Truly Madly Love

Truly Madly Love
Bab 65. Pelarian Nana dan Emily


__ADS_3

Bob berhasil membantu Nana kabur dari Xavier. Dia tidak pernah tega jika berurusan dengan anak kecil karena dia juga memiliki seorang putri yang selalu ingin terus bersamanya. Bagaimana mungkin dia tega memisahkan seorang anak dari orangtuanya.


Semuanya sudah direncanakan olehnya saat dia mendapat tugas untuk membawa kabur nona muda Emily beserta Nana.


Setelah mengetahui kelicikan Amber, tuan James berencana mengambil Emily. Situasi yang dihadapi oleh Amber memberi tuan James sebuah kesempatan untuk mengambil Emily tanpa sepengetahuan Zack.


Hanya saja Bob tidak mengira bahwa tuan James akan membawa jauh nona Emily dari kehidupan tuan Zack. Hatinya sangat sakit jika teringat harus berpisah dari putri kecilnya yang hanya memeriksakan kondisinya di rumah sakit selama beberapa hari.


Untuk itu, dia memutuskan untuk membantu Nana dan nona Emily kabur dari Xavier yang ditugaskan untuk membawa mereka.


Xavier terlihat sangat kesal. Selama menjadi kaki tangan tuannya, dia tidak pernah sekalipun mengecewakan tuan James. Baru kali ini dia mengalami kegagalan dalam menjalankan tugas.


Dia dan Bob sudah mencari ke sekeliling ruangan mini market dan area diluar area mini market. Hasilnya nihil. Nana dan nona Emily sama sekali tidak bisa ditemukan. Mereka seperti hilang di telan bumi.


"Si al!" umpat Xavier frustasi.


Kedua tangannya di letakkan di pinggang. Dari tadi pria berbadan tegap itu mengumpat tiada putus-putusnya. Kejadian yang baru saja dialaminya membuat dia sangat frustasi. Sudah hampir dua jam dia dan Bob menyusuri area mini market. Nana dan nona Emily sama sekali tidak bisa ditemukan.


Tentu saja yang benar-benar mencari mereka hanya Xavier. Sedangkan Bob, dia hanya melakukan sekedarnya saja. Dia hanya berpura-pura mencari mereka agar tidak terlalu mencolok jika dia adalah dalang di balik menghilangnya Nana dan nona Emily.


Drrrt ... Drrt ...


Ponsel Xavier bergetar. Dia segera meraih ponsel yang berada di saku kanan celana. Di tatapnya layar ponsel. Tuan James. Nama yang saat ini masih ingin dihindarinya. Dengan berat hati, Xavier menjawab panggilan tersebut.


"Apa yang terjadi?" tanya James pada panggilan itu. Nada suaranya sangat berat. Tersirat kekecewaan disana.


"Maafkan aku tuan sudah mengecewakanmu," jawab Xavier.


"Sudah berapa lama?" tanya James.


"Kurang lebih dua jam, tuan," jawab Xavier.


"Dan kau tidak mengabari ku sama sekali!" teriak James. Emosi yang sudah satu jam tadi di tahannya kini meledak. Tugas yang diberikannya sangat mudah. Hanya menjemput seorang anak kecil dan nanny-nya yang sudah separuh baya umurnya.

__ADS_1


"Maaf tuan. Aku berusaha mencari mereka terlebih dahulu," jawab Xavier.


"Kembali sekarang!" perintah James.


"Baik tuan," jawab Xavier tegas.


Meskipun dia sudah melakukan kesalahan, dia tidak pernah mau terlihat takut di mata tuannya. Xavier tidak ingin menunjukkan kelemahan ataupun ketakutannya hanya karena sebuah gertakan saja.


"Hei, Bob! Kita kembali sekarang!" perintah Xavier. Dia langsung membalikkan tubuhnya dan melangkahkan kakinya kembali ke mobil yang pertama. Dia memilih menggunakan mobil yang pertama karena rencananya sudah gagal.


Bob segera mengikuti perintah Xavier. Sudah dari tadi dia menunggu kata 'kembali' yang berarti mereka harus segera kembali ke rumah sementara tuan James. Nana terlihat sudah sangat lelah menggendong nona Emily yang tertidur pulas. Dia sempat menatap Nana dari balik lubang udara. Memastikan bahwa keadaan mereka cukup baik.


Xavier tidak tahu jika mereka masih berada di sana. Di sebuah bilik antara gedung mini market dan tempat sampah. Pemilik mini market adalah salah satu kenalan koleganya. Dia meminta bantuan untuk dibuatkan sedikit ruang antara tempat sampah dan gedung mini market yang muat untuk dua orang.


Xavier tidak akan mungkin memeriksa sampai ke tempat sampah. Karena hal itu sangat tidak mungkin. Mana ada orang yang mau bersembunyi di dekat tempat sampah yang bau dan dipenuhi lalat bahkan beberapa ekor tikus.


Deru mesin mobil mulai terdengar. Xavier meninggalkan area mini market. Nana tidak ingin lekas keluar dari persembunyiannya. Dia harus menunggu beberapa menit agar Xavier tidak bisa melihat mereka dari balik kaca spion.


Pria itu menarik lubang angin dengan sekali sentakan. Mobil box itu sengaja diparkir disana. Mobil distribusi mini market biasa menurunkan dan menaikkan muatan, dan parkir disana. Jika rekaman cctv di putar kembali tidak akan membuat si penonton curiga. Mobil yang terparkir itu juga menutupi area yang tertangkap cctv. Seorang pria jangkung mengenakan seragam karyawan keluar dari mobil itu. Dia membuka pintu samping mobil.


"Apa anda bisa keluar nyonya?" tanya pria itu.


"Siapa anda?" tanya Nana.


"Aku yang ditugaskan Bob untuk membawa kalian keluar dari sini," jawab pria jangkung itu. Tubuhnya sangat kurus dan tinggi. Sangat tidak sesuai dengan kekuatan yang dimilikinya saat menarik lubang angin itu dengan sekali hentakan.


"Tolong bantu aku menggendongnya!" pinta Nana.


Pria itu mengulurkan kedua tangannya. Dia meraih tubuh gadis kecil yang masih terlelap dalam dekapan.


Nana dan Emily telah keluar dari persembunyian mereka. Nana memasuki mobil terlebih dahulu. Setelah Nana duduk dengan nyaman, pria itu menyerahkan Emily ke pangkuan Nana. Saat ini Nana harus lebih bersabar lagi karena harus duduk diantara tumpukan berbagai macam produk makanan ringan.


Pria itu segera menutup pintu. Dia memberi aba-aba pada temannya untuk segera menyalakan mobil. Mobil box berjalan perlahan keluar area mini market.

__ADS_1


Nana memeluk erat tubuh mungil Emily. Dia yakin obat bius yang diberikan pada nona mudanya pasti akan mulai hilang efeknya sebentar lagi. Awalnya dia menolak untuk melakukan hal itu. Tapi Bob berhasil meyakinkan dirinya. Perkataan Bob sangat masuk akal. Nona mereka masih sangat kecil. Akan repot jika dia banyak meminta ini dan itu.


Belum lagi ingin ke kamar kecil seperti yang terjadi tadi sore. Jika nona kecil itu dalam keadaan sadar, mereka akan sangat mudah tertangkap. Nana mau tidak mau harus melakukan hal itu pada nona kecilnya.


Nana hanya diberi penerangan dari lampu senter. Kelelahan mulai meliputi dirinya. Rasa kantuk juga mendera. Nana menggunakan kesempatan itu untuk beristirahat sebentar.


Empat puluh lima menit kemudian. Mobil box memasuki sebuah halaman. Terdapat beberapa mobil box yang senada. Deru mesin dimatikan saat mobil sudah terparkir masuk ke dalam garasi.


Nana sempat menutup matanya saat pintu mobil itu di buka. Cahaya lampu membuat matanya sedikit silau. Pria jangkung itu segera meraih Emily tanpa diminta oleh Nana.


"Nyonya, kami hanya bisa membantu ada sampai disini," ucap pria jangkung itu.


"Anda bisa beristirahat dulu disini. Sekarang sudah hampir larut malam. Besok pagi-pagi sekali anda bisa meninggalkan gudang," ucap si supir.


"Terima kasih tuan-tuan," balas Nana sambil mengambil alih Emily.


Tubuh kecil itu mulai menggeliat. Kedua bola mata mungilnya mulai bergerak perlahan hingga terbuka sempurna.


Saat ini mereka berada di sebuah ruangan. Yang sebenarnya adalah sebuah kantor. Ada alas di lantai yang cukup tebal sudah dipersiapkan untuk mereka beristirahat.


"Nana, hoam ... Kita dimana? hoam," tanya Emily sambil menguap.


"Kita ada di suatu tempat sayang,"


"Dimana Nana? hoam," tanya Emily sambil menguap.


"Sudahlah. Em tidur lagi ya. Pasti masih ngantuk. Besok Em dan Nana akan bermain," bujuk Nana.


"Wah, main. Em mau Nana," jawab Emily semangat.


Nana tersenyum melihatnya. Dia membaringkan Emily diatas alas yang sudah disiapkan, dan mulai menepuk pelan bokong gadis kecil itu.


Nana sangat bingung harus pergi kemana. Ponselnya sudah di buang. Ingin kembali ke mansion sangat tidak mungkin. Bisa jadi sebelum mereka tiba di mansion justru tertangkap oleh anak buah tuan James. Bingung, khawatir, sedih, semua bercampur aduk di dada Nana hingga membuatnya sesak.

__ADS_1


__ADS_2