
Suasana kamar masih sunyi. Terlihat dua sejoli pemilik kamar masih setia dengan bunga tidur mereka. Waktu masih menunjukkan pukul setengah enam pagi. Namun, sudah cerah seperti pukul tujuh pagi.
Cahaya mentari perlahan masuk ke kamar dua sejoli itu melalui celah hingga secercah cahayanya mengenai wajah si pemilik wajah nan cantik.
Lily perlahan menggerakkan tubuh. Melakukan peregangan otot setiap kali bangun tidur. Meski begitu, matanya masih malas untuk terbuka. Tanpa Lily sadari tangan kirinya menyentuh sesuatu yang besar, keras tapi lembut.
Bukannya berhenti menyentuh, tangan Lily justru semakin meraba-raba benda keras itu. Zack yang merasakan belaian lembut pada juniornya langsung saja terbangun. Dia melihat ke bawah selimut.
Sebelah alisnya terangkat saat melihat tangan Lily bermain-main di sana. Tanpa ba bi bu be bo, Zack langsung menerkam Lily. Pagi yang cerah berawal menjadi pagi yang panas bagi Lily dan Zack.
Dua jam kemudian
"Selamat pagi, sayang." Zack mengecup kening putrinya saat mendekati meja makan.
"Mommy mana?" tanya Emily yang bingung tidak melihat mommy nya turun bersama daddy.
"Mommy masih tidur." Zack terpaksa membohongi Emily. Suatu hal jelek yang tidak ingin dia lakukan dan tanpa sengaja mengajarkan pada putrinya. Mau bagaimana lagi, dia tidak mungkin mengatakan pada Emily jika saat ini mommy tercintanya tidak bisa bangun dari tempat tidur karena adegan panas pagi tadi.
"Hmm." Gadis kecil itu hanya bergumam. Emily langsung turun dari kursi makan.
"Em, mau ke mana?" Zack terkejut melihat putri kecilnya turun dari kursi. Padahal piringnya masih penuh dengan makanan.
"Em mau ke atas. Suruh mommy turun. Anak gadis tidak boleh bangun siang-siang." Nada bicara Emily terdengar seperti seorang ibu yang memarahi anaknya.
"Kata siapa Em?" Zack tidak percaya mendengar ucapan balita perempuan berusia tiga tahun lebih.
__ADS_1
"Kata mommy lah! Masa kata Em." Emily menjawab sambil lalu. Kaki kecilnya mulai melangkah meninggalkan ruang makan.
"Kapan mommy bilang seperti itu?" Zack bertanya hanya untuk mencari alasan. Dia berusaha menghentikan langkah kecil Emily.
"Ih, Daddy banyak tanya. Udah ah, Em mau bangunin mommy!" seru Emily.
"Tunggu Em! Mommy harus lebih banyak istirahat. Biar Em bisa punya adik bayi." Zack terpaksa melanggar janjinya agar Emily berhenti menuju ke kamar.
"Ouch." Zack menoleh ke samping. Menatap tidak percaya dengan yang dilihatnya. Lily sudah berdiri di sampingnya.
"Sayang bukannya tadi ..." Zack menatap Lily bingung.
"Mommy!" Emily berseru sambil berlari ke arah mommy nya. Lily segera meraih tubuh mungil Em.
"Tentu saja mommy sudah bangun. Tapi, Daddy yang meminta mommy tidak turun sarapan pagi bersama Em." Lily sengaja membalas Zack dengan membawa serta Emily masuk di antara mereka.
"Daddy!"
"Gawat! Bisa-bisa aku tidak dapat jatah lagi." Zack bergumam sambil menggaruk leher bagian belakanganya yang tidak gatal.
"Kamu bilang apa sayang?"
"Ah, tidak. Tidak ada." Zack memilih berkilah daripada melawan dua orang wanita berbeda generasi itu. Dia tahu Lily pasti sengaja memancing emosinya agar meladeninya yang berakhir dengan Emily yang memihak pada Lily. Jika itu terjadi, Zack yang merasa sangat rugi terutama juniornya.
"Em mau disuapi mommy."
__ADS_1
"Ok. Ayo kita duduk!"
Seorang maid menarik kursi untuknya. Lily segera duduk dengan Emily yang berada di pangkuannya. Suasana sarapan pagi kali ini masih sama dengan sebelumnya. Tenang tanpa celotehan para tokoh utama mansion.
Di detik terakhir sarapan, tiba-tiba Lily menyerahkan Emily pada Zack. Dia segera menghambur menuju kamar mandi yang berada di dekat dapur. Zack dan Emily bingung melihat tingkah Lily. Kecuali Nana yang langsung mengikuti nyonya mudanya dari belakang.
Nana sangat khawatir melihat Lily yang dari tadi terlihat sedikit tersisa saat makan. Kekhawatiran Nana terjadi saat Lily segera menghambur ke kamar mandi.
"Em, mau ke mana?" Emily berusaha turun dari pangkuan Zack. Tubuh mungilnya bergerak ke kanan dan ke kiri.
"Em mau melihat mommy." Jawab Emily tanpa melihat Zack.
Zack menahan tubuh Emily agar tidak turun dari pangkuannya. Meskipun dia penasaran dengan yang terjadi pada Lily. Tapi, Zack tidak ingin berasumsi. Lily dengan sengaja memberi Emily kepadanya. Pasti dia ingin Zack dan Emily tetap berada di kursi. Lagipula sudah ada Nana yang menemani.
"Lepas Daddy! Em mau turun." Emily membuka jari tangan Zack satu persatu agar terlepas.
"No. Kita tunggu saja di sini. Bukannya sudah ada Nana. Em cepat selesaikan sarapan paginya, ok!" Zack mendekatkan piring makan Emily.
Emily mau tidak mau menuruti perintah Daddy nya. Dia juga tidak suka menyisakan makanan. Saat Zack ingin menyuapi, Emily menahan tangannya.
"Em saja Daddy. Em kan sudah besar. Malu kalau disuapi." Emily meraih sendok dari tangan Zack. Dia memasukkan sendiri makanan ke dalam mulutnya.
Zack terperangah mendengar jawaban Emily. Dia tidak habis pikir putrinya berbicara seperti itu. Sangat jelas beberapa menit yang lalu, Emily minta disuapi oleh Lily.
"Wanita memang sulit dimengerti." Zack berkata pelan sambil tersenyum.
__ADS_1