Truly Madly Love

Truly Madly Love
Bab 87. Lagi-lagi yang Berkilauan


__ADS_3

Zack meraih tangan kanan Lily. Dia menyentuh lembut jari manisnya. Si pemilik hari manis tersipu malu saat Zack mulai menyematkan cincin berlian. Cincin itu terlihat sangat pas di jari manis Lily.


Setelah melalui pergulatan singkat dengan putri kecilnya, kini Zack merasa sangat lega telah menyelesaikan tugasnya.


Suara tepuk tangan menggema di hall hotel. Susana sunyi kini berganti riuh kembali. Ada yang bersiul, berteriak menggoda Zack dan Lily, dan ada yang menangis terharu.


Air mata Lily kembali tumpah. Zack segera meraih tubuh Lily ke dalam pelukannya. Gadisnya yang satu ini sangat mudah sekali menangis.


"Mengapa kau menangis?" tanya Zack lembut.


Lily hanya menggelengkan kepalanya.


"Jika kau menyesali keputusanmu, maka sudah sangat terlambat," tutur Zack sambil menggoda Lily yang masih berada di pelukannya.


Lily tertawa pelan. Mana mungkin dia menyesali keputusannya. Justru momen seperti ini lah yang sudah lama dinantikan olehnya. Dia tidak menyangka akhir dari kisah cintanya yang dulu dia kira sudah berakhir, justru membawa ke babak baru kehidupan asmaranya. Takdir. Ya, Lily percaya akan takdir yang sudah di tuliskan untuknya.


Keith yang sebenarnya ingin memberi kejutan pada Naya saat di kamar nanti, memilih untuk memberi kejutan untuk Naya sekarang.


"Hai, dear! Kemari kan tanganmu!" perintah Keith lembut.


"Tangan yang mana?" tanya Nanya bingung.


"Yang mana saja, dear," ucap Keith.


"Oh, ok," ucap Naya sambil memberikan tangan kanannya pada Keith.


"Apa perlu menutup mata?" tanya Naya dengan santainya.


"Untuk apa tutup mata?" Keith balik bertanya.


"Aku pikir, kau akan memberiku kejutan. Hihihi," jawab Naya sambil tertawa kecil.


"Ada-ada saja," balas Keith.


Keith yang memang ingin memberi kejutan pada Naya hanya bisa canggung saat wanitanya bisa menebak isi hatinya.


Susah juga punya pasangan yang bisa menebak isi hati dengan tepat. Ucap Keith dalam hati.


Keith meminta Naya untuk mengepalkan tangan kanannya. Dengan gerakan cepat, sebuah gelang telah melingkar di pergelangan tangan kanannya. Naya terpana melihat kilauan gelang di tangannya.


Gelang yang sederhana, namun terlihat sangat elegan. Ada tiga batu berlian yang tergantung di sana.


"Ini untukku?" tanya Naya tak percaya.


"Bukannya sudah berada di pergelangan tanganmu, dear?" tanya David.


"Hehehe. Kali saja hanya untuk percobaan," jawab Naya sambil terkekeh.


"Mana ada memberi hadiah pakai percobaan," tutur Keith lembut.


"Bagaimana caramu tadi melakukannya?" tanya Naya penasaran.


"Hanya hobi iseng saja," jawab Keith.


"Wah! Kau bisa bermain trik?" tanya Naya kagum.


"Sedikit," jawab Keith singkat.

__ADS_1


Saat Naya masih terkagum padanya, Keith segera menyematkan cincin yang dilabeli sebagai cincin pertunangan untuk Naya.


"Lihat! Sangat serasi bukan?" perintah Keith dengan lembut.


"What? Kapan kau melakukannya?" tanya Naya penuh takjub.


"Menurutmu?" Keith balik bertanya.


"Ish, kau itu," jawab Naya dengan manja.


"Kau suka?" tanya Keith.


"Sangat," ucap Naya sambil mengangkat semua jari tangan kanannya ke udara.


Cincin dan gelangnya sangat berkilauan terkena cahaya lampu kristal. Pasangan yang sangat serasi. Naya juga berharap dirinya akan menjadi pasangan yang serasi dengan Keith.


"Mengapa kau memberiku kejutan ini?" tanya Naya setelah menurunkan tangan kanannya.


"Tadinya aku ingin memberimu kejutan saat sudah berada di dalam kamar. Tapi..."


"Tapi apa?" desak Naya.


"Tentu saja aku tidak ingin melihat calon ibu untuk anakku bersedih saat kedua sahabatnya sedang bahagia," jelas Keith penuh kasih.


"Ah, kau sangat pengertian," ucap Naya.


"Apa aku tidak mendapat imbalan?" tanya Keith.


"ih, mana ada orang yang memberi kejutan meminta imbalan," oceh Naya sambil bercanda.


"Jangan pasang tampang yang seperti itu. Bisa-bisa bayi kita keluar sebelum waktunya," gerutu Naya.


"Hahaha. Aku akan pelan," bisik Keith sambil tertawa pelan di dekat telinga Naya.


"Keith!" rajuk Naya.


"Hmm," Zack berdehem.


Keith dan Naya langsung menoleh ke sumber suara.


"Maaf. Aku bukannya ingin mengganggu kalian. Kau pasti tidak ingin mengalami hal yang sama denganku saat melamar Lily," jelas Zack.


Naya tampak bingung saat mendengar ucapan Zack. Sedangkan Keith, tidak perlu waktu lama untuk mengerti maksud dari ucapan Zack.


Keith segera menutup bagian depan Naya dari tangan sampai ke pundak dengan jas nya.


"Keith! Mengapa aku harus dibeginikan?" tanya Naya tak terima.


"Ini demi keamanan mu, dear," jawab Keith sambil merapikan jas nya.


"Keamanan apa?" tanya Naya.


"Hai aunty!" seru Emily.


"Ah," seru Keith dan Zack bersamaan.


"Oh, hai sayang!" balas Naya.

__ADS_1


Emily dari jauh sudah melihat sesuatu yang berkilau. Dia meminta turun dari gendongan Rafa. Gadis kecil itu dengan riang berjalan menuju meja di mana Daddy, mommy, Nana, aunty, dan para unclenya berada.


"Huuh! Hampir saja," seloroh Keith sambil merangkul pundak Naya.


"Kau kenapa, beib?" tanya Naya curiga.


Naya mencoba untuk melepaskan jas yang menutupi bagian depan tubuhnya.


"Jangan!" seru Zack dan Keith bersamaan lagi.


Lily sudah tertawa melihat respon Zack dan Keith saat melihat Emily mulai berjalan ke arah mereka. Emily bagai musuh yang ahrus di hindari. Dia juga baru tahu jika putri sambungnya sangat menyukai sesuatu yang berkilau.


"Kalian kompak sekali. Keith, aku merasa terganggu dengan ini," keluh Naya.


"Kita bisa kembali ke kamar jika kau terganggu, dear," tutur Keith lembut.


"Tidak. Aku masih ingin berada di sini," jawab Naya.


"Kalau kau masih ingin di sini, ikuti saja perintahku," balas Keith lembut.


"Mengapa kau jadi posesif?" tanya Naya curiga.


"Elu juga, Ly. Dari tadi cekikikan melulu. Emang kenapa sih?" tanya Naya.


"Nay, Keith bener. Lu ikutin aja deh kemauannya Keith demi kebaikan elu," jawab Lily sambil terkekeh.


"Aunty kenapa memakai itu?" tanya Emily curiga.


Lily, Zack, dan Keith diam dan larut dalam benak mereka masing-masing tentang Emily.


Astaga. Putriku ini sangat terpikat dengan perhiasan. Batin Zack.


Ya ampun, Em. Sifat yang satu ini Amber banget deh. Batin Lily.


Bisa-bisanya anak balita menyukai perhiasan. Batin Keith.


"Aunty juga sebal di pakaikan seperti ini," ucap Naya.


Naya berusaha melepaskan jas lagi. Usahanya kembali gagal karena kali ini bukan hanya Keith. Lily dan Zack juga ikut-ikutan menahan tangannya agar tidak melepas jas.


"Ini pada kenapa sih?" tanya Rafa.


Rafa dan Liora melihat sedikit kegaduhan lagi di meja sahabatnya.


Lily, Zack dan Keith hanya bisa menatap ke arah Emily. Si terdakwa hany diam saja dengan tingkah imutnya. Emily sepertinya menanti jas di tubuh Naya terlepas. Dia tidak ingin beranjak dari sana.


"Ah!" seru Rafa.


"Memangnya kenapa?" tanya Liora.


Hanya kaum pria yang mengerti tanpa harus menjelaskan. Sedangkan para wanita mereka terkadang lambat berpikir.


💕💕💕


Hai my lovely readers! Aku ada novel yang recommended banget loh! Yukssss mampir 😘😘😘


__ADS_1


__ADS_2