
Pesawat mereka telah mendarat setengah jam yang lalu. Kini mereka sudah berada di dalam mobil Bram. Rafa menelponnya ketika sedang berada di dalam pesawat saat pesawat akan lepas landas.
"Selamat datang kembali tuan," sapa Bram.
Rafa hanya menepuk pelan lengan kanan Bram. Mobil yang mereka tumpangi membelah jalanan ibu kota dengan kecepatan sedang. Jalan sedikit ramai malam ini. Sangat jauh berbeda dengan keadaan di Pontianak tadi. Atmosfernya juga terasa berbeda.
Lily menyandarkan kepalanya di sisi kiri, sedangkan Naya menyandarkan kepalanya di sisi kanan jendela. Rafa mengubah posisi tempat duduknya agar lebih enak bersandar. Mereka bertiga diam dalam kelelahan.
Bram yang melihatnya hanya bisa terdiam. Dia menggelengkan kepalanya. Baru kali ini dia mengendarai mobil bersama mereka dalam keadaan sunyi seperti ini. Biasanya ada saja yang mereka ributkan. Liburan kali ini sukses menyita tenaga mereka.
Satu jam kemudian, mobil hitam itu memasuki halaman parkir apartemen. Bram memarkir mobil itu dan mematikan mesinnya. Dia melihat ke samping, lalu ke belakang. Ketiga penumpangnya masih tertidur lelap. Dia sangat bingung saat ini. Harus dibangunkan atau tidak.
Jika dibangunkan nanti dia di semprot oleh tuannya. Apalagi saat ini tuannya itu sedang mengeluarkan irama musik yang indah dari hidungnya. Tandanya dia sudah berada di alam mimpi dan mungkin enggan kembali.
Jika tidak dibangunkan, dia kasihan dengan nona Lily dan nona Naya. Yang satu sedang hamil tua, dan yang satunya sudah pasti lelah menjadi baby sitter dadakan.
Leon menarik ujung lengan kemejanya agar dapat melihat waktu saat ini melalui jam tangannya. Pukul sepuluh lewat dua belas menit malam. Dia menimbang sebentar sebelum akhirnya memutuskan untuk menunggu salah satu dari mereka bangun.
Bram menghidupkan AC mobil dan keluar dari mobil perlahan. Dia juga membuka sedikit jendela mobil. Setelah merasa ketiga penumpangnya nyaman, dia menutup pintu mobil perlahan, nyaris tidak berbunyi. Dia menyandarkan tubuhnya di samping mobil sambil mengeluarkan ponselnya.
Sebuah mobil memasuki halaman parkir apartemen. Cahaya lampu yang sempat singgah di kedua matanya membuatnya silau. Mobil itu berhenti tepat di belakang mobilnya.
Bram merasa mengangkat sebelah alisnya. Dia merasa tidak kenal dengan mobil itu hingga seorang pria membuka jendela mobil dan menunjukkan wajahnya.
"Ah, kukira siapa!" seru Bram.
"Sedang apa kau disini Bram?" tanya Leon.
"Oh, aku baru saja selesai mengecek kamar apartemen tuan Rafa. Dan kau. Apa yang kau lakukan disini?" Bram berbalik menanyai Leon.
"Aku disuruh mengecek apartemen tuan mu oleh tuanku ," jawab Leon.
"Eh, untuk apa?"
"Dia ingin tahu apakah tuan Rafa sudah kembali ke Jakarta atau belum," ucap Leon.
Bram berterima kasih di dalam hatinya. Untung saja ketiga penumpangnya tertidur. Telat dua menit saja, Leon pasti akan melihat mereka berjalan menuju lift untuk naik ke lantai sebelas apartemen tuan Rafa.
Jadi menurutmu?" tanya Bram.
__ADS_1
"Ha... ha.. menurutku mereka pasti belum kembali ke Jakarta. Kau saja barusan bilang baru selesai mengecek kamarnya," tutur Leon.
Bram tersenyum. Dia berharap Leon segera pergi dari sini. Dia juga berharap salah satu dari mereka tidak bangun di saat seperti ini.
"Kenapa kau membuka jendela mobilmu dan menghidupkan AC?" tanya Leon penuh selidik.
"Oh, tadi tuan Rafa menelpon sangat lama jadi aku bersantai sebentar di dalam mobil. Telingaku sampai terasa panas karena terlalu lama berbincang melalui telepon. Jadi aku memutuskan untuk keluar dari mobil," jelas Bram.
"Heh, kenapa orang ini banyak tanya. Cepatlah kau pergi dari sini. Aku tidak ingin mendapat masalah disini." Bram bermonolog didalam hatinya.
"Oh, Ok. Aku pergi dulu," ucap Leon.
Akhirnya Bram bisa bernapas lega saat melihat Leon yang mulai menaikkan kaca jendelanya.
"Eh, tunggu Bram! Apa kau bisa membantuku lagi?" tanya Leon.
Bram sudah hapal jika ada penambahan kata lagi. Artinya dia pasti meminta bantuan yang sama seperti sebelumnya.
"Apa yang bisa aku bantu?" tanya Bram dengan santai.
"Hanya masalah kecil saja," tutur Leon.
"Bagimu masalah kecil, tapi bagiku itu pasti masalah yang sangat besar," tukas Bram.
Sejauh ini dia selalu saja merepotkan Bram jika tuannya meminta informasi tentang Lily dan kawannya. Sebenarnya ada rasa tidak enak hati pada Bram. Tapi mau bagaimana lagi. Satu-satunya orang yang bisa membantunya saat ini adalah Bram.
"Aku tidak bisa janji. Tuan Rafa sedikit memberi kabar akhir-akhir ini," jawab Bram. Setidaknya dia tidak banyak berbohong pada Leon. Kenyataannya memang seperti itu. Tuan Rafa hanya akan menghubunginya jika itu adalah masalah Lily. Dia juga tidak terlalu peduli dengan urusan kantornya. Dia sangat yakin telah meninggalkan kantor dengan orang yang tepat.
"Baiklah! Setidak beri aku sedikit kisi-kisinya saja," ucap Leon.
"Kau pikir sekarang kita ini persiapan untuk ujian," keluh Bram.
Leon hanya terkekeh mendengarnya.
"Terima kasih atas bantuan mu, bro." Ucap Leon. Dia segera menghidupkan mesin mobilnya dan memutarnya ke arah luar halaman parkir apartemen.
"Huh, hampir saja!" seru Bram.
Ketika dia berbalik untuk mengecek keadaan salah satu penumpangnya itu, dia dikejutkan oleh seseorang yang ternyata dari tadi sudah bangun dari tidurnya.
__ADS_1
"Ah, tuan. Anda mengagetkanku saja," ucap Bram.
"Sejak kapan kalian menjadi akrab begitu?tanya Rafa.
"Entahlah tuan, tapi sepertinya sejak dia mencari informasi mengenai nona Lily," jawab Bram seadanya.
"Sudahlah. Lupakan! Sekarang bantu aku membangunkan kedua nona muda ini.
"Maaf tuan, aku tidak berani," tolak Bram dengan sopan.
"Ya ampun Bram cuma bangunin orang tidur saja," cecar Rafa.
"Justru orang tidur tidak boleh kita ganggu tuan. Aku tidak ingin berakhir tragis karena omelan nona Lily," jelas Bram.
"Heh, kau itu."
Rafa baru saja memasukkan setengah tubuhnya ke dalam mobil. Lily terbangun karena keributan kecil yang dibuat oleh Rafa.
Lily mengerjapkan kedua matanya. Setelah dapat melihat dengan jelas, dia segera membangunkan Naya. Untung saja membangunkan Naya sangat mudah, tidak seperti anak lainnya.
"Udah sampe ya?" tanya Naya.
"Udah. Yuks pindah ke kamar!" perintah Rafa.
"Loh emang gue ngga dianterin ke kost an?" tanya Lily.
"Idih ... sejak kapan lu balik ke kosan?" tanya Rafa.
"Eh iya iya. Tapi Fa, gue pengen balik ke kost an aja deh," rengek Lily pada Rafa.
"Udah di apartemen aja!" perintah Rafa.
"Gue kangen loh sama kamar kos gue terus sama ibu kos gue." Lily masih ingin berusaha bernegosiasi dengan Rafa.
"Ok. Tapi lu harus pilih. Balik ke kos tapi gue setop gaji lu atau balik ke apartemen, gaji tetep jalan?" tantang Rafa.
"ih ... kok gitu sih, Fa?" rengek Lily.
"Buruan pilih! Mau balik ke kost atau apartemen?" tanya Rafa lagi.
__ADS_1
~Hai my lovely readers! Aku ada novel yang recommended banget loh! Yuksss mampir ... ~