Truly Madly Love

Truly Madly Love
Bab 91. Undangan


__ADS_3

Setelah sibuk dengan fitting gaun pengantin. Kini mereka tengah sibuk mendiskusikan undangan. Kecuali untuk Rafa dan Liora. Mereka sudah mempersiapkan jauh-jauh hari siapa saja tamu yang akan mereka undang.


Hari ini giliran mereka yang menunggu para pria yang sedang fitting outfit mereka untuk pesta pernikahan. Mereka sedang bersantai di cafe Z. Mereka tengah asyik membicarakan tamu dan kolega yang akan mereka undang.


Naya menyerahkan perihal undangan pada Keith. Dia tidak ingin ambil pusing mengenai undangan. Lagipula, kebanyakan dari tamu yang akan diundang Naya juga ada di daftar list Rafa. Dia hanya perlu menambahkan beberapa tamu dari pihak Keith.


Keith bersikeras hanya keluarga intinya saja yang cukup hadir. Selebihnya, akan dia undang saat perayaan pernikahan nanti di Seoul. Setelah berdebat ringan dengan Keith, Naya akhirnya setuju untuk perayaan pernikahan mereka di Seoul.


Sedangkan Lily. Keadaannya hampir sama dengan Naya. Bedanya kedua orang tua Lily telah meninggal dunia. Hanya Tante dan pamannya yang nanti akan hadir di pernikahannya.


"Bilin sama Atika ngga elu undang, Ly?" tanya Naya.


"Udah. Gue udah ngabarin tante-tante gue di Pontianak," jawab Lily.


"Terus?" tanya Liora.


"Mereka kagetlah, denger gue tiba-tiba mau nikah," jawab Lily sambil terkekeh.


"Gue juga pasti kaget sih kalo dapet berita kek gitu," timpal Liora.


"Sekalian gue bilang juga kalo gue udh punya anak. Cewek," timpal Lily.


"Lah! Tambah kaget dong!" teriak Naya.


"Bukan kaget lagi, gue langsung dapet khotbah," jelas Lily sambil tertawa.


"Hahahaha," mereka tertawa bersama.


"Emangnya elu ngga bilang kalo anak elu sekarang bukan bibit elu?" tanya Liora.


"Udah. Tapi, setelah tante-tante gue selesai ceramahin gue," jawab Lily.


"Ih, parah lo! Bikin orang kesel duluan," tutur Naya.


"Mereka duluan yang langsung ngerocos. Gimana mau gue jelasin di awal," jawab Lily santai.


"Terus, mereka nanti datang?" tanya Naya.


"Ngga," jawab Lily singkat.


"Kenapa?" tanya Liora.


"Anak-anaknya pada ulangan sampe hari Senin nanti. Kata mereka kalo bisa di undur, biar bisa dateng," jelas Lily.


"No!" seru Zack dari belakang.


Para pria telah selesai melakukan fitting outfit. Mereka memutuskan untuk menyusul ke cafe Z. Lily yang mengenali si pemilik suara segera menoleh ke belakang.


"Sudah selesai fittingnya?" tanya Lily sambil tersenyum.


"Sudah. Apa yang mau di undur, sayang?" tanya Zack.


"Oh! Itu hanya gurauan tante-tanteku di Pontianak. Mereka ingin hadir, hanya saja sepupu--sepupuku masih menghadapi ulangan akhir semester," jelas Lily.


"Aah!" seru Zack.


"Jadi, apa sudah fix siapa saja yang akan kau undang, sayang?" tanya Zack lembut.


"Rata-rata dari keluargaku tidak bisa hadir. Karena pernikahanku 'dadakan', sangat mendadak," ucap Lily sambil menekankan kata 'dadakan'.

__ADS_1


"Sayang, jadi kau menyalahkan ku?" tanya Zack.


"Eh, tidak! Bukan maksudku seperti itu. Aku hanya menggodamu saja," jelas Lily.


Dia merasa bersalah. Tadinya dia hanya ingin menggoda Zack saja. Tidak lebih. Siapa sangka, yang di goda justru terbawa perasaan.


Zack yang melihat Lily panik, segera menghentikan kejahilannya. Dia hanya berpura-pura bersedih untuk menggoda Lily.


"Hahaha. Aku hanya bercanda sayang. Mana mungkin hanya karena ini aku akan marah padamu. Rugi besar aku jika marah denganmu," jelas Zack sambil mencubit pelan ujung hidung Lily.


"Ish, kau itu!" kesal Lily.


"Elu sendiri gimana, Nay?" tanya Rafa.


"Bonyok gue pasti hadir lah," jawab Naya.


"Bonyok? Apanya yang bonyok, dear?" tanya Keith bingung.


Naya melirik Keith penuh tanya.


"Kau benaran tidak tahu, sayang?" tanya Naya.


"Tidak," jawab Keith.


"Bonyok itu ..."


"Sejenis makanan," sela Lily.


"Serius?" tanya Keith.


"Dua rius," jawab Lily sambil mengulum senyum.


"Mau aja di kerjain sama Lily," ucap Naya.


"Hahaha," suara tawa pecah. Lily, Liora, dan Rafa menertawai Keith.


"Jadi apa?" tanya Keith.


"Singkatan dari Bokap Nyokap," jelas Naya.


Naya yang sibuk dengan cemilan, tidak terlalu mengikuti candaan mereka. Hal yang utama saat ini adalah mengemil untuk dirinya dan buah hatinya.


"Nih, aroma-aromanya ngga tahu lagi bokap nyokap apaan!" seru Rafa.


"Aku tahu," jawab Keith.


Dia tidak ingin menjadi bahan lelucon lagi. Begini nasib jika mendapat istri berbeda negara dan bahasa. Meskipun Naya berdarah campuran. Akan tetapi, dia sangat fasih berbicara bahasa Indonesia.


"Apa?" tanya Lily.


Lily sengaja memancing Keith. Dia yakin seratus persen pasti Keith tidak tahu artinya. Zack tidak ingin ikut andil dalam mengerjai Keith. Dia sama saja dengan Keith. Tidak begitu mengerti bahasa Indonesia versi gaul. Jadi, dia lebih memilih diam saja.


Begitu juga dengan Liora. Dia asli keturunan luar. Tapi, dia sangat cepat menyesuaikan diri dalam mempelajari budaya dan bahasa suatu negara yang sering dikunjunginya.


"Yang pasti aku tahu artinya," jawab Keith sekenanya.


"Hmmm ... alamat dah. Gue yakin deh, Keith pasti ngga tahu artinya," tutur Rafa sambil terkekeh.


"Aku tahu. Hanya saja tidak begitu penting untuk dibahas," jawab Keith sambil memperbaiki posisi duduknya.

__ADS_1


"Keknya bener deh, Fa," timpal Lily.


Merasa dipojokkan dengan sebuah kata yang menurutnya tidak begitu penting membuat Keith berubah haluan. Dia lupa jika dia sahabat Naya sedikit berbeda dengan sahabat pada umumnya.


Keith membisiki Naya untuk segera beranjak dari sana dengan alasan Naya lelah.


"Hmm ... kabur deh tuh!" seru Rafa.


"Bawel lu, Fa!" seru Naya.


"Nah lo, Fa. Pawangnya udah marah. Gue ngga ikutan, ya!" ucap Lily sambil merapatkan posisi duduknya pada Zack.


Rafa tak mau ketinggalan. Dia mengikuti jejak Lily untuk mencari perlindungan. Hanya saja, Liora sengaja beranjak pergi dari sana dengan alasan ke toilet.


"Yang! Kok gitu sih! Belain ini calon suamimu!" teriak Rafa.


"Hahaha," tawa Keith pecah.


Rasa kesalnya terhadap Rafa terbayarkan. Kecuali Lily. Dia tidak bisa menaruh sesal pada Lily. Tatapan Zack sudah mengintimidasi dirinya. Membuat Keith malas berurusan dengannya.


"Udah deh main-mainnya!" ucap Naya.


"Mending sekarang balik ke hotel, yuk!" ajak Liora.


"Lah, sayang. Bukannya tadi ke toilet? Cepet banget?" tanya Rafa bingung.


"Ngga jadi!" ketus Liora.


"Ih, kenapa jadi sewot sih sayang? Abang salah apa?" tanya Rafa sambil merayu Liora.


"HAH! ABANG?" seru Lily dan Naya bersamaan.


"Gue ngga salah denger, ya?" tanya Lily.


"Kalo elu Abang, bearti Liora adek donk," seloroh Naya.


"Yah, kalo Abang dan adek ngga bisa kawin dong. Hehehe," timpal Lily sambil terkekeh.


Rafa yang berniat hanya ingin menggoda Naya justru membuat Lily dan Naya mengejeknya habis-habisan.


Liora sengaja meninggalkan mereka duluan. Dia ingin merasakan rasanya merajuk seperti wanita kebanyakan. Selama ini Liora dikenal sebagai seorang gadis yang mandiri. Tidak pernah sekalipun Liora memperlihatkan sisi manja dan merajuk.


Rafa segera mengejar Liora. Dia tidak ingin calon istrinya merajuk berlama-lama. Mengingat hari pernikahan mereka tinggal beberapa hari lagi.


"Hahaha. Syukurin!" ucap Lily dan Naya bersamaan sambil mengatai Rafa.


"Kalian ini kompak sekali!" seru Zack yang dari tadi memilih diam.


"Hihihi," Lily hanya tertawa kecil.


"Sayang. Aku akan mengundang seseorang," tutur Zack.


"Siapa?" tanya Lily.


💕💕💕


Hai my lovely readers! Aku ada novel yang recomended banget loh! Yukss mampir! Ceritanya seru banget lohh... 😘😘😘


__ADS_1


__ADS_2