
Setelah melewati bundaran, mobil mereka terus melaju memasuki pusat kota. Lily sangat menikmati waktunya saat ini. Baru saja dia berkhayal akan mengunjungi tempat-tempat favoritnya dulu, mobil sudah berhenti.
"Udah sampe, bang?" tanya Lily.
"Udah, non," jawab bang Doni.
Lily membuka pintu mobil perlahan. Dia berdiri dan melihat sekitarnya.
"Rumah kak Indy gede juga. Tempat parkirnya luas lagi. Wuih ... motornya banyak. Macem-macem merk lagi. Udah kek dealer motor aja," Lily berbicara sendiri sambil melihat ke sekelilingnya.
Dia sangat terpesona dengan kemewahan rumah kakak sepupunya Rafa. Dia mukai membayangkan bagian atas dan dalam rumah itu. Letaknya juga sangat bagus. Di pinggir jalan besar di pusat kota. Sangat memudahkan untuk wisata kulinernya.
Pletak ...
"Auw, siapa sih yang jitak kepala gue?" teriak Lily sambil menoleh ke belakang.
Rafa melebarkan senyumnya dan menjitak kening Lily.
"Lu apa-apaan sih, Fa? ngejitak gue terus," gerutu Lily.
"Gimana ngga di jitak. Gue jitak itu biar otak lu tambah encer," oceh Rafa.
"ish emangnya gue salah apa coba?" kesal Lily.
"Lu ngga salah. Yang salah otak lu. Lemot nya ngalah-ngalahin siput," ledek Rafa.
Lily mencibirkan bibirnya. Dia melihat bang Doni berjalan ke arah lift, ia pun mengikutinya karena tidak ingin berdebat dengan Rafa. Dia sengaja berjalan melewati Rafa dan menyenggol bahu Rafa dengan kuat.
"Eits, maen fisik ni," ledek Rafa.
"Sebodo amat," ketus Lily.
"Amat yang mana, Ly. Seingat gue ngga ada deh kenalan kita yang namanya Amat," goda Rafa.
"Argh," Lily berteriak sambil terus berjalan tanpa menoleh ke belakang.
Suara tawa Rafa yang kencang membuat Naya mencubit lengannya.
"Auw ... sakit, Nay." keluh Rafa.
"Bawa tuh koper gue sama Lily!" perintah Naya tanpa memperdulikan ringisan Rafa.
Lily yang sudah sampai di lantai satu langsung terperangah melihat isi bagian dalam ruangan itu. Dia terdiam mematung melihat isi ruangan itu. Di sebelah kiri ada tempat makan, di depan ada lift, di dekat lift ada beberapa sofa, meja dan kursi, ada gambar-gambar yang di sudah di susun rapi, dan terakhir di sebelah kanannya ada meja sekaligus dengan dua orang yang berdiri untuk menyambut tamu.
"Udah sadar belom, neng?" tanya Rafa tepat di belakangnya.
"i ... Rafa, bilang dong kalo kita di hotel," kesal Lily sambil menghentakkan kakinya.
__ADS_1
"Ha ... ha ... ha" kekonyolan Lily membuat Rafa menertawakannya.
"Makanya otak itu sering-sering di reparasi biar ngga lemot," Rafa berkata sambil melewati Lily.
"Fa, kok kita malah terdampar di hotel sih?" tanya Naya.
"Doni lupa, kalo rumah kak Indy lagi di renovasi. Terus kak Indy sekarang masih di kota amoy. jadi sementara kita nginap di hotel dulu selama lima hari ke depan," jelas Rafa.
Setelah selesai dengan keriwehan mereka. Mereka akhirnya bisa beristirahat di kamar mereka sendiri.
Kembali ke waktu pagi hari
Setelah menenangkan Emily, Zack segera berangkat ke perusahaan. Biasanya dia mengendarai sendiri mobilnya. Hari ini dia sangat malas, dia meminta pak Alan untuk mengantarnya ke perusahaan.
Laptop yang berada di pangkuan diabaikan nya. Layar laptop menampilkan sederetan file yang harus segera diselesaikan. Pikirannya sedang kacau saat ini. Fokus utamanya pada Lily. Menyerah dengan pikirannya, dia menutup laptop dan menaruhnya di samping.
Drt ... Drt ... Drt ...
Ponsel di sakunya jasnya bergetar.
Leon is calling
Zack segera menjawab "Ya."
"Tuan, pagi ini jam sepuluh kita ada meeting dengan perusahaan tuan Rafa. Apa tuan akan datang atau aku saja yang mewakili?" tanya Leon.
"Ba-ik," belum sempat Leon menjawab, sambungan telponnya sudah berbunyi tut ... tut ...
Leon hanya bisa menghela napas dan melihat ponselnya. Dia segera mempersiapkan berkas yang akan di bawa untuk rapat nanti.
Perusahaan Rafa
Mereka tiba lima belas menit lebih awal dari yang di jadwalkan. Zack tidak sabar ingin bertemu Rafa. Dia ingin menanyakan kemana Lily selama ini. Sejauh analisanya dari kejadian di resto mall, Rafa sangat mengetahui keberadaan Lily. Bahkan mungkin menyembunyikan Lily darinya.
Pintu ruangan rapat itu terbuka. Seorang pria tampan memasuki ruangan dengan gaya elegannya. Posturnya tidak berbeda jauh dengan tuannya.
Zack yang sudah mempersiapkan emosinya jika bertemu Rafa, kini harus kecewa. Pria yang memasuki ruangan itu adalah Bram. Bram yang akan mengurus proyek kali ini sekaligus mewakili tuannya.
Dia terdiam dan sudah tidak bersemangat lagi mengikuti meeting kali ini. Beberapa menit kemudian, dia baru menyadari satu hal yang dapat mengurangi kecewanya. Dia bisa menanyai Bram. Tanpa adanya Rafa, dia bisa lebih leluasa menanyai Bram.
"Maaf menyela mu, di mana Rafa?" Zack bertanya penuh selidik.
"Tuan Rafa saat ini sedang berada di mansion utama. Kedua orang tua nya baru saja tiba dari Belanda. Jadi untuk sementara aku yang akan menghandle semuanya," jelas Bram.
"Bagaimana dengan Lily? Bukankah dia juga bertanggung jawab dalam proyek ini?" tanya Zack sambil menatap tajam pada Bram.
"Lily sudah lama mengundurkan diri tuan," terang Bram.
__ADS_1
Zack mengangkat sebelah alisnya dan bertanya kembali "Mengapa aku tidak diberitahu akan hal itu?"
"Bukankah tidak ada hubungannya tuan?" Bram balik melontarkan pertanyaan.
"****, kenapa aku begitu bodoh. Dia benar, Lily tidak ada hubungannya dengan ini. Lily tidak sedang bekerja dengannya," batin Zack.
"Maaf, aku lupa kalo saat ini aku sedang berada di perusahaan Rafa. Aku juga lupa jika Lily tidak bekerja denganku," timpal Zack.
Alasan apa itu. Bram yang mendengarnya sampai hampir mau meledakkan tawanya. Tapi dia masih tahu diri. Pekerjaannya di pertaruhkan disini jika dia menertawakan rekan bisnis tuannya. Ya, walaupun dia yakin. Tuan Rafa juga akan menertawakan alasan yang konyol ini jika mendengarnya.
Lain lagi dengan Leon. Dia langsung tertawa mendengarnya. Parahnya lagi tawanya tidak mau berhenti. Bahkan membuatnya sampai mengeluarkan air mata.
"Ehem" Zack berdehem memberi isyarat agar Leon berhenti dari tawanya. Rasa malu mulai menghinggapi dirinya.
"Ehem, uhuk ... uhuk" Zack kembali berdehem dan disertai batuk.
"Sudah seperti iklan obat batuk saja," lirih Bram.
Leon akhir sadar dengan kelakuannya yang secara tidak sengaja membuat tuannya malu. Tapi mau bagaimana lagi, alasan tuannya sangat konyol. Mana ada bos sendiri lupa dengan perusahaan sendiri dan anak buahnya yang mana.
Merasa sudah dipermalukan oleh Leon, dia segera berdiri untuk meninggalkan ruangan itu dengan berbasa-basi pada Bram terlebih dahulu. Untung saja dia kesini dengan pak Alan. Dia sedang tidak bisa fokus dengan hal lain, apalagi harus menyetir sendiri. Mood nya benar-benar rusak hari ini.
Duduk di kursi penumpang, Zack terlihat begitu frustasi. Dia bingung harus mencari Lily kemana lagi. Mereka menghilang dalam waktu tidak kurang dari satu hari.
"Maaf tuan, kita akan kemana?" tanya pak Alan.
Sudah dua jam pak Alan menyetir tanpa arah tujuan. Karena setiap kali ditanya, tuannya itu sibuk tenggelam dengan pikirannya sendiri. Sudah berkali-kali dia menanyakan arah tujuan tuannya itu. Ini adalah pertanyaan terakhirnya. Selanjutnya dia pasrah jika tuannya tidak menjawab lagi.
Zack berpikir sejenak, lalu menyuruhnya untuk mengantarnya ke hotel miliknya. Dia memutuskan untuk menghabiskan sisa hari ini disana. Bukannya dia tidak ingin cepat pulang ke rumah. Dia bingung jika Emily menanyakan tentang aunty cantiknya.
Zack sangat tidak percaya dengan yang dikatakan Bram. Jika Rafa saat ini berada di mansion nya.
Meskipun sudah bertahun lamanya, Zack pernah mengenal Rafa cukup dekat. Dia tahu jika Rafa selalu menghindari kedua orang tuanya karena suatu alasan yang menurutnya sedikit tidak masuk akal.
"Where are you, Lily?" desah Zack.
"Apa ini hukuman untukku karena jauh darimu tujuh tahun yang lalu?" Zack memejamkan kedua matanya berharap menemukan sedikit kedamaian.
Hi... My Lovely readers! Aku punya novel yang recommended banget nih. Yukss... mampir!
judul
Ratu Dominan Menikahi Ceo Cacat
Ayreen Anatasya A'Morra harus kembali dari masa pelatihannya setelah dipanggil sang kakek. Ayree mendapati sang kakek telah terbujur kaku dengan memegang liontin ruby dengan ukiran rumit dan sebuah surat wasiat. Surat wasiat yang berisikan perintah bahwa Ayreen diminta untuk menerima perjodohan yang sudah dibuat sang kakek dengan sahabatnya. Orang tua Ayreen meninggal ketika dia berusia satu bulan. Bayi yang masih polos harus menerima kenyataan pahit itu. Tetapi ada misteri dibalik kematian orang tuanya. Ayreen tumbuh menjadi gadis luar biasa menjadi ratu yang sangat mendominasi. Keano Nataniel Wicaksana, tinggi 182cm.Memiliki temperamen luar biasa. Pria cacat yang harus duduk di korsi roda diakibatkan kecelakaan yang menimpanya.Tuan muda keluarga besar, salah satu dari 5 keluarga besar. Dia adalah pengusaha dunia bisnis dan tertampan namun misterius. Bagaimana bila sang ratu dominan disandingkan dengan Keano? Akankah Ayreen bisa menjalankan perannya dengan baik sesuai wasiat sang kakek?
__ADS_1