
"Apa Daddy?" tanya Emily antusias.
"Em harus tidur di kamar Em sendiri."
Em yang mendengar syarat dari Daddy nya langsung mengerucutkan bibir. Wajahnya tersirat tidak suka dengan syarat yang diberikan oleh Daddy nya. Zack mengerti Emily pasti tidak akan setuju.
"Jika Em tidak mau tidak apa-apa," ucap Zack.
Wajah gadis kecil itu kembali ceria. Kedua matanya berbinar.
"Tapi, Em tidak bisa punya adik," jelas Zack.
Kali ini Emily mengerutkan kening. Dia seperti sedang berpikir keras untuk mengambil keputusan antara tidur dengan mommy atau tidak.
Lily yang tadinya malu- malu mendengar percakapan di antara mereka justru tertawa kecil melihat pola tingkah putrinya yang menggemaskan. Perasaan tidak tega justru muncul di hari Lily saat membayangkan Em tidur terpisah darinya.
"Berpikirnya nanti saja, Em. Kita harus bergegas ke rumah sakit," sahut Lily.
"Sayang," protes Zack. Dia sudah hampir meyakinkan Emily untuk tidur terpisah dari mereka. Lily justru membuat buyar rencananya.
Lily tak ingin berdebat lagi. Dia hanya menunjukkan jam yang melingkar di jari kanannya pada Zack. Mereka bisa terlambat ke rumah sakit.
"Em tidak mau terlambat. Nanti Em tidak ketemu adik bayi," sahut Emily sambil meronta dari pelukan Zack minta turun.
"Ayo mommy!" ajak Emily sambil menggandeng tangan Lily dan berjalan keluar kamar.
"Bye .. bye ..." ucap Lily tanpa bersuara. Dia melambaikan tangan pada Zack dan berjalan beriringan dengan Emily keluar kamar.
Zack tersenyum melihat tingkah dua wanita berbeda generasi yang sangat disayanginya. Begitu pula dengan Nana. Meskipun ada sedikit kesedihan karena nona mudanya kurang bergantung padanya lagi. Namun, Nana senang. Emily dapat merasakan kasih sayang seorang ibu yang sudah lama dinantikannya. Wajar saja jika Emily kecil tidak ingin berpisah dari Lily.
"Aku akan membantu anda, tuan," ujar Nana.
"Terima kasih Nana," jawab Zack sambil tersenyum.
"Sebaiknya anda segera bergegas, tuan." Nana mengingatkan tuannya agar segera menyusul Lily dan Emily. Zack setengah berlari menyusul mereka.
*
__ADS_1
*
*
"Adik bayinya lucu. Pipinya gendut. Em mau seperti ini mommy," ujar Emily dengan rasa takjub melihat bayi laki-laki yang sedang tertidur di dalam box bayi.
"Lebih dekat Daddy! Em mau sentuh pipinya," perintah Emily yang digendong Zack.
"Pelan-pelan ya, Em!" seru Lily dari seberang box bayi.
"Iya mommy," jawab Emily singkat tanpa menoleh. Fokusnya saat ini tertuju pada pipi bayi laki-laki yang masih tertidur.
"Elu kapan nyusul?" tanya Naya.
"Apaan sih, Nay!" seru Lily malu sambil menundukkan wajah.
"Hmm .. Nih ya. Kalo udah kek gini nih gayanya. Aroma-aromanya masih segel nih," goda Naya.
Lily membulatkan mata saat mendengar penuturan sahabatnya. Bagaimana Naya bisa tahu jika dia masih segel.
"Ya ampun, Lily! Serius!" teriak Naya.
"Engap gue," ketus Naya.
"Elu sih pakek acara teriak segala," balas Lily tak kalah ketus.
"Hihihi, lagian kaget dong gue, elu masih segel," jawab Naya sambil terkekeh.
"Emang Zack ngga tau cara buka segelnya?" tanya Naya polos.
"Naya!" Lily setengah berteriak. Dia tidak ingin yang lain mendengar. Untung saja saat ibu Rafa belum tiba. Jika saja ada Rafa, sudah dipastikan dia akan menjadi bulan-bulanan oleh pria itu.
Kelegaan Lily tak berlangsung lama. Suara pintu kamar mandi di kamar VIP Naya terbuka. Rafa dan Liora keluar bersama dari dalam kamar mandi.
Liora terlihat pucat dan sedikit berantakan. Rafa menggendong Liora ala bridal. Membawa istrinya seperti harta yang tak ternilai.
"Liora kenapa, Nay?" tanya Lily bingung. Dia tidak ingin menghampiri Liora hingga Rafa membaringkannya di tempat tidur yang kosong.
__ADS_1
"Nyusulin gue lah," jawab Naya sambil terkekeh.
"Hah! Lio udah isi!" teriak Lily. Kali ini teriakan Lily berhasil membuat semua yang ada di kamar ruang sakit Naya langsung menatap padanya. Baby Leon ikut berdemo dengan tangisannya. Sadar akan kesalahannya, Lily segera mengambil bayi Naya dari dalam box dan memberinya ke Naya.
"Keren kan hasil kreasi gue sama Liora!" Rafa membanggakan diri karena Liora saat ini sedang hamil muda dengan usia kandungan tujuh Minggu. Belum selesai berbangga diri, Rafa sudah berteriak kesakitan.
"Ouch, sayang! Kenapa aku dicubit?" ucap Rafa tak terima karena cubitan Liora.
Liora tidak memiliki tenaga untuk menjawab. Mual muntah membuatnya memilih hemat bicara. Akan tetapi, dia masih memiliki tenaga untuk memberi suaminya pelajaran.
"Syukurin," ledek Lily dan Naya bersamaan.
"Aunty Yora mau punya adik bayi seperti ini ya?" tanya Emily.
"Iya sayang," jawab Liora lemah.
"Daddy, Em kapan punya adik?" tanya Emily.
"Em tidurnya sama siapa?" tanya Rafa. Dia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk menggoda Lily dan Zack.
"Em tidur sama Dad dan Mom," jawab Emily jujur.
Zack yang tadinya ingin menutup mulut putri kecilnya kalah cepat dengan suara Emily. Lily hanya bisa menggerutu di dalam hati. Mampus gue. Perasaan gue ngga enak.
"Sejak kapan?" Rafa sengaja memancing Emily.
"Habis pesta-pesta." Emily menjawab Rafa dengan lancar tanpa filter.
Tawa Rafa langsung pecah saat mendengar jawaban polos keponakannya.
"Tentu saja Em belum punya adik. Daddy masih belum buka segel mommy," ucap Rafa. Pria itu tertawa sambil memegang perutnya. Dapat dia bayangkan bagaimana menderitanya Zack selama tiga bulan terakhir.
Kali ini Rafa berhasil menghindar dari cubitan Liora. Dia berpindah ke sofa saat Liora terlihat mengambil ancang-ancang untuk mencubitnya. Naya juga tak ketinggalan menertawai Lily.
"Gue ambil anak lu ya, Nay! Gue jadiin adiknya Lily." Ketus Lily.
"Eh, buat sendiri lebih seru Ly." jawab Naya.
__ADS_1
Maksud hati ingin membalas godaan mereka, yang ada Lily justru mendapat serangan balik.