Truly Madly Love

Truly Madly Love
Bab 45. Rahasia Amber 2


__ADS_3

"Apa putrimu bersih?" tanya tuan James Anthony.


"Tentu saja putriku bersih tuan," balas ayah Emily, Tom White.


"Aku akan menyuruh dokter keluarga untuk memeriksanya. Jika dia bersih. Pernikahan akan dilakukan satu Minggu dari ke depan."


"Baik tuan. Terima kasih sudah memilih putriku untuk putramu," tutur Tom.


"Amber, setelah semuanya beres aku ingin kau segera memberiku penerus."


"Tentu saja tuan," jawab Amber sopan.


"Aku permisi," tutur tuan James.


Amber merasa berbunga-bunga. Dirinya telah dilamar oleh salah satu keluarga bangsawan. Kesombongan mulai singgah di hatinya. Para wanita lain bersusah payah mendekati Zack dan keluarga Anthony. Sedangkan dia tidak perlu bersusah payah mendapatkannya.


Dia merasa seperti tamu VVIP yang tidak perlu mengantri atau berdesakan saat akan nonton konser.


"Kau harus memutuskan hubunganmu dengan Brandon segera!" perintahnya ayahnya.


"Ah, ayah. Bicara tentang Brandon, aku hamil anaknya."


"Apa? Bagaimana kau bisa semurah itu?" tanya ayahnya. Dia merasa ingin mencekik putri tololnya.


Amber memutar kedua bola matanya dan berkata "Apa ayah lupa? Bukannya ayah yang menyuruhku mendekatinya!"


Tom langsung berdiri dan berjalan mondar-mandir. Dia menyalahkan dirinya atas kecerobohan yang dilakukannya. Dia tidak tahu jika tuan James akan memilih putrinya sebagai menantu keluarga besar Anthony.


"Berapa bulan usia kandunganku?" tanya Tom.


"Ayah sejak kapan kau punya kandungan?" Amber bertanya sambil terkekeh.


Tom melirik putrinya dan menatapnya tajam. Bisa-bisanya dia bercanda di saat seperti ini.


"Sekitar sepuluh Minggu," tutur Amber.


"Kau sudah ke dokter kandungan?" tanya Tom


"Sudah."


"Di rumah sakit mana?" tanya Tom lagi penuh selidik.


"Di rumah sakit X dengan dokter kandungan," jelas Amber.


"Amber, siapapun pasti tahu periksa kehamilan di dokter kandungan," jelas Tom.


Tom mengambil ponselnya dan segera menghubungi seseorang. Dia ingin semua jejak kehamilan Amber tertutup rapat.

__ADS_1


"Ayah bagaimana ini? Jika tuan Anthony tahu dia pasti akan murka," Amber mulai merasa ketakutan.


"James. Belajar memanggilnya tuan James! Aku sudah menghubungi para ahli. Sekarang aku bertanya padamu? Apa kau menginginkan anak ini?" tanya Tom penuh selidik.


"Tentu saja aku sangat menginginkannya di awal. Tapi setelah tuan James datang melamar ku untuk putranya. Aku jadi tidak menginginkannya."


"Bagus. Jawaban itu yang ayah tunggu darimu. Kau akan menjalani operasi aborsi besok. Sebaiknya kau istirahat sekarang!" perintah Tom.


"Ayah kau yang terbaik," ucap Amber sambil memeluk ayahnya.


Dia beranjak dari sofa dan berjalan kembali menuju kamarnya. Pagi ini memang pagi yang cerah baginya. Langkah kakinya terhenti saat dia mengingat sesuatu yang penting.


"Ayah bagaimana dengan malam pertamaku? Dia akan tahu jika aku tidak virgin lagi," tanya Amber sambil membalikkan tubuhnya.


"Semuanya sudah ku urus. Kau hanya perlu mempersiapkan dirimu saja."


Kedua bola matanya langsung berbinar. Ayahnya memang yang terbaik. Dia memberikan ciuman jarak jauh untuk ayahnya sebelum kembali ke kamarnya dengan perasaan yang ringan seperti kapas.


Keesokan harinya, Dia berhasil melakukan aborsi dan kembali seperti semula. Semua yang berhubungan dengannya hilang tak bersisa.


Dokter pribadi yang diutus oleh keluarga Anthony juga sudah mereka bereskan. Dokter itu mau saja diajak kerjasama dengan mereka. Bahkan memberikan Amber obat yang sangat mujarab setelah aborsi.


Tepat satu Minggu kemudian Amber dan Zack menikah. Amber menjadi wanita yang sangat sombong saat itu. Dia tidak tahu jika pria yang ditinggalkannya sangat frustasi atas informasi yang didapatnya.


Tiga bulan setelah pernikahan, Amber hamil. Kesombongannya semakin menjadi-jadi. Zack yang selama ini tidak peduli dan bersikap dingin padanya mulai tampak peduli. Dia sangat menyenangi momen saat itu.


"Dia memang bukan putrimu!" teriak Amber dari dalam mobil. Dia merasa sangat frustasi saat ini. Dia menegakkan kepala dan menyeka kedua pipinya.


Dia menghidupkan mesin mobilnya dan berjalan perlahan meninggalkan area parkir. Saat ini dia butuh sesuatu yang dapat menyegarkan nya. Dia mengarahkan laju mobilnya ke salah satu pub di Jakarta.


Ceroboh. Kata yang sangat tepat disematkan pada Amber. Saat dia berlari keluar hotel, Zack yang memutuskan untuk pulang melihat Amber yang sedang berlari keluar. Dia melihat Amber memasuki mobilnya di seberang jalan.


Zack tidak pernah peduli dengan Amber. Apapun yang dia lakukan. Tapi hari ini, dia sedikit penasaran dengan apa yang dilakukan oleh Amber di hotel dan berlari keluar hotel.


Zack menghampiri mobil Amber tanpa sepengetahuannya. Kaca mobil Amber tidak tertutup rapat sehingga Zack dapat mendengar semuanya dengan jelas.


Tubuhnya menegang saat mendengar Amber berteriak histeris. Dia segera memundurkan langkah kakinya dan kembali berjalan ke halaman parkir di hotel.


Setelah berada di dalam mobilnya. Dia segera merogoh ponselnya.


Drt ... drt ...


Ponsel Nana bergetar. Dia segara menjawab panggilan ponselnya.


"Halo Tuan," sapa Nana.


"Nana, segera bawa Emily ke ruang bawah tanah!" perintah Zack.

__ADS_1


Nana segera melakukan apa yang di perintahkan tuan nya.


"Apa lagi sekarang?" tanya Nana pada dirinya sendiri.


Nana melihat wajah Emily yang sedang tertidur. Dia merasa sangat kasihan dengan nona kecilnya itu. Dia menghampiri Emily yang tertidur lelap di kasurnya. Dieratkan nya selimut Emily. Diraihnya tubuh mungil itu kedalam gendongannya.


Dia segera berjalan ke belakang lemari pakaian Emily dan turun ke bawah. Dua orang pengawal sudah menanti kedatangannya. Dia segera di kawal masuk ke dalam kamar kedua Emily.


Setelah meletakkan tubuh mungil itu diatas ranjang. Dia segera menghubungi kembali tuannya.


"Halo," sapa Zack.


"Nona muda sudah aman tuan," lapor Nana.


"Bagus Nana. Beberapa hari ke depan aku tidak akan menemui Emily. Jika dia bertanya tentang aku, katakan saja aku sedang mencari aunty nya. Dan ingat Nana. Jangan pernah lepaskan Emily dari pengawasan mu!" perintah Zack.


"Baik tuan," jawab Nana.


Zack segera memutuskan sambungan telpon itu. Dia menghidupkan mesin mobilnya dan menuju ke apartemen miliknya yang sudah lama tidak ditempatinya. Dia butuh waktu saat ini.


Sepanjang perjalanan, Zack memikirkan apa yang terjadi pada Amber. Bukan rasa peduli padanya. Melainkan rasa curiga. Pasti ada sesuatu di balik ini semua.


Di tengah perjalanannya menuju apartemen. Dia menghubungi Leon untuk memastikan sesuatu.


"Halo tuan," sapa Leon melalui telpon. Bahakan secara tidak sadar dia membungkukkan tubuhnya sebagai tanda hormat pada tuannya. Padahal tuannya tidak bisa melihat salam hormatnya itu. Dia menepuk jidatnya sendiri setelah ingat jika yang dia lakukan itu percuma.


"Leon jika Amber mencari mu katakan padanya bahwa aku pergi membawa Emily liburan lagi. Katakan padanya jika Emily merengek minta dibawa pergi liburan lagi," perintah Zack.


"Baik tuna," jawab Leon sekenanya.


"Maksudmu?" tanya Zack.


Sadar akan salah sebutnya, dia segera meminta maaf pada tuannya itu.


~Hai my lovely readers! Berikut visual para tokoh ya. ini hanya menurut Thor saja. Semoga kalian suka😘~



Lily





__ADS_1



__ADS_2