Truly Madly Love

Truly Madly Love
Bab 58. Kota Hujan


__ADS_3

Sudah dua hari Lily dan Naya tinggal di kota hujan. Rumah yang diberikan oleh Rafa sangat besar dan bagus. Selain itu, hubungan Naya dan Keith semakin membaik. Mereka sudah saling mengungkapkan isi hati mereka.


Mengapa secepat itu? Karena Keith adalah incaran Naya dari masa sekolah SMA dulu. Begitu juga sebaliknya. Karena umur mereka yang terbilang sangat muda, mereka sama-sama tidak berani mengungkapkan perasaan mereka. Hingga suatu waktu, Keith harus kembali ke negara ibunya saat ayahnya meninggal karena kecelakaan.


Keith yang masih remaja saat itu harus dipaksa mempelajari tentang bisnis keluarga. Keith adalah putra satu-satunya. Dia adalah keturunan langsung keluarga Philips. Sehingga semua itu harus dibebankan padanya.


Takdir diantara Naya dan Keith sangat unik. Mereka kembali dipertemukan oleh calon bayi mereka. Keith murni berniat menolong Naya saat itu dari lelaki yang memberinya obat perangsang. Alhasil, justru dia yang menjadi pria itu.


Keith bukan sengaja meninggalkan Naya setelah merenggut kesuciannya. Asistennya menghubunginya pagi itu, memberitahunya bahwa nyonya tua meninggal, ibu dari neneknya. Seluruh keluarga ibunya sedang dalam perjalanan untuk menghadiri pemakaman. Jadi dia juga harus bergegas menyusul.


Karena pergi tergesa-gesa, Keith sampai lupa meninggalkan pesan untuk Naya. Setelah pemakaman nyonya tua selesai, Keith segera mencari tahu keberadaan Naya. Dia ingin mempertanggung jawabkan perbuatannya pada Naya. Selain itu, Naya adalah kekasih hati pertama di dalam hidupnya.


Lily dan Naya sedang asyik melihat katalog gaun pengantin yang baru saja di kirimkan oleh asisten Keith. Naya dan Keith berencana melangsungkan pernikahan mereka setelah baby I lahir.


Bayi yang di kandung oleh Naya berjenis kelamin laki-laki. Tentu saja seluruh keluarga besar Philips dan Lee sangat menyambut cucu dan cicit pertama mereka.


Naya sangat beruntung sekali mengandung seorang penerus keluarga Philips. Lily justru di buat takjub oleh Keith. Pria itu tidak mempermasalahkan jika bayi mereka laki-laki atau perempuan. Yang paling utama baginya adalah kesehatan dan keselamatan Naya dan bayinya kelak saat proses melahirkan.


Hampir semua model gaun pengantin diinginkan oleh Naya. Lily sampai dibuat bingung oleh tingkah sahabatnya itu. Baru buka di halaman pertama katalog, Naya sudah sangat menyukai foto gaun pengantin yang memiliki lengan sabrina.


Berpindah ke halaman berikutnya, dia juga sangat menyukai model gaun pengantin klasik yang terlihat sangat elegan. Begitu seterusnya. Akhirnya, Lily yang menjadi korban. Lily yang harus memilih gaun pengantin untuknya. Masih bagus jika Naya langsung menyetujui pilihan Lily.


Lily sudah beberapa kali memilihkan gaun pengantin untuk Naya, dan semua di tolak mentah-mentah olehnya. Kepalanya sampai berdenyut memikirkan tingkah Naya.


"Sabar, sabar, orang sabar disayang Tuhan," ucap Lily pelan sambil mengelus dadanya.


Padahal gaun-gaun yang dipilihkan Lily adalah gaun-gaun yang disukai oleh Naya. Lily sampai tidak habis pikir dengan kelakuan bumil satu ini. Dia sampai berpikir jangan sampai nanti kelak dia hamil akan seperti Naya.


"Itu kening kenapa di tekuk, Ly?" tanya Naya.


"Masa? Engga deh keknya," jawab Lily asal.


Dia benar-benar sudah lelah dari tadi memilih gaun pengantin Naya. Masih untung ini hanya foto. Lily tidak bisa membayangkan jika saat ini mereka berada di studio bridal.


"Lu capek ya?" tanya Naya.


"Engga kok. Kan cuma milih-milih dari katalog doang," ucap Lily.


"Nah kan bener," tutur Naya.


"Apa nya yang bener, Nay?" tanya Lily bingung.

__ADS_1


"Ini kan cuma foto-foto doang. Keknya lebih bagus kalo ke studio nya langsung aja. Jadi kan gue bisa sekalian fitting gaunnya," ucap Naya sambil memperagakan dengan kedua tangannya.


"Hah!" seru Lily.


Dia langsung berpura-pura pingsan. Baru saja dia memikirkan tidak ke studio. Sekarang Naya justru mengajaknya ke studio.


Lily segera bangkit dari pingsan pura-pura nya. Dia segera beranjak pergi meninggalkan Naya dan berteriak "Gue nyerah, Nay! Lu tanya langsung ke ahlinya aja."


Belum sempat Naya menjawab perkataan Lily, gadis itu sudah menghilang di balik pintu.


"Ah ... Lily!" teriak Naya.


Naya berteriak sambil melempar bantal sofa.


Bug


Bantal sofa mendarat sempurna ke wajah Rafa. Rafa yang baru saja masuk ke dalam justru terkejut mendapat bantal terbang dari Naya.


"Eee ... buset dah! Salah gue apa Nay?" seru Rafa.


"Eh ... sorry Fa! Gue itu tadi mau ngelempar Lily. Mana gue tau kalo lu masuk. Ya rezeki elu dong, Fa," ucap Naya sambil terkekeh.


"Huuu ... untung aja lu tuh lagi hamil," tutur Rafa sambil menghempaskan tubuhnya ke sofa.


"Ya gue lempar lah balik ke kandang," jawab Rafa asal.


Bug ... bug ...


Naya memukuli Rafa dengan kedua tangannya bergantian.


"Eh bumil, inget lagi hamil. Entar anak lu jadi preman loh kalo suka mukulin gue!" seru Rafa sambil menangkis serangan Naya.


"ih ... Rafa! Amit-amit deh!" seru Naya sambil mengusap perutnya.


"Makanya berhenti dong!" seru Rafa.


Akhirnya perseteruan mereka selesai. Mereka duduk berdampingan di sofa. Rafa melihat katalog gaun pengantin yang tergeletak di sampingnya.


"Cie ... yang udah dilamar sama anak orang lagi pilih-pilih gaun pengantin," goda Rafa.


"ish, apaan sih Fa!" seru Naya tersipu malu.

__ADS_1


"Jadi rahasia yang dulu elu ngga mau bilang ke gue tuh ini!" seru Rafa sambil menunjuk ke hatinya.


"ih ... udah deh, Fa. Jangan godain gue Mulu deh!" gerutu Naya.


"Kapan lagi kan godain bumil plus calon bini orang," goda Rafa lagi.


Naya tak habis pikir dengan tingkah sahabat laki-lakinya itu. Badannya saja yang besar. Tapi tingkahnya masih seperti anak-anak. Apalagi jika sudah mulai menggoda dia dan Lily. Dia pasti mengerahkan seluruh kemampuan jahilnya yang luar biasa bikin jengkel.


Naya jadi teringat saat dulu mereka masih duduk di bangku SMA. Waktu itu Rafa sengaja menggoda Lily yang baru saja berpacaran dengan Zack. Lily sampai menangis dibuatnya. Lily sempat tidak mau berbicara dengan Rafa hampir setengah hari.


Naya tersenyum saat mengingat kejadian itu. Yang satu super-duper jahil. Yang satu lola nya bukan main. Mana ada orang merajuk hanya sampai setengah hari.


"Daripada ngurusin gue, mending urus-urusan lu dulu deh!" ucap Naya. Dia sudah dalam mode siap menyerang balik Rafa.


"Urusan yang mana? Perasaan urusan gue nggak seribet urusan kalian berdua deh!" ucap Rafa.


"ih ... gaya lu ngga ada urusan!" seru Naya.


"Lah ... emang ngga ada!" balas Rafa santai.


Rafa mengeluarkan ponselnya dan mulai memainkan game online.


"Eh kue semprong! Kalo orang ngomong tuh di dengerin!" teriak Naya.


"Maksud lu apa sih Nay?" tanya Rafa sambil melambatkan setiap kata yang diucapkannya.


"Ngga pakek slow motion gitu kali!" ledek Naya.


"Iya deh, iya. Jadi apa yang harus gue dengerin?" tanya Rafa.


"Tuh hati!" ucap Naya sambil menunjuk ke arah hati Rafa.


Rafa memperhatikan jari telunjuk Naya yang mengarah ke hati menurut Naya. Dia kemudian mensejajarkan tubuhnya dengan jari telunjuk Naya.


"Nah, itu lambung bukan hati," ucap Rafa.


"ih ... Rafa! Serius dikit kenapa sih!" teriak Naya.


"Iya deh, iya."


"Pokonya gue ngga mau tau ya! Sebelum baby I lahir, lu udah harus ungkapin perasaan lu ke Lily, titik ngga pakek koma!" perintah Naya.

__ADS_1


Deg


Lily terkejut mendengar ucapan Naya dari balik pintu. Tubuhnya mematung dan terasa kaku.


__ADS_2