Truly Madly Love

Truly Madly Love
Bab 97. Em ... Ingin Adik Bayi


__ADS_3

"Selamat, kau sudah memecahkan rekor muri!" ucap Keith sambil tersenyum dan menjabat tangan Rafa.


"Selamat juga, kau berhutang banyak kepada kami," timpal Zack.


Rafa belum sempat menjawab, Zack dan Keith segera mengarahkannya berjalan ke meja penghulu. Keith mulai bertepuk tangan, yang kemudian di ikuti oleh semua tamu hall. Suara tepuk tangan dan tawa para tamu membahana di seluruh hall.


"Bingungnya nanti saja," bisik Zack di telinga Rafa saat mendudukkannya di atas kursi. Dia menepuk pelan pundak kiri Rafa sebelum meninggalkannya sendiri di sana.


Lily dan Naya yang melihat Rafa sudah duduk di tempat yang sudah semestinya mulai melangkahkan kaki mereka. Akan tetapi, langkah mereka terhenti karena masing-masing dari suami mereka menahan untuk ke sana.


"Sayang, aku ingin cepat selesai. Jangan ganggu Rafa lagi, please!" pinta Zack pada Lily sambil menahan pinggulnya.


Lily menatap Zack dan berdiam diri sebentar. Hingga akhirnya dia mengangguk setuju. Dia kembali ke pelukan Zack tanpa berdebat.


Lain halnya dengan Naya. Keith terlihat sedikit kesulitan menghadapi istrinya yang lebih aktif saat hamil tua. Naya berusaha keras menghampiri Rafa. Dia tidak sabar untuk mengomeli sahabat gila nya itu. Bisa-bisanya dia ke toilet dengan waktu yang cukup lama. Membiarkan Liora menunggunya untuk di resmikan dan yang paling utama yaitu membuatnya menunggu cukup lama.


Jika saja dia tidak sedang hamil, mungkin dia sudah langsung mencecar Rafa. Naya berusaha mengatur napas dengan baik. Lily dapat mendengar suara napas Naya yang keluar masuk melalui mulut.


"Tenang saja, Nay. Biar aku yang menanganinya," ucap Liora yang berjalan dari belakang Naya menghampiri Rafa.


Liora membisikkan sesuatu di telinga kiri Rafa. Lily dapat melihat posisi duduk Rafa yang berubah kaku. Entah apa yang di bisikkan Liora pada Rafa hingga berhasil membuatnya seperti itu.


Drama ijab kabul akhirnya usai setelah Rafa selesai dengan urusan pribadinya. Tiga pasang pengantin membaur di antara para tamu undangan.


Seorang pria keturunan asing menghampiri Zack dan Lily. Mata biru pria itu hampir menyerupai warna mata Zack. Tetap saja, warna biru yang dimiliki Zack lebih indah. Pria itu menyalami Zack dan Lily.


"Selamat," ucap pria itu sambil menyalami Zack.


"Terima kasih Brandon," jawab Zack sambil membalas uluran tangan Brandon.


"Ini pasti nyonya Alexander," ucap Brandon sambil melirik Lily.


Lily hanya diam saja saat dilirik. Akan tetapi, ucapan Brandon yang menyebutnya sebagai nyonya Alexander membuat Lily tersipu malu.


"Perkenalkan istriku," ucap Zack tegas.

__ADS_1


"Senang akhirnya berjumpa dengan anda nyonya Alexander. Aku Brandon," ucap Brandon sopan.


"Senang berkenalan dengan anda, tuan."


"Di mana si kecil Emily?" tanya Brandon.


Wajah Zack terlihat sedikit tegang. Lily yang menyadarinya langsung menjawab pertanyaan Brandon.


"Aku rasa Em sudah kembali ke kamar. Dia terlihat sangat menikmati suasana pesta sehingga membuatnya kehabisan tenaga," jawab Lily.


"Sayang sekali. Padahal aku ingin memberinya sebuah kado," nada bicara Brandon terdengar sedikit kecewa.


"Aku bisa menyampaikan nanti padanya," timpal Zack.


"Well, sampaikan padanya bahwa dia akan menjadi seorang kakak," ucap Brandon.


'Selamat," tutur Zack sambil menyalami Brandon.


Lily yang awalnya bingung, kini mengerti siapa Brandon. Ingatannya sedikit samar-samar tentang pria itu. Setelah Brandon menyampaikan pesan untuk Emily. Lily juga bisa menebak siapa pasangan Brandon.


"Terima kasih nyonya," balas Brandon sambil tersenyum.


"Berapa usia kandungannya?" tanya Lily.


"Satu Minggu," jawab Brandon singkat. "Aku harap Emily segera mendapat adik dari ayahnya," Brandon menimpali ucapannya sambil tersenyum.


Wajah Lily langsung memerah. Dia segera menyingkir dari pembicaraan Zack dan Brandon. Menikah dadakan saja sudah membuat jantungnya ingin melompat. Apalagi, mendengar pembicaraan yang sensitif.


"Pantas saja kau sangat memperjuangkannya," ucap Brandon sambil menyesap minuman di tangannya.


"Ya. Dia sangat pantas diperjuangkan," jawab Zack sambil melihat punggung Lily yang semakin menjauh.


"Brandon. Aku harap kau dapat menjaganya dengan ketat," ucap Zack dengan nada sedikit tegas.


"Tentu saja."

__ADS_1


*


*


Tiga bulan kemudian.


"Sayang! Cepatlah!" seru Zack.


"Sebentar!" balas Lily.


"Em, kita harus bergegas!" bujuk Lily.


"Tapi, mommy janji nanti kasi Em adik," rengek Emily sambil bergelayut manja di kaki Lily.


Lily yang tak ingin mengulur waktu hanya bisa mengiyakan permintaan Emily.


"Janji mommy," ucap Emily dengan mata yang berbinar.


"Ok," jawab Lily.


Sangat tidak mungkin untuk saat ini Emily memiliki adik dari dirinya. Tiga bulan berlalu sejak pernikahan mereka, Lily masih suci.


Bagiamana tidak? Sejak malam pengantin, Emily selalu tidur bersama mereka hingga sekarang. Zack sudah bersusah payah membujuk Emily dengan berbagai cara agar tidur di kamarnya sendiri. Namun, semua usaha Zack sia-sia.


"Em tidak ingin jawaban ok. Em ingin janji," ucap Emily dengan mengerutkan alis tanda serius.


Lily menatap lekat wajah putrinya. Dia bingung bagaimana harus menjelaskannya pada Emily.


"Tentu saja mommy dan daddy bisa memberi Em adik," sahut Zack yang sudah berada bersandar di pintu kamar. Karena Lily dan Em tidak turun-turun dari tadi, dia berinisiatif menyusul mereka. Siapa sangka dia mendengar tuntutan dari sang putri yang membuatnya senang bukan kepalang.


Lily langsung menoleh ke sumber suara. Begitu pula dengan Emily. Gadis kecil itu langsung berteriak senang sambil berlari ke pelukan Zack.


"Benar Daddy?" tanya Emily.


"Tentu saja. Tapi, ada syaratnya."

__ADS_1


Lily sudah tahu syarat yang akan diajukan oleh Zack. Dia dapat menangkap senyum nakal yang terbentuk di sudut bibir Zack.


__ADS_2