Truly Madly Love

Truly Madly Love
Bab 31. Bubur Pedas


__ADS_3

Setelah memutuskan sambungan video call nya dengan Liora, Rafa kembali berbicara dengan Lily.


"Jadi lu udah siap ketemu Keith?" tanya Rafa.


"Ntar aja deh, Fa. Gue masih kikuk."


"Lah! Tadi bukannya girang," seloroh Rafa.


"Ada yang belom lu tau, Fa."


"Emang ada yang lu sembunyiin lagi?"


Naya mengangkat kedua bahunya.


"Ngga begitu penting sih, Fa. Eh, tapi penting juga sih."


Rafa yang gemas dengan Naya, mengepal erat kedua tangannya. Mau di lempar pakek bantal, dia kasihan dengan Naya yang sedang hamil. Akhirnya dia hanya bisa melampiaskannya seperti itu.


"Ya udah, kalo masih setengah-setengah, lu pikirin dulu baek-baek. Gue tinggal dulu ya. Mau ke lobi," ucap Rafa sambil meninggalkan kamar Naya.


Rafa berjalan masuk ke dalam lift dan menekan angka satu.


Ting


Pintu lift terbuka, Rafa segera melangkahkan kakinya keluar menuju resto. Baru saja dia ingin duduk, kedua pasang matanya menangkap dua sosok yang dikenalnya.


Lily dan Zack berjalan beriringan. Seorang gadis kecil berada di dalam gendongan Lily. Ada dua orang gadis lagi yang ikut serta bersama mereka. Rafa mengenal kedua gadis itu yang sekarang sudah beranjak remaja. Rafa menatap mereka dengan tatapan kosong.


* * *


Lily, Zack, Emily, Atika, dan Bilin telah tiba di sebuah tempat makan yang cukup terkenal di kota Pontianak. Begitu sampai mereka langsung mengambil tempat duduk mereka masing-masing.


"Em tidak mau duduk di kursi bayi. Em sudah besar," protes Emily. Padahal diantara mereka tidak ada yang berniat mengambil kursi anak untuknya. Dia sudah mewanti-wanti untuk tidak diberikan kursi bayi.


Mereka tertawa mendengar ocehan Emily. Emily mengambil posisi di tengah antara Lily dan Zack. Dua adik sepupu Lily duduk berseberangan dengan mereka.


Atika dan Bilin terlihat sangat antusias membuka buku yang berisi daftar menu.


"Alah, gaya kalian buka buku menu segala. Ujung-ujungnya uang di pesen tetap aja bubur pedas," ledek Lily pada mereka.


"Em tidak mau aunty. Pedas aunty," celetuk Emily sambil menutup mulutnya dengan kedua tangan mungilnya.


Ha ... ha ...


Mereka bertiga tertawa lagi mendengar ocehan Emily. Tapi tidak dengan Zack. Karena dia sendiri tidak tahu seperti apa makanan bubur pedas itu.


"Kalo gitu, Em mau makan apa sayang?" tanya Lily sambil mengusap lembut rambut Emily.


"Em masih kenyang aunty. Em liat-liat aja," jawabnya polos.


"Ini kan udah siang sayang. Em juga baru bangun tidur. Benaran Em tidak lapar?" tanya Lily untuk meyakinkan Emily.

__ADS_1


Emily kecil hanya menggeleng. Dia justru asyik memainkan kaki dan tangannya. Memukul meja dan kursi seperti sedang bermusik.


"Jadi, kalian pesan apa?" tanya Lily pada kedua adik sepupunya itu.


"Bubur pedas!" keduanya kompak menjawab sambil terkekeh.


"Gue bilang juga apa. Bubur pedas kan ujung-ujungnya."


Lily memesan tiga porsi bubur pedas dan tiga gelas air timun.


"Kak, itu si bule ngga dipesenin?" tanya Atika sambil berbisik.


"Ngga ngerti dia makan yang begituan. Yang ada nanti kita malah repot ngurusinnya."


"Lha, kok jadi repot kak?" tanya Bilin.


"Ya iyalah, nanti banyak nanya. Ini apa, itu apa, kenapa harus dikasi nama itu makanannya. ih riweh deh pokoknya. Yang ada ngga bakalan tenang kita makan. Ntar makanan yang kita makan bukannya turun lurus masuk ke lambung, nanti malah langsung belok ke usus."


Hi ... hi ...


Merek bertiga terkekeh mendengar ucapan Lily. Tidak berapa lama, pesanan mereka pun tiba.


Pelayan meletakkan tiga mangkok bubur pedas yang masih panas, dan tiga gelas es timun. Selain itu, ada kacang tanah goreng dan ikan teri goreng. Bau bubur pedas itu menyeruak ke hidung mereka. Wanginya membuat perut tambah keroncongan.


Emily kecil saja sampai menoleh ketika mencium aroma bubur pedas. Dia meminta Lily untuk memangku nya agar bisa melihat bubur pedas itu dari dekat. Cacing di perut kecil Emily pun berdemo dengan nyaring.


Kruyuk


Ha ... ha ...


Atika dan Bilin tertawa mendengar ocehan Emily.


Meskipun cacingnya sudah berdemo. Tapi Emily enggan untuk memakan bubur pedas itu. Warna bubur pedas yang cokelat itu tampak seperti pedas. Ada berbagai macam sayuran yang di campur jadi satu, kemudian di masak bersamaan.


"Sayang mau coba? Ini tidak pedas." Lily berusaha meyakinkan Emily.


Gadis kecil itu masih bersikeras tidak mau makan bubur itu. Dia bahkan mengatakan makannya nanti saja di mall bersama Daddy.


Lily, Atika, dan Bilin menyantap bubur pedas dengan hikmat. Karena bubur pedas rasanya tidak pedas, mereka menambahkan cabe ke mangkok mereka masing-masing.


"Kenapa kalian masih menambahkan cabe? Bukannya sudah pedas," tanya Zack bingung. Dia bukanlah pecinta pedas. Tapi bukan berarti dia tidak bisa makan pedas.


"Ya nda lah kak," jawab Bilin sambil menuangkan kecap manis dan jeruk sambal ke mangkoknya. Kemudian mengaduknya agar tercampur rata sehingga menghasilkan rasa yang lebih nikmat. Setelah di rasa pas menurut seleranya, dia memasukkan satu suap bubur pedas ke dalam mulutnya.


Zack yang melihatnya di buat penasaran. Apa benar yang dikatakannya. Dia juga melirik ke Lily. Gadis itu terlihat sangat menikmati makanannya.


Dia mengambil sendok yang memang sudah disediakan di atas meja. Dia kemudian mengambil sesendok bubur pedas dari mangkok Lily, dan hap.


Ada sensasi aneh yang pertama dia rasakan. Bubur yang di campur beberapa sayuran itu memang sangat enak. Warna cokelatnya ternyata bukan dari cabe. Dia sendiri tidak tahu dari mana asal warna itu. Pantas saja di beri nama bubur pedas. Mungkin karena warnanya.


Bubur pedas Lily diracik tidak terlalu pedas. Kebetulan selera makan mereka hampir sama sehingga membuat Zack berkali-kali menyendok bubur pedas Lily.

__ADS_1


"Ehem ... ehem," Bilin berdehem dengan sangat kencang. Alhasil dia justru tersedak makanannya sendiri. Atika segera memberinya minum agar tidak semakin parah.


"Syukur-in. Makanya kalo makan itu pelan-pelan," oceh Atika.


Bilin segera menyenggol pelan lengan Atika. Dia memberi kode pada Atika untuk melihat pemandangan di depan mereka.


"Cie ... cie ... romantis amat semangkok berdua," goda Atika.


"Tadi keknya nda mau kak. Eh nda taunya mau makan bersama," timpal Bilin.


Lily baru sadar jika dari tadi Zack makan bersama dirinya. Melihat Lily berhenti makan, Zack justru mengambil alih mangkok Lily dan menghabiskan isinya.


"Lah, kok di habisin Zack?" gerutu Lily. Dia masih belum puas menikmati makanannya, Zack malah menghabiskannya.


"Ini enak, Ly." jawab Zack dengan wajah yang tidak bersalah.


"Pesan lagi saja," timpal Zack.


Bug


Lily meninju lengan Zack sambil mengomel "Makanya jangan diam saja dari tadi."


Mau tidak mau Lily akhirnya memesan satu porsi bubur pedas lagi. Zack yang mendengarnya langsung menyela "dua kak," ucapnya pada pelayan.


"Eh, ada yang ketagihan nih," goda Atika sambil terkekeh.


Dua mangkok bubur pedas yang mereka pesan akhirnya tiba. Uap panasnya masih mengepul di udara. Uap panas itu mengeluarkan aroma yang sangat menggoda dan berjoget di ujung hidung mereka sampai menyebabkan sesuatu berbunyi.


Kruyuk


"i ... cacing, jangan bikin malu Em?" perut gadis kecil itu berbunyi lagi sontak membuat mereka tertawa. Emily terlihat ingin mencicipi makanan itu dari tadi. Tapi dia takut pedas.


"Sayang mau coba?" tawar Lily.


Kali ini Emily tidak menggelengkan kepalanya tapi tidak juga mengangguk tanda setuju.


"Ini tidak pedas sayang," ucap Zack meyakinkannya.


"Hmm ... cacing Em bilang mau aunty," ucapnya malu-malu.


Lily hanya tersenyum dan mengambil satu sendok bubur pedas. Dia meniupnya perlahan sebelum menyuapi Emily.


Gadis kecil itu menerima suapannya dengan takut-takut. Ini pertama kalinya dia memakan makanan seperti ini. Satu suapan berhasil masuk ke dalam mulut kecilnya. Dia mengunyahnya perlahan dan menyesap rasanya.


"Ini enak aunty," Emily terlihat bersemangat.


"Sekarang Em yang mau bubur pedasnya bukan cacing lagi aunty," timpalnya lagi dan berhasil membuat mereka tertawa lagi.


~Hai my lovely readers. Aku ada novel yang recommended banget loh. Yukss mampir ~


__ADS_1


__ADS_2