan Lily.
Perjalanan antar pulau yang mereka tempuh memerlukan waktu sekitar satu jam tiga puluh menit. Waktu yang cukup untuk mereka istirahat sejenak.
* * *
"Ly... Lily bangun," ucap Naya pelan. Dia berusaha membangunkan Lily dari tadi. Bahkan penumpang pesawat sudah mulai sepi. Lily memang sulit dibangunkan jika sudah tidur.
Naya hampir pasrah, dia sudah tidak kuasa untuk membangunkan Lily. Dia hampir berpikir untuk membiarkan Lily tidur di pesawat saja. Dia ingin tahu berapa lama Lily tidur dengan pesawat yang bolak balik Jakarta-Pontianak, dan sebaliknya.
Naya bahkan meminta bantuan pramugari. Mereka juga sudah bergiliran membangunkannya, tapi hasilnya nihil. Akhirnya Rafa memutuskan untuk menggendong nya saja.
Sumpah. Kapok gue ngajakin dia pakek pesawat malam. Bisa-bisanya tidur kek gini. Rafa sangat kesal dengan kelakuan Lily.
Hi my lovely reader. Thor ada novel yang recommended banget loh. Yukss mampir ke novel mama Reni
Judul
Cinta Yang Diabaikan
Arumi Nadya Karima, seorang wanita yang terlahir dari keluarga berada.
Hidupnya semakin sempurna saat menikahi seorang pria tampan yang bernama Gibran Erlangga.
Dua tahun pernikahannya Gibran selalu perhatian dan memanjakan dirinya. Arumi mengira dirinya wanita paling beruntung, hingga suatu hari kenyataan pahit harus ia terima.
Gibran ternyata selama ini menduakan cintanya. Perhatian yang ia berikan hanya untuk menutupi perselingkuhan. Arumi sangat kecewa dan terluka. Cintanya selama ini ternyata diabaikan Gibran. Pria itu tega menduakan dirinya.
__ADS_1
Apakah Arumi akan bertahan atau memilih berpisah?