
"Jangan takut sayang. Nana akan menggendong mu dengan erat," bujuk Nana.
Emily mencengkram kuat lengan baju Nana. Dia menggelengkan kepala tanda tidak ingin turut masuk ke lorong itu. Nana yang melihatnya seperti itu, hanya bisa mengeluarkan jurus andalannya.
"Bukannya Em ingin bertemu aunty Lily?" tanya Nana.
Gadis kecil itu langsung mendongakkan kepalanya. Kedua bola matanya membulat dan berbinar jika sudah menyinggung tentang aunty nya itu.
"Em mau, Nana," ucap Emily sambil menggoyangkan kedua kakinya bergantian.
"Hahaha ... jangan bergerak sayang, Nana kan sudah tua. Nanti jatuh. Kalau Em mau bertemu aunty, kita harus melewati lorong itu. Ok?" tanya Nana berusaha meyakinkan gadis kecil itu.
Emily menoleh ke arah lorong yang gelap. Sisa hujan tadi pagi masih terasa sehingga aura lorong itu terasa sedikit mencekam. Dia mengangkat kedua bahunya.
"Ba-iklah. Tapi Em tutup mata ya?" pintanya.
Gadis kecil itu berkata sambil menutup mata dengan kedua tangannya.
Kedua pengawal, Nana beserta Emily yang berada di gendongan Nana berjalan memasuki lorong. Tidak ada penerangan sama sekali. Seorang pengawal terus memegangi Nana agar mengikuti setiap langkahnya.
Dua pengawal itu dibekali dengan SENVG (Spiral Enhanced Night Vision Googles), sehingga mereka tidak masalah dalam kegelapan.
"Sudah belum Nana?" tanya Emily.
"Sedikit lagi sayang," ucap Nana.
"Lama sekali. Em mau pee Nana," tutur nya pelan.
"Tahan dulu sayang. Sedikit lagi," Nana berusaha menenangkan gadis kecil yang berada di dalam gendongannya. Sebenarnya dia sendiri tidak tahu kapan lorong ini akan berakhir.
Kriek
Pintu yang menghubungkan bagian dalam lorong dan jalan raya di luar sana terbuka. Untung saja saat ini masih mendung dan hampir malam. Sehingga kedua mata Nana tidak merasa sakit saat keluar dari kegelapan.
Mereka tidak langsung keluar. Mereka harus menunggu perintah dari Leon terlebih dahulu. Karena hanya dia yang menguasai drone saat ini.
"Aman. Berjalan ke arah kiri. Tunggu sampai mobil sedan hitam akan menjemput kalian!" perintah Leon.
__ADS_1
"Tunggu. Nona muda ingin buang air kecil. Apa kalian bisa menunggu sebentar?" tanya Nana sopan.
"Aku akan melapor pada tuan Leon dulu," ucap salah seorang pengawal.
Dia segera melapor pada Leon. Tentu saja Leon menyetujuinya. Dia tidak ingin mendapat masalah dengan tuan nya itu. Setelah pengawal itu mendapat ijin dari atasannya, dia segera memberitahu Nana agar segera menyelesaikan urusan nona muda.
Beberapa saat kemudian, Emily sudah selesai dengan urusan pribadinya. Nana merapikan pakaiannya, dan langsung menggendong Emily.
Mereka mengikuti arahan yang diberikan oleh Leon.
Baru beberapa meter mereka berjalan, sebuah mobil sedan hitam terlihat menepi tanpa mematikan mesin mobilnya.
Seseorang keluar dari pintu bagain depan. Pria itu mengenakan pakaian yang sama dengan mereka. Nana yang melihat pria itu langsung terdiam. Dia sedikit takut karena dia tahu siapa orang itu.
Pria itu langsung mengeluarkan senjata kejut listrik dari belakang bajunya.
Zrrttt ...
Salah seorang pengawal yang tadi berbicara pada Nana, tersengat oleh senjata itu. Dia langsung terjatuh, dan tidak sadarkan diri saat senjata listrik itu mengenai dirinya. Sedangkan pria yang satunya, menepikan tubuh pria yang pingsan itu.
"Kenapa lama sekali?" tanya pengawal yang tadi mengawal Nana.
"Cepat masuk!" perintah pengawal itu pada Nana.
Dengan terpaksa Nana mengikuti mereka dan masuk ke dalam mobil.
...✳️ ✳️ ✳️...
Disisi lain di dalam mansion Zack.
Amber sangat terkejut melihat Brandon yang berdiri dihadapannya. Brandon menarik tangan Amber dengan paksa. Cengkraman tangan Brandon terasa begitu kuat, dan tidak bisa dilepaskan.
Sesampainya mereka di ruang tamu. Brandon segera menghempaskan tubuh Amber. Amber terduduk di atas sofa. Dia menangis sejadi-jadinya. Tangisan Amber tidak membuat Brandon goyah sedikitpun.
"Kau ingin aku diamkan menggunakan apa?" tanya Brandon sambil memegang sebuah pisau lipat di tangan kirinya, dan sebuah pistol ditangan kanannya.
Amber yang melihat dua benda itu langsung terdiam.
__ADS_1
"Bagus! Sekarang katakan! Di mana putri ku?" tanya Brandon dengan nada tinggi.
Amber hanya bisa menggelengkan kepalanya. Dia sangat bingung bagaimana cara untuk menjelaskan lagi pada Brandon. Tatapan tajam mata Brandon membuat Amber semakin ketakutan.
Di saat seperti itu, beberapa suara langkah kaki menggema. Suara itu berasal dari ruang belakang yang kemudian semakin mendekat ke ruang tamu. Lima orang sosok pria berpakaian serba hitam berjalan bersama memasuki ruang tamu.
Amber menoleh ke arah sumber suara langkah kaki. Zack. Salah satu pria yang berjalan itu adalah Zack, suaminya. Amber merasa lega saat melihat wajah yang sudah beberapa hari yang lalu sangat dirindukannya.
Dia berusaha bangkit dari sofa dan ingin menghambur ke dalam pelukan suaminya. Dia sangat yakin jika Zack datang untuk menyelamatkannya. Brandon memberi kode pada Amber untuk kembali duduk di sofa. Dia mengayunkan pisau lipat itu ke kanan dan kiri untuk memperingatkan Amber agar tidak bertingkah terlalu jauh.
"Maaf kan aku tidak menyambut tamu ku dengan baik!" seru Zack. Dia berhenti tepat berhadapan dengan Brandon. Mereka hanya terpisah jarak sekitar dua meter.
"Oh, Tentu saja tidak, Zack. Aku lah yang menerobos masuk ke dalam mansion milikmu," tutur Brandon.
Kedua pengawal mereka saling bertatapan saat kedua tuan mereka sedang berbicara. Mereka memasang kuda-kuda, siap untuk bertarung.
Zack memberi kode pada Leon untuk memberikan beberapa kertas yang sangat berharga pada Brandon. Leon langsung melaksanakan perintah tuan nya itu.
Brandon meraih lembaran kertas itu, dan mulai membacanya satu persatu. Bukan Brandon namanya jika dia percaya begitu saja.
Zack sudah tahu tidak akan semudah itu untuk meyakinkan Brandon bahwa Emily memang benar putri kandungnya, bukan Brandon. Zack meminta Brandon untuk mengetes sendiri. Dia memberikan beberapa helai rambut Emily yang tadi sudah ditariknya kepada Brandon.
Dia juga memperlihatkan rekaman video dari awal rambut Emily di tarik hingga saat ini. Mau tidak mau, Brandon harus mempercayainya.
Brandon menyuruh Bixie untuk mengambil sampel yang berada di tangan asisten Zack, dan juga rambutnya. Masing-masing plastik itu sudah dilabeli dengan nama mereka agar tidak tertukar. Bixie segera mengundurkan diri untuk ke rumah sakit guna melakukan tes DNA.
"Baiklah! Aku pikir urusan kita selesai sampai di sini sampai hasil tes itu keluar. Untuk sementara aku akan membawa serta Amber sebagai jaminan," tutur Brandon.
"Aku tidak masalah jika kau ingin membawanya," jelas Zack.
Brandon sedikit terkejut mendengar Zack mengatakan hal seperti itu. Dia mudah sekali memberikan istrinya kepada orang lain.
Seolah mengerti dengan tatapan mata Brandon, dia segera menjelaskan secara singkat.
"Kau bisa membawanya sekarang, nanti, atau kapanpun kau mau," jelas Zack.
Amber sangat terkejut mendengar ucapan Zack. Dia merasa harga dirinya sudah di injak-injak oleh suaminya sendiri.
__ADS_1
"Apa maksudmu, Zack?" tanya Amber dengan bibir bergetar.