Truly Madly Love

Truly Madly Love
Bab 14. Naya Bailey not Balet ...


__ADS_3

Lily mengusap kening sahabatnya itu. Sesekali dia juga mengelap keringat yang mengucur di wajah Naya. Perasaannya semakin kacau karena jalan terlihat macet. Dia ingin meminta supir tadi online itu untuk cepat tapi tidak mungkin. Untung saja kemacetan itu tidak berlangsung lama.


Lima belas menit kemudian mereka tiba di pintu depan salah satu rumah sakit besar di Jakarta. Lily segera turun dan mengambil kursi roda yang sudah tersedia di depan ruang IGD.


Tak hanya Lily yang terlihat cekatan. Salah satu perawat IGD yang sedang bertugas segera membantunya.


Naya turun perlahan dari mobil. Dia sempat mengernyitkan sebelah alisnya.


"No. Jangan pakek kursi roda." ucapnya lemah.


Lily tidak mau mendengar keluhan Naya. Dengan cepat dia segera mendudukkan Naya di kursi roda. Perawat yang tadi datang bersamanya segera mengambil alih. Dia mendorong kursi roda perlahan masuk ruang IGD.


Setibanya di ruang IGD, Naya segera dipindahkan ke atas brankar. Seorang dokter jaga segera menghampiri mereka. Dokter wanita itu segera memeriksa Naya.


Setelah mendapat keterangan dari Lily dan si pasien, dokter menyarankan untuk memberikan Naya cairan infus agar tubuhnya bisa segar kembali. Karena muntah yang berlebihan membuat Naya mengalami dehidrasi.


* * *


Lily masih dengan setia menemani Naya yang tertidur di atas brankar. Kondisinya sudah semakin membaik. Wajahnya sudah tak terlihat begitu pucat seperti tadi pagi.


Drt ... drt ... drt ...


Suara ponsel Lily bergetar. Dia sengaja mengheningkan suara ponselnya. Ia meraih ponsel dari dalam tas nya.


Rafa


Lily segera menjawab panggilan Rafa.


"Halo, Fa." sapa Lily.


"Lu sama Naya dimana, Lu?" tanya Rafa.


"Kita berdua di rumah sakit, Fa." ucap Lily.


"Rumah sakit? Siapa yang sakit? Rumah sakit mana?" serentetan pertanyaan Rafa hampir sama panjangnya dengan pertanyaan Naya kemarin.


"Naya yang sakit. Tadi pagi muntah-muntah. Sekarang udah ngga apa-apa. Tapi Naya masih tidur. Di rumah sakit MM di ruang IGD." jawab Naya.


"Ok. Gue sama Liora kesana." ucap Rafa sambil memutuskan panggilan ponselnya.


Lily meletakkan kembali ponselnya. Dia sangat kasihan dengan Naya. Dia tersadar lagi jika bukan hanya dirinya yang menderita karena cinta. Sahabat baiknya juga bernasib sepertinya. Hanya saja berbeda kasus.

__ADS_1


"Naya Balet." ucap seorang perawat.


Lily sempat diam menyimak nama yang barusan di sebut.


"Naya Balet. Pasien atas nama Naya Balet." ucap perawat itu lagi melalui microphone.


Lily tersadar dan segera bangkit dari kursinya. Dia berjalan ke arah perawat tadi yang memanggilnya.


"Naya Balet, ya?" tanya perawat.


"Hmm... kak namanya Naya Bailey, bukan balet." ucap Lily sambil menahan tawanya. Tak bisa dia bayangkan jika sahabatnya itu tahu jika perawat itu salah menyebut namanya.


"Oh ..." ucap perawat itu sambil mengambil kacamatanya dan menatap kembali berkas formulir pasien tadi.


"Oh iya... Naya Bailey," dia terkekeh sendiri. "Maaf ya, mba. Pandangan mata saya kurang jelas tanpa kacamata." ucapnya dengan sopan.


Lily akhirnya ikut terkekeh. "Ngga apa kak. Nama belakangnya emang kadang bikin lidah keseleo." ucap Lily.


"Ini resep yang harus di tebus ya, mba. Nanti langsung ke apotik aja. Nah ini surat rujukan untuk ke dokter kandungan. Terus tadi pesan dari dokternya, harus segera ketemu sama dokter kandungannya. Untuk sementara jangan melakukan kegiatan yang berat-berat dulu. Maklum mba kalo tri semester pertama kehamilan itu harus ekstra hati-hati. Mual muntah itu biasa mba. Tapi ingat kalo berlebihan harus segera ke dokter." kata perawat itu panjang lebar memberi penjelasan pada Lily.


Perawat itu menyerahkan kertas yang berisi resep dan berkas kepulangan pasien untuk di tandatangani sebagai penanggung jawab pasien. Naya hanya di observasi saja, tidak ada tindakan yang serius untuk menanganinya.


Lily berjalan sambil membaca resep yang tadi diberikan padanya. Dia selalu takjub dengan dokter dan petugas apoteker yang bisa menulis dan membaca tulisan dokter. Kadang tulisan awalnya huruf besar setelah itu langsung di sambung dengan garis panjang dan titik. Lily terkekeh sendiri memikirkannya.


Sesampainya di depan apotik, Lily segera menaruh resepnya di tempat yang sudah disediakan. Melihat banyaknya pengunjung rumah sakit membuatnya berpikir untuk berkeliling di sekitar apotik.


Beberapa saat kemudian ...


"Pasien atas nama Naya Bailey." ucap petugas apotik.


Lily yang mendengar nama Naya dipanggil segera berjalan ke arah loket apotik. Dia tak ingin petugas itu memanggil berkali-kali seperti sebelumnya.


Sesampainya di depan loket, petugas apotik itu langsung menjelaskan kepada Lily tentang jenis obat yang harus di konsumsi Naya dan aturan minumnya.


Lily mengangguk setiap kali petugas itu menjelaskan. Setelah selesai, petugas apotik memasukkan obat-obat itu ke dalam kresek dan menyerahkannya kepada Lily sambil berkata "Semoga segera sehat kembali," ditambah dengan senyuman.


"Terima kasih." ucap Lily sambil tersenyum.


Lily melangkahkan kakinya kembali ke ruang IGD. Dia juga membuka kresek yang berisi obat-obatan Naya. Tidak banyak, hanya ada tiga jenis obat. Dua diantaranya adalah vitamin untuk ibu hamil, dan satunya adalah obat untuk pereda mual muntah. Terlalu fokus dengan yang dilakukannya, tanpa dia sadari menabrak sesuatu di depannya.


Bruk ...

__ADS_1


Tubuh Lily terhuyung ke belakang tidak sampai terjatuh. Namun kresek berisi obat-obatan Naya terjatuh. Semua isinya berhasil terlempar keluar.


"Anda tidak apa-apa, nona?" tanya pria itu yang tak lain adalah Leon.


Lily menatap ke arah lawan bicaranya.


"Leon!" ucap Lily.


Leon tersenyum dan kemudian berkata "Maaf Nona sudah membuatmu hampir terjatuh."


Mendengar permintaan maaf Leon membuat Lily terkekeh.


"Yang seharusnya meminta maaf itu aku, aku yang tidak memperhatikan jalan sehingga menabrak mu." ucap Lily.


Lily yang baru menyadari kresek obat yang di bawanya telah berhamburan isinya, segera memungut obat-obat itu. Melihat Lily membungkuk mengumpulkan obatnya, Leon segera membantunya. Leon mendapati sekeping obat berwarna pink. Di amati nya obat itu. Gambar depannya adalah gambar seorang wanita dengan perut membuncit, dan di dalamnya terlihat gambar seorang bayi. Leon sempat tertegun melihatnya.


Ehem ... ehem ...


Lily sampai harus berdehem dengan sangat keras. Pria di depannya tiba-tiba tak bergerak seperti patung. Karena masih belum meresponnya, dia terpaksa memukul pundak kanan Leon.


Puk ... puk ...


"Eh ... maaf nona." Leon tersadar dari lamunannya dan segera berdiri.


"Kau itu sering kali mengucapkan maaf," ucap Lily.


Leon hanya tersenyum mendengar penuturan Lily.


"Bisa tolong berikan padaku obat itu!" ucap Lily sambil menunjukkan jari telunjuknya ke arah obat yang masih di pegang Leon.


"Oh ... maaf nona. Ini obatnya." kata Leon sambil menyerahkan obat itu kepada Lily.


"Maaf lagi." keluh Lily.


"Terima kasih. Aku duluan ya." Lily berkata sambil melangkah pergi.


Leon segera mengambil ponselnya. Memilih kontak yang akan di hubungi nya. Setelah dapat, dia segera mengubungi kontak itu.


Seseorang di seberang sana yang mendengar penjelasan Leon langsung murka. Dia menutup ponselnya tanpa mendengar penjelasan Leon lebih lanjut. Wajahnya memerah. Semua yang ada di atas meja di singkirkan nya dengan penuh amarah. Dia juga memecahkan kaca lemari dengan tinjunya. Darah segar mengucur dari tangan kanannya. Walaupun tidak banyak, tapi cukup untuk membasahi lengan kemeja putihnya sehingga berwarna merah.


"Kau milikku. Selamanya." ucap pria itu sambil menggeram.

__ADS_1


__ADS_2