
Flash back on
"Ly, gue anter ya?" tawar Rafa.
"Ngga usah Fa. Lu anter Naya aja. Kan rumah kita beda arah," jawab Lily.
"Iya gue tahu. Makanya gue sama Naya nganter lu pulang duluan. Setelah itu baru gue antar Naya. Lagian kan rumah lu deket. Cuma Lima belas menitan doang," jelas Rafa.
"Justru karena rumah gue deket. Jadi lu sama Naya ngga usah anter gue."
Lily masih bersikukuh dengan pendiriannya. Dia tahu kedua sahabatnya itu mengkhawatirkan dirinya. Sekarang saja sudah pukul sembilan malam ditambah bonus hujan lebat plus cahaya blitz kamera di awan menambah suasana menjadi sangat suram.
"Gue khawatir Lu," timpal Naya.
"Iya. Gue juga khawatir sama elu," jawab Rafa.
Di saat Rafa hendak mencoba merayu Lily lagi, tiba-tiba dua orang pengawal menghampiri dirinya. Rafa sangat terkejut melihat mereka.
"Loh kok kalian disini! Bukannya harus menjemput Rania ya?" tanya Rafa bingung kepada pengawalnya.
"Maaf tuan muda. Tuan besar menyuruh kami berdua untuk menjemput dan mengawal tuan muda terlebih dahulu. Sedangkan nona muda sudah ada pengawal lain yang menjemput," jelas salah seorang pengawal yang bernama pak Amat.
"Kapan pengawal lain pergi menjemput Rania?" tanya Rafa.
"Baru saja tuan muda," jawab salah seorang pengawal yang bernama pak Agus.
"Gila yaa! Ini udah malam banget buat Rania nunggu pengawal datang," sergah Rafa.
Dia tidak habis pikir dengan kedua orang tuanya yang lebih mengutamakan anak laki-laki daripada anak perempuan. Rafa menoleh menatap Lily. Sosok yang dicarinya sudah menghilang entah kemana.
"Ngga bisa gue cegah Fa. Lu tau sendiri dia gimana," ucap Naya.
"Nay, lu ikut gue ke tempat kursus nya Rania. Perasaan gue ngga enak Nay," ucap Rafa.
Lily yang melihat kesempatan untuk kabur dari Rafa dan Naya segera mengambil langkah seribu. Kebetulan taxi online yang dipesannya sudah tiba. Dia segera masuk ke dalam mobil taxi itu.m dengan keadaan sedikit basah.
"Sesuai titik ya mba?" tanya supir taxi online.
"Iya bang sesuai titik," jawab Lily.
Taxi online mulai mengemudikan mobilnya perlahan. Hujan turun sangat lebat membuat jarak pandang sangat terbatas.
"Mba, saya bawa mobilnya pelan aja ya. Soalnya pandangan di depan kurang jelas," jelas supir taxi online.
__ADS_1
"Iya bang, ngga apa. Yang penting selamat sampai tujuan," jawab Lily sambil mengirim pesan pada Rafa dan Naya.
Dia juga mengambil foto dirinya yang sedang berada di dalam mobil untuk meyakinkan kedua sahabatnya jika dia baik-baik saja.
Lain hal nya dengan Rafa. Pusat perhatiannya tertuju pada Rania. Adik satu-satunya yang sangat disayanginya.
Waktu saat ini menunjukkan pukul sembilan lebih sebelas dua puluh menit. Rafa menyuruh pak Agus untuk mengendarai mobil dengan kecepatan diatas rata-rata saat hujan.
"Fa, lu yang tenang dong! Gue jadi ikutan panik nih," ucap Naya yang duduk di sebelahnya.
"Sumpah Nay, perasaan gue ngga enak banget," tutur Rafa sambil sesekali menatap layar ponselnya.
Drt ... drt ...
Ponsel Naya bergetar. Dia segera menatap layar ponselnya.
"Tante Rindi," ucap Naya yang terdengar oleh Rafa.
"Halo tante," sapa Naya.
"Halo Nay. Naya, Lily sama kalian ngga pulangnya?" tanya tante Rindi.
"Lily naik taxi online, tan. Tadinya kita berdua mau anterin pulang dulu tapi Lily nya ngga mau tan," jelas Naya.
"Sekitar jam sembilan lewat dikit, tan. Mungkin sekitar dua puluh menit yang lalu," jelas Naya.
"Aduh! Udah lumayan lama juga ya. Lily masih belom sampai di rumah, Nay. Perasaan tante ngga enak," ujar Tante Rindi.
"Mungkin bentar lagi, tan. Kan tadi di area sekolah masih ujan lebat," Naya berusaha menenangkan tante Rindi.
"Semoga aja Lily ngga kenapa-kenapa ya, Nay," ucap tante Rindi sendu.
"Amin. Lily pasti baek-baek aja tan," tutur Naya menyemangati tante Rindi.
"Tante tutup ya telponnya. Kalian hati-hati di jalan."
"Iya tante. Tolong kabarin ya tan kalo Lily udah nyampe rumah," pinta Naya.
"Iya pasti. Makasih Naya," ucap tante Rindi sambil menutup panggilan telponnya.
"Kenapa Nay?" tanya Rafa yang dari tadi mendengar percakapan antara Naya dan tante Rindi.
"Lily belom sampe rumah. Tante Rindi khawatir," jelas Naya.
__ADS_1
"Macet juga kali Nay. Kan ujan," jawab Rafa.
Naya hanya terdiam. Perasaan tidak enak mulai menggelayuti relung hatinya. Dia yang tadinya masih tenang seperti terkena imbas perasaan tidak enak dari Rafa dan tante Rindi.
Mereka akhirnya tiba di depan tempat kursus Rania. Tempat itu sudah gelap gulita. Hanya ada penerangan lampu depan dan lampu jalan. Rania tidak ada di sana. Begitu juga dengan mobil jemputannya.
Rafa sempat bernapas lega karena kemungkinan adiknya sudah pulang dengan pengawal yang lain. Dia langsung menepis perasaan tidak enak yang dari tadi mengganggunya.
Baru saja dia menyuruh pak Agus untuk meninggalkan halaman tempat kursus, matanya tertuju pada mobil yang baru memasuki halaman tempat kursus Rania. Rafa mengenal mobil itu. Honda CRV berwarna abu-abu gelap.
Dia langsung membuka pintu mobil dan segera turun menghampiri mobil itu. Seorang pengawal langsung turun saat melihat Rafa keluar dari mobil.
"Dimana Rania?" tanya Rafa.
"Maaf tuan muda. Saya pikir nona muda bersama tuan muda. Kami baru saja tiba disini untuk menjemput nona muda," jelas pengawal itu.
Perasaan tidak enak itu kembali membuncah di dadanya. Detakan jantungnya terasa akan keluar dari tempatnya.
"Cepat kalian cari! Hubungi rumah!" perintah Rafa.
Naya yang melihat Rafa seperti itu. Segera turun tanpa memperdulikan gerimis yang membasahi tubuhnya.
"Kenapa Fa?" tanya Naya.
"Rania ngga ada Nay," lirih Rafa.
"Udah hubungin rumah belom Fa?" tanya Naya.
"Udah barusan. Rania belom sampe rumah," ucap Rafa. Bibirnya terlihat bergetar. Pandangan mata Rafa juga terlihat tidak fokus.
"Kita cari yuk, Fa! Mungkin Rania ikut temannya pulang," saran Naya.
"Rania anaknya tertutup Nah. Lu tau sendiri dia gimana. Dia dekatnya cuma dengan kalian berdua aja," jelas Rafa.
Naya baru teringat jika Rania adalah seorang anak yang pendiam dan tertutup. Rania sangat susah di dekati. Wajar saja dia tidak memiliki teman di sekolah dan di luaran sana.
Mereka memulai mencari Rania di daerah sekitar tempat kursus. Tapi hasilnya nihil. Rania tidak ditemukan sama sekali.
"Tuan muda!" seru pak Amat. Beliau terlihat berlari tergesa-gesa menghampiri tuan mudanya itu.
"Ada apa pak?" tanya Rafa.
"Barusan ada telpon dari rumah. Katanya disuruh ke rumah sakit internasional sekarang," tutur pak Amat.
__ADS_1
"Siapa yang sakit pak?" tanya Naya mewakili Rafa yang terlihat terdiam.