
Zack dan James masih berada di ruang tengah. Percakapan sengit antara mereka masih saja belum selesai.
"Bagaimana jika aku tidak mau?" tanya Zack.
"Aku akan mengambil putri kesayanganmu dengan atau tanpa izin darimu!" perintah James sangat jelas dan berhasil membuat Zack murka.
Zack berusaha menstabilkan emosinya. Percuma saja jika dia mengamuk. Pria tua itu akan semakin senang. Jika dia mengamuk sekarang itu artinya ancamannya berhasil.
"Coba saja jika kau bisa. Aku yakin seratus persen kau juga tidak tahu rupanya seperti apa."
Zack balik menantang James. Kedua pria berbeda generasi ini sangat keras kepala. Tantangan yang diutarakannya terlihat sedikit berhasil. Terlihat dari James yang sedikit ragu.
Zack benar, dia sama sekali tidak mengenal putri Zack, cucu perempuan satu-satunya. Yang dia tahu namanya hanya Emily, dan umurnya hampir tiga tahun. Selebihnya dia tidak tahu sama sekali.
Ketika Amber datang mengunjunginya beberapa hari yang lalu, dia sama sekali tidak pernah memperlihatkan wajah putrinya. James mulai menaruh curiga pada Amber. Meskipun dia berhati dingin, tapi dia tahu setiap ibu pasti menyayangi anaknya.
Lain halnya dengan Amber. Dia sangat sibuk memikirkan hubungannya dengan Zack. Dia sama sekali tidak pernah membahas tentang putrinya. Itupun ketika James menanyakan kabar cucu perempuannya, dia hanya menjawab sekedarnya saja.
"Aku pasti akan menemukannya!" tukas James. Dia segera berlalu meninggalkan mansion Zack.
Untuk saat ini, dia bisa merasa lega karena pria tua itu telah pergi dari mansion nya. Tapi ada hal lain yang mulai membuatnya khawatir, Emily. Dia tetap harus menyembunyikan Emily sampai Amber melahirkan seorang anak lagi. Anak laki-laki untuk penerus Alexander.
Zack tersenyum kaku saat mengingat dia harus membuat Amber hamil lagi. "Jangan harap," gerutu Zack. Dia melangkahkan kakinya menuju kamar Emily. Tepatnya ke ruang bawah tanah melalui kamar Emily.
Zack membuka pintu kamar palsu Emily di ruang bawah tanah. Dia mengembangkan kedua tangannya karena gadis kecil itu segera berlari ke arahnya.
"Em rindu daddy," keluhnya sambil menciumi wajah Zack.
"Dad, juga rindu Em," giliran Zack yang menghujani wajah mungil putrinya.
"Dad cepat sekali menemukan Em. Em kan belum sempat sembunyi," keluh Emily. Dia juga melipatkan kedua tangan di depan dadanya.
"Itu karena Dad sangat merindukan Em," goda Zack.
Emily tertawa mendengar ucapan Daddy nya.
"Em, Daddy akan mengajakmu pergi jalan-jalan. Tapi kali ini agak jauh," tanya Zack.
"Jalan-jalan Daddy?" tanyanya tak percaya
"Ya, jalan-jalan. Mungkin Em akan bertemu dengan aunty cantik disana," tambah Zack.
Kedua mata Emily langsung berbinar saat Zack mengatakan bahwa dia bisa bertemu dengan aunty cantiknya lagi.
"Em mau, Em mau ... Dad," sorak nya.
"Ok. Dad ingin Emily bersiap-siap dengan Nana sekarang," Zack berkata sambil menurunkan Emily dari gendongannya.
"Siap Daddy," ucapnya sambil meletakkan tangan kanannya ke atas kening. Dia ingin memperagakan tanda hormat pada seorang atasan.
"Ayo, Nana! kita siap-siap. Em ingin ketemu dengan aunty cantik. Nanti kita terlambat," oceh Emily.
"Nana, persiapkan keperluan Emily dan dirimu untuk satu bulan ke depan!" perintah Zack.
"Baik tuan."
Dia ingin menanyakan kemana mereka akan pergi dan kenapa lama sekali, tetapi tidak berani. Dia tahu, tuannya itu lagi-lagi mengalami situasi yang membuat hatinya buruk. Jika sudah berhubungan dengan nyonya Amber pasti tidak akan pernah ada yang mulus.
Tepat kepergian ayahnya, Zack menerima telpon dari Leon.
Flash back on
__ADS_1
Jika saja saat ini dia berada di ruang kerjanya. Dia pasti sudah melampiaskan seluruh emosinya. Hal yang pasti dia lakukan adalah menghancurkan semua barang yang ada di atas meja kerjanya. Lemari juga tidak akan luput dari tinjunya. Sangat disayangkan saat ini dia masih berada di ruang tamu mansion nya.
Drt ... drt ...
Ponsel di saku jas nya bergetar. Hari ini sudah berapa kali ponselnya bergetar, dan dia sedikit kesal. Awalnya dia ingin mengabaikan panggilan itu. Namun akhirnya dia menyerah. Ponsel itu tidak akan berhenti sebelum dia menjawabnya. Sama halnya dengan tadi sore.
Akhirnya dia memutuskan mengambil ponselnya dan menatap ke layar.
Leon.
Untung saja kau yang menghubungiku. Jika orang lain aku pastikan tidak akan pernah menjawabnya.
"Halo tuan," sapa Leon di seberang sana.
"Ada apa kau menghubungiku?" tanya Zack tanpa basa-basi.
"Tuan, aku sudah mendapat info tentang keberadaan nona Lily," perkataan Leon yang tegas membuat Zack langsung percaya padanya.
"Katakan!" perintahnya.
"Nona Lily saat ini berada di kota Pontianak bersama tuan Rafa dan nona Naya. Mereka menginap di hotel H untuk lima hari ke depan," jelas Leon.
"Siapkan penerbangan untukku malam ini! Dan sertakan Emily dan Nana dalam penerbangan," perintah Zack.
Kekesalan hatinya terbayar dengan informasi yang baru saja di terimanya dari Leon.
"Ingatkan aku untuk menaikkan gaji mu sepuluh persen bulan depan."
"Terima ka----sih tuan."
Lagi-lagi tuannya memutuskan sambungan telponnya secara sepihak tanpa mau mendengarnya menyelesaikan kalimatnya.
Setidaknya Leon merasa sangat lega. Kejadian tadi pagi sangat jelas membuatnya kehilangan pekerjaan. Secara tidak sengaja dia menertawakan tuannya dan membuatnya malu. Leon sampai memohon pada Bram untuk memberinya informasi untuk menyelamatkan hidupnya. Bram merasa iba padanya. Setidaknya Bram memberikan angin segar padanya.
Perkataan Bram masih terngiang di kepala Leon. Dia sangat bersyukur Bram mau membantunya.
Zack yang merasa senang segera melangkahkan kakinya ke kamar Emily. Tepatnya kamar palsu putrinya. Dia ingin membawa serta Emily. Dia tidak ingin meninggalkan Emily sendiri disini. Meskipun sudah ada ibu dan beberapa pengawal kepercayaannya. Tapi tetap saja dia sangat mengkhawatirkan Emily.
Flash back off
Mereka bertiga telah tiba di bandara. Leon tidak mengantar kepergian tuannya kali ini. Zack memberinya perintah untuk tetap di tempatnya agar orang suruhan ayahnya tidak curiga. Leon sudah mempersiapkan semuanya.
Pesawat yang mereka tumpangi kini telah take off. Satu jam tiga puluh menit waktu tempuh perjalanan mereka kali ini. Emily kecil tertidur pulas di pangkuannya.
* * *
Hotel H
"Fa, Rafa," panggil Lily sambil mengibaskan tangannya di depan wajah Rafa.
"Apaan sih, Ly?" tanya Rafa cuek. Permainan game onlinenya berakhir saat Lily mengganggunya. Rafa merasa sangat risih di panggil Lily berkali-kali.
Berhasil dengan tujuannya, Lily segera pergi sebelum di jitak Rafa dan berteriak "Ngga jadi."
Ingin rasanya Rafa mengejarnya, tapi diurungkan. Mereka bukan bocah sekolah menengah atas lagi yang senang bermain kejar-kejaran. Daripada meladeni Lily, dia beranjak dari sofa lobi hotel menuju kamar Naya.
Lily yang sudah berhasil kabur dari Rafa memutuskan untuk berkeliling hotel. Ini adalah hari kedua dia berada di hotel. Kelakuannya sudah seperti anak kecil yang senang bermain lift. Hingga dia menemukan roof top.
Untuk menuju roof top dia harus menaiki beberapa anak tangga. Begitu sampai, dia disuguhkan dengan pemandangan yang sangat indah, pemandangan kota Pontianak dari atap hotel. Di roof top juga terdapat sebuah kolam berenang. Ada beberapa orang yang mulai berenang disana. Dia sama sekali sedang tidak tertarik untuk berenang.
Lily melihat ada anak tangga lagi. Dia segera menuju kesana dan menaiki anak tangga itu satu persatu. Pemandangan disana tidak kalah indahnya. Lily dapat menilai kemungkinan tempat ini adalah cafe dan biasa digunakan untuk dinner yang romantis.
__ADS_1
Puas bermain diatas, Lily pun segera turun ke bawah. Ketika dia berjalan turun, dia melihat dua sosok yang dikenalnya. Lily segera mendekati mereka dan menyapa.
"Emily!" seru nya.
Emily kecil yang sedang berenang menggunakan pelampung langsung menoleh ke arah suara yang memanggilnya.
"Aunty cantik," teriaknya penuh bahagia. Dia meminta Nana untuk menggendongnya ke pinggir kolam renang.
"Sayang juga ada disini?" tanya Lily.
"Iya aunty. Aunty peluk, peluk!" perintah nya minta di peluk. Namun ditahan oleh Nana karena tubuhnya basah. Nana tidak ingin membuat pakaian nona Lily basah.
"Nanti ya sayang. Tubuh Em masih basah," bujuk Nana.
"Tidak apa-apa, Nana. Sini sama aunty. Aunty akan mengeringkan tubuhmu," ucap Lily dengan tulus sambil melebarkan kedua tangannya bersiap meraih Emily.
Emily terlihat sangat senang bertemu Lily. Sampai-sampai Nana merasa nona Lily sangat cocok menjadi mommy nya. Nona Lily terlihat tulus. Emily juga sangat sayang padanya.
Lily mengeringkan tubuh Emily sambil bersenda gurau. Setelah kering, dia segera melilitkan handuk ke tubuhnya agar tidak kedinginan dan mengganti pakaiannya.
"Em sudah sarapan?" tanya Lily.
"Sudah aunty sama Daddy," jawabnya polos.
"Mommy Em tidak ikut sarapan?" tanya Lily lagi. Bukannya dia kepo, tapi sudah dua kali dia bertemu dengan Emily selalu bersama Nana.
"Mommy masih terbang. Em tidak tahu kapan mommy pulang," jawab Emily biasa saja.
"Memangnya Em tidak rindu dengan mommy?" tanya Lily semakin penasaran.
"No ... no!" jawabnya lagi dengan menggerakkan jari telunjuknya ke kiri dan ke kanan.
Tingkahnya yang lucu membuat Lily tidak tahan untuk mencubit geram kedua pipinya dan menghujaninya banyak ciuman.
"Em lebih rindu pada aunty, Daddy, dan Nana," tambahnya lagi.
Lily memeluknya sangat erat. Dia merasa senang ada yang merindukannya meskipun seorang gadis kecil. Dia lebih percaya rasa rindu dari seorang gadis kecil daripada orang dewasa. Tanpa di sengaja, dia mengingat kembali seorang pria yang selalu mengatakan rindu padanya tapi tidak pernah kunjung datang.
"Emily Quin Alexander," suara seorang pria membuyarkan lamunannya.
Lily segera menoleh ke sumber suara. Dia mengenal suara itu dengan baik. Hal yang tidak diduganya. Dia bisa mengontrol emosinya. Dia menatap pria itu dengan biasa saja.
"Namanya Emily Quin Alexander," Zack berkata sekali lagi. Dia berniat memberitahu Lily bahwa gadis kecil yang berada di pangkuannya adalah putrinya.
Alexander. Lily tersadar dengan nama belakang Emily. Sedikit terkejut tapi tidak berlebihan, Lily akhirnya tahu ayah dari gadis kecil yang dipangkunya.
"Daddy," teriak Emily. Dia juga menggapai Zack dengan kedua tangannya tanda minta di gendong.
Zack mendekati mereka dan mengambil alih Emily dari pangkuan Lily.
"Daddy, ini aunty cantik Em," Emily memperkenalkan Lily pada Zack. Sungguh gadis kecil yang polos. Dia tidak tahu saja jika kedua orang yang ada di hadapannya sedang perang dingin.
Lily segera bangkit dari duduknya. Dia berlalu pergi dari hadapan mereka. Dia teringat saat Zack menekannya dengan mengucapkan "Jangan ganggu istriku lagi". Dia tidak ingin mengulang kejadian yang sama untuk ketiga kalinya.
Waktu itu istrinya, sekarang anaknya. Lily bermonolog di dalam hatinya.
Emily yang bingung melihat tingkah Lily merasa sedih. Aunty nya pergi darinya tanpa menoleh padanya.
Huwaa ...
Emily menangis sejadi-jadinya. Tangisannya membuat semua orang yang ada di sana menatapnya kasihan.
__ADS_1
~Hai my lovely readers. Aku ada novel yang recommended banget loh. Yuks mampir!