Truly Madly Love

Truly Madly Love
Bab 35. Bahasa Melayu Pontianak


__ADS_3

Zack sangat marah ketika sadar dia telah dikelabui oleh mereka. Dia ingin segera menyusul Lily ke tempat itu. Baru saja beberapa langkah ke arah pintu kamar, dia baru sadar jika dia tidak tahu dimana tempat itu berada. Dia segera menghubungi Leon untuk mencari informasi dimana letak tempat itu yang terlihat seperti tempat makan.


Rafa sangat pintar mengambil foto sehingga dia tidak bisa melihat dengan jelas keberadaan tempat itu. Zack saat ini merasa sedikit frustasi. Dia mulai merasakan jika Rafa sengaja menghalangi hubungannya dengan Lily.


Drt ... drt ...


Zack segera menjawab ponselnya. Dia sangat kecewa ketika Leon mengatakan bahwa dia tidak mendapat informasi apapun tentang keberadaan mereka saat ini.


Setelah mengakhiri panggilan telponnya. Zack menghempaskan tubuhnya di kasur. Saat ini dia ingin menenangkan dirinya. Tidur adalah pilihan terbaiknya saat ini.


* * *


Mereka menyantap makanan mereka dengan lahapnya. Terutama Naya. Dia bahkan menambah dua porsi lagi. Atika dan Bilin memang tidak salah membawa mereka ke tempat makan itu. Rasanya benar-benar juara. Apalagi sambal nya. Ada beberapa jenis sambal yang disediakan oleh tempat makan ini.


"Sumpah ini enak banget. Pedesnya juga nampol banget dah," seru Naya.


"Ho oh. Tumben kalian berdua tahu tempat enak kek gini. Di dalam gang lagi," tutur Lily sambil bersiul berkali-kali karena kepedasan. Meskipun terasa pedas tetap saja mulutnya tidak berhenti mengunyah makanannya, bahkan dia menambah satu porsi lagi.


"Ya iyalah, kita kan sering keluar bareng sama guru les. Sering pergi ke tempat makan gitu," jelas Atika.


"Wuih ... asyik banget gurunya. Kenapa tadi ngga diajak sekalian?" tanya Rafa.


"Ya nda enak lah kak. Lagian kan ngga kenal," ucap Bilin.


"Ee ... justru tak kenal maka tak sayang," balas Rafa.


"Eh iya ya. Bener juga sih. Ha.. ha..." jawab Bilin sambil tertawa.


Mereka kembali menyantap makanan mereka. Setelah selesai mereka tidak langsung pergi. Mereka duduk santai terlebih dahulu untuk menurunkan makanan agar tidak begah. Kurang lebih setengah jam mereka bersantai. Mereka pun beranjak pergi.


Rafa tidak perlu bersusah payah memutar balik mobilnya. Dari arahan Atika, dia hanya perlu liris saja sampai di ujung gang. Ujung gang itu adalah jalan raya utama. Namun berbeda dengan jalan raya utama yang mereka masuki sebelumnya.


Ini adalah salah satu hal yang disenangi Rafa disini. Banyak jalan tembus jika ingin pergi kemana-mana tanpa harus berputar arah. Tujuan mereka kali ini adalah water front yang terletak di pusat kota.

__ADS_1


Untungnya hari ini adalah hari Selasa. Hari biasa yang sudah pasti agak sepi pengunjung. Jika sudah memasuki weekend sangat susah sekali memasuki area water front. Jangankan menginjakkan kaki di water front. Sudah bisa masuk ke area parkir saja sudah bersyukur.


Pengunjung di hari biasa tidak terlalu padat. Itu menurut Atika dan Bilin. Tapi bagi mereka bertiga, pengunjung hari ini sangat ramai. Lily tidak bisa membayangkan jika Meraka datang kesini di akhir pekan. Yang ada bukannya refreshing, tapi meroketkan emosi karena terdorong oleh orang lain.


Suasana saat ini sudah mulai gelap. Lampu-lampu di sekeliling water front sudah dinyalakan. Kapal-kapal yang membawa penumpang untuk mengarungi sungai Kapuas juga mulai merapat. Kapal-kapal itu berukuran sedang dan tampilannya juga menarik.


Mereka berjalan mengitari water front. Banyak sekali pedagang kecil yang menjajakan jajanannya. Selain itu ada beberapa kios yang menyediakan permainan. Salah satunya permainan lempar gelang. Lily merasa sangat senang berada disini. Dia masih dapat menemukan mainan masa kecilnya saat dulu di bawa kedua orang tuanya jalan-jalan ke Korem.


Dulu sebelum ada water front, Korem adalah satu-satunya tempat rekreasi di kota ini. Letaknya juga tidak terlalu jauh dengan water front saat ini. Isinya kurang lebih dengan water front. Ada banyak kapal juga yang bertengger untuk membawa penumpang mengarungi sungai Kapuas.


Tapi sekarang sudah tidak lagi. Semuanya telah dialihkan ke sini. Angin malam dari sungai sangat terasa sejuk. Untung saja mereka semua memakai sweater tambahan. Semuanya sudah dipersiapkan sebelumnya karena mereka tahu akan kemari. Cuaca malam ini juga bersahabat. Langit malam terlihat cerah dengan banyaknya bintang di langit.


Lain halnya dengan Naya. Hampir setiap kios jajanan disinggahi olehnya. Padahal tadi dia sudah makan tiga porsi ayam cabe ijo plus nasi putih. Perutnya sudah seperti karet selama dia hamil.


Sedangkan Rafa asyik mengabadikan momen mereka dengan kamera yang baru dibelinya kemarin di sebuah toko elektronik.


Setelah merasa cukup puas mengitari water front. Mereka duduk di dekat deretan kapal-kapal itu. Mereka memilih kapal mana yang akan mereka naiki. Sebenarnya di ujung tadi ada sebuah kapal dengan restoran terapung. Tapi mereka tidak ingin kesana karena kapal itu hanya menetap disitu.


Akhirnya mereka memutuskan menaiki kapal yang memiliki tingkat atas. Selain itu posisi tempat duduknya juga bagus. Dapat melihat keindahan pinggiran sungai kota Pontianak di waktu malam. Mereka menaiki kapal yang mereka pilih dengan perlahan. Mereka memilih duduk di bagian bawah saja. Karena tidak memungkinkan akan duduk di bagian atas. Kondisi perut Naya yang besar tidak mengijinkan mereka untuk melakukan itu.


"Aku pesan es teh aja," ucap Bilin.


"Aku sama aja dengan dia," ucap Atika.


"Kalo aku es kelapa muda satu," ucap Lily.


"Saya sama aja bang," ucap Rafa.


"Same dengan yang mane ye bang? Yang adek-adek atau yang kakak,?" tanya pelayan itu sopan. Bahasa Melayu Pontianak nya sangat kentara sekali. Meskipun begitu Rafa masih bisa mengerti apa yang diucapkannya.


"Seme dengen yeng kekek, bang," ucap Rafa berusaha menggunakan bahasa Melayu.


Ha ... ha ...

__ADS_1


Mereka yang mendengarnya sontak saja tertawa terbahak-bahak. Pengunjung yang duduk di sekitaran mereka juga ikut tertawa mendengar ucapan Rafa.


"ih ... nda begitu juga kaki kak ngomongnya," ujar Atika.


"Lah kan cuma banyak pakek huruf 'e' aja kan," Rafa berusaha membela dirinya.


"ih .. ngga semua kali, Fa!" ujar Lily.


"Kakak yang satu ni, pesan ape?" tanya pelayan itu pada Naya.


Pertanyaannya membuat mereka berhenti menertawai Rafa. Meskipun masih terkekeh.


"Hmm ... saya pesan es kelapa muda satu sama dua porsi kentang goreng ya," ucap Naya dengan santainya.


Haa ...


Pesanan yang keluar dari mulut Naya berhasil membuat mereka berempat terkejut dan ternganga.


"Ngga salah denger gue, Nay!" seru Rafa.


"Ya engga lah. Biasa aja kali Fa," tutur Naya dengan santainya.


"Gila lu, Nay. Ente balik-balik diomelin loh sama dokter Rina," oceh Lily.


"Bodo amat. Yang penting gue sama anak gue happy. Lagian kapan lagi makan makanan di Pontianak. Masih syukur gue pengen makannya pas disini. Coba kalo lagi di Jakarta, bisa repot lu berdua," jawab Naya.


"Eh iya juga sih ya," ucap Lily.


Penumpang kapal sudah penuh terlihat dari semua kursi yang sudah terisi. Mesin kapal mulai menyala dan perlahan menjauh dari dermaga. Kapal berlayar perlahan agar penumpangnya dapat menikmati keindahan pinggiran sungai Kapuas dan makanan yang mereka pesan.


Kali ini Rafa mengabadikan momen mereka dengan kamera ponselnya. Dia ingin melakukan kembali kejadian tadi sore di tempat makan.


~Hai my lovely readers. Aku ada novel yang recomended banget loh! yukss mampir~

__ADS_1



__ADS_2