Truly Madly Love

Truly Madly Love
Bab 77. Terkuak


__ADS_3

"Maksudmu, tidak kotor? Apa hubungannya dengan Amber?" tanya Lily.


"Maksudnya, nona. Tuan Zack sama sekali tidak pernah menyentuh Amber," jelas Leon.


Lily terlihat berpikir sangat keras. Kedua alisnya sampai tertekuk. Dia membayangkan tubuh Amber yang dipenuhi oleh berbagai macam kotoran. Semakin dipikirkan, kepalanya semakin sakit. Dia sudah pernah bertemu dengan Amber sebelumnya. Tubuh Amber baik-baik saja. Bahkan, wanita itu sangat cantik. Sangat jauh dari dirinya.


Bagian mananya yang kotor ya? Lily bermonolog di dalam hatinya.


Gadis itu tidak mencerna penjelasan Leon dengan baik. Leon dapat mengetahui dari raut wajahnya.


"Ehem. Maaf nona. Izinkan aku untuk menjelaskannya lagi," ucap Leon yang berhasil membuyarkan lamunan Lily.


Ting tong ...


Belum sempat Lily membalas ucapan Leon, bel pintu kamar berbunyi. Lily tahu pasti pelayan hotel yang mengantarkan makanan untuk Emily. Leon yang juga mendengarnya, langsung melangkahkan kedua kakinya menuju pintu kamar. Dia segera membuka pintu kamar. Di sana berdiri dua orang pelayan hotel. Salah seorang pelayan itu mendorong troli yang berisi berbagai macam menu makanan.


Leon menaikkan sebelah alisnya sedikit. Dia bingung melihat aneka macam menu makanan yang sangat tidak mungkin dihabiskan oleh seorang balita.


Kedua pelayan hotel segera masuk setelah dipersilahkan oleh Leon. Mereka segera memindahkan makanan yang berada di service stand trolley (troli khusus membawa makanan), dan menyusun dengan rapi di atas meja makan.


Emily yang melihat berbagai jenis makanan langsung turun dari pangkuan Lily. Dia berjalan ke arah meja makan. Emily menarik kursi dan berusaha naik ke atas kursi.


Gadis kecil itu terlihat kesusahan saat akan menaiki kursi. Bokongnya terlihat sangat lucu ketika bergerak ke kanan dan ke kiri. Lily yang melihatnya segera meraih tubuh kecil Emily. Dia menahan tubuhnya agar tidak terjatuh.


"Pelan-pelan, sayang," ucap Lily.


"Ok, mommy," ucap Emily sambil tersenyum menampilkan sederet giginya yang putih dan rapat.


"Kami permisi, tuan dan nyonya," tutur seorang pelayan hotel.


"Selamat menikmati hidangannya," timpal salah seorang pelayan lain.


Kedua pelayan itu segera keluar setelah meyelesaikan tugas mereka. Leon menutup pintu kamar dan menguncinya.


"Duduklah, Leon! Kita makan bersama!" perintah Lily pada Leon.


Kebetulan sekali, tadi pagi dia tidak sempat sarapan. Karena melihat nona Emily, dia segera mengurungkan niatnya.


Kruyuk


Emily kecil langsung menoleh ke arah Leon. Dia sangat hafal dengan suara yang baru saja didengarnya. Suara yang sama saat cacing di perutnya minta makan.

__ADS_1


"Wah! cacing uncle lapar. Hihihi," ucap Emily sambil tertawa kecil.


"Duduklah Leon!" perintah Lily.


Leon segera menghampiri mereka, dan duduk bersama. Jika dilihat, mereka seperti keluarga kecil yang harmonis sedang menikmati makan bersama. Sempat terlintas dalam pikiran Leon. Jika tuannya melihat, sudah dipastikan akan murka.


Nona Lily sangat perhatian. Sungguh seorang wanita yang sangat pantas menjadi seorang ibu dan berumah tangga. Hah, andai saja aku bertemu duluan dengan nona Lily sebelum tuan. Ya ampun, Leon kau ingin memendekkan umurmu, ya. Leon bermonolog di dalam hati.


Lily, Leon, dan Emily menikmati sarapan pagi mereka dengan damai. Sesekali Lily membantu Emily dengan menyuapinya.


Setelah selesai dengan menu makanan utama, mereka kini beralih memakan menu dessert.


"Oh iya, Leon. Bisa kau jelaskan lagi yang tadi terpotong?" tanya Lily.


Dia baru teringat akan bahasan mereka tentang Amber. Sesuatu yang berhubungan dengan bersih.


"Jadi begini nona. Tuan Zack sama sekali tidak pernah menyentuh Amber. Tidak pernah berhubungan dengannya sekalipun," jelas Leon.


"A-pa?" tanya Lily terkejut.


"Tapi, bagaimana Emily hadir?" cecar Lily dengan pertanyaan lain.


Uhuk ... uhuk ...


Uhuk ... uhuk ...


"Anda tidak apa-apa, nona?" tanya Leon.


Lily masih terbatuk-batuk. Dia hanya bisa mengibaskan tangan kanannya ke udara didepan wajah Leon. Dia berusaha mengatur nafas, agar bisa mengontrol kembali dirinya.


"Coba ulangi yang kau katakan?" tanya Lily setelah bisa mengontrol kembali dirinya.


"Bayi tabung, nona. Amber bersedia mengandung nona Emily dengan cara bayi tabung. Meskipun sebenarnya, wanita itu rela saja jika harus secara alami. Pfft," tutur Leon sambil tersenyum pelan.


"ish, kau itu Leon!" kesal Lily.


"Bagaimana mereka tidur?" tanya Lily dengan polosnya.


"Maksud anda, nona?" goda Leon.


"Ah, tidak-tidak. Lupakan pertanyaan ku!" ucap Lily sambil memalingkan wajahnya dari Leon.

__ADS_1


Dia sangat yakin saat ini wajahnya pasti sudah sangat merah. Rasa sesal mengisi seluruh ruang di hatinya. Bisa-bisanya dia menanyakan hal seperti itu pada Leon. Sungguh sangat memalukan.


"Mereka tidur terpisah. Sejak awal menikah mereka tidak pernah berada di dalam satu kamar yang sama," jelas Leon.


Lily segera memalingkan wajahnya. Rasa penasaran berhasil menghajar rasa malu yang dari tadi bertengger di hatinya.


"Kau yakin?" tanya Lily tak percaya.


"Nona, aku dan kepala pelayan yang mengurusi segala kebutuhan tuan Zack," jelas Leon.


"Aku masih tidak percaya. Masa Zack tidak tergoda sedikitpun?" tanya Lily.


"Nona, aku tidak bisa meyakinkan dirimu akan hal itu. Anda bisa menanyakan langsung pada tuan Zack," jelas Leon.


"ish, mana aku berani. Kau tau sendiri pertama kali kami bertemu saja, dia tidak mengenalku. Aku tahu walaupun dia berpura-pura, tapi itu sangat menyakitkan," balas Lily.


"Mommy, Em sudah kenyang. Em mau nonton ya," ucap Emily.


"Oh, ok sayang. Sebentar aunty pilihkan dulu acara yang baik untukmu!" ucap Lily pelan sambil menggendong tubuh mungil Emily.


"Wah! aunty rasa berat badanmu semakin bertambah," goda Lily.


"Cacing di perut Em minta makan terus sih. Hihihi ..." ucap Emily sambil terkekeh.


"Ok. Ayo kita nonton!" ajak Lily sambil menggendong Emily melangkahkan kakinya menuju sofa.


Presidential suite memang sangat berbeda. Kamarnya saja sudah seperti apartemen mini. Wajar saja jika Emily kecil sangat betah di sana. Selesai mendudukkan Emily dan memilihkan acara yang baik untuknya, Lily segera berjalan kembali ke meja makan. Dia ingin melanjutkan kembali percakapan antara dia dan Leon.


Lily kembali mendaratkan bokongnya di atas kursi yang tadi dia tinggalkan. Dia menatap Leon tajam. Pria itu tahu jika tatapan Lily terhadapnya pasti menuntut sebuah penjelasan.


"Mereka menikah karena terpaksa. Terpaksa bagi tuan Zack. Dari pihak Amber tentu saja menerimanya dengan senang hati. Berbagai cara sudah dilakukan oleh tuan Zack, namun hasilnya nihil. Apalagi..." ucapan Leon terhenti.


Dia berusaha menimbang-nimbang, apakah perlu mengatakan yang sebenarnya atau hanya sekedarnya saja.


"Apalagi apa, Leon?" tanya Lily tak sabaran sambil mengguncang tangan Leon.


💕💕💕


Hai my lovely readers! Aku ada novel yang recomended banget loh.. yuksss mampir


__ADS_1


__ADS_2