
Di sisi lain
Zack sudah mengantar Emily dan Nana kembali ke mansion. Setelah Emily dan Nana turun dari mobil dan dibantu oleh seorang maid membawa koper mereka, Zack bertukar kemudi dengan Leon.
Dia memilih duduk di kursi penumpang. Dia menyuruh Leon segera melajukan mobil mereka ke perusahaan Rafa. Karena sesungguhnya dia tidak percaya jika Rafa tidak ada di kantor. Bisa jadi itu hanya akal-akalan mereka saja.
Zack menopang dagunya dengan tangan kirinya. Dia mengingat bagaimana Rafa sangat menjaga dan melindungi Lily. Bahkan dia tidak keberatan tetap memberi Lily gaji meskipun tidak bekerja. Sudah seperti suami yang menafkahi istrinya saja.
Zack terduduk tegap ketika menyadari kalimatnya sendiri. Gerakan spontan itu sempat ditangkap oleh Indra penglihatan Leon melalui kaca depan. Dia ingin bertanya, tapi takut menambah porsi marah tuannya. Diam adalah pilihan terbaik ditambah dengan bumbu kepo di hatinya.
"Si**! Mengapa aku baru menyadarinya sekarang," umpat Zack. Dia mengusap kasar wajahnya dengan kedua tangannya. Dia merasa sangat bodoh baru menyadari sesuatu yang lain dari Rafa.
Dia memang sudah lama mengenal Rafa. Sejak awal kencan dia dan Lily. Zack tidak terlalu memperhatikan perlakuan Rafa pada Lily saat itu. Dia hanya berpikir karena mereka sahabat, jadi wajar Rafa memberi perhatian lebih pada Lily.
Tapi sekarang terasa sangat berbeda. Perlakuan Rafa pada Lily terlihat lebih intens. Apalagi dia sudah memiliki perusahaan sendiri. Saat ini Zack ingin segera tiba di perusahaan Rafa. Dia ingin segera menanyai Rafa tentang sesuatu. Dia berharap semua yang dipikirkannya salah. Tapi jika itu benar, dia hanya bisa menggeram saat ini. Tangan kirinya terkepal erat sampai memutih.
Bagaimanapun posisi Rafa saat ini sangat kuat. Dia tidak pernah menyakiti Lily justru menjaga dan melindunginya dengan sangat baik.
Beda hal nya dengan dia saat ini. Dia adalah seorang mantan yang sangat menyakiti Lily. Banyak sekali kekalahan yang diterimanya jika dia harus berduel dengan Rafa untuk mendapatkan Lily kembali. Jika saja harus berduel dengan kekuatan, kemungkinan terbesarnya dia pasti menang.
Setengah jam kemudian mereka tiba di halaman parkir perusahaan Rafa. Zack keluar dari mobil sebelum Leon dalam keadaan mobil yang belum berhenti dengan sempurna.
Zack melangkahkan kakinya dengan lebar. Dia memasuki bagian depan kantor dan berhenti tepat di bagian resepsionis kantor.
"Aku ingin bertemu dengan tuan Rafa!" perintahnya pada seorang wanita yang merupakan seorang resepsionis.
"Maaf, apa bapak sudah ada janji sebelumnya?" tanya wanita itu sopan.
"Aku adalah rekan bisnisnya. Zack Alexander."
Zack mengatakannya dengan nada yang sedikit keras. Die melepaskan kacamatanya sambil menatap tajam pada wanita itu.
Siapapun jika ditatap oleh seorang pria tampan pasti akan jungkir balik hatinya. Apalagi seorang wanita jomblo. Bukannya memberi Zack jawaban. Wanita itu justru asyik menatapnya sambil menopang wajahnya dengan tangan kanannya.
"Ehem," Zack sampai berdehem agar wanita itu segera sadar dari lamunannya.
"Ehem," Zack berdehem untuk yang kedua kalinya. Tapi orang gang dimaksud malah semakin terpana mendengar suara maskulinnya.
"Ehem... ehem ... uhuk... uhuk."
Karena berdehem terlalu kuat, akhirnya membuat Zack terbatuk-batuk. Wanita itu tersadar karena kasihan melihat pria tampan di depannya seperti itu.
"Sebentar, mas."
Batuknya semakin menjadi saat mendengar ucapan wanita itu yang saat ini entah pergi kemana.
"S**l! Kenapa jadi seperti ini," umpat Zack.
"Ini mas, silakan di minum air putihnya," ucap wanita itu sambil menyerahkan segelas air putih kepada Zack.
Zack segera mengambilnya karena ingin segera meredakan batuknya. Segelas air itu segera habis dalam tiga kali tegukan.
Wanita itu justru semakin terpana saat melihat Zack yang sedang minum. Entah apa yang ada didalam pikirannya. Sebenarnya dia sangat ingin membentak wanita itu karena dialah penyebab dari batuknya. Tapi diurungkan olehnya. Dia masih membutuhkan wanita itu agar bisa menemui Rafa.
__ADS_1
"Jadi dimana aku bisa menemui tuan Rafa?" tanya Zack.
"Oh, tuan Rafa sedang tidak berada di kantor. Kurang lebih hampir satu Minggu," jelas wanita itu.
"Kapan dia akan kembali?"
"Maaf mas, untuk itu aku tidak tahu pastinya. Apalagi tuan Rafa adalah CEO nya."
Zack mendengus kesal mendengar penjelasan wanita itu.
"Siapa namamu?" tanya Zack.
"Namaku Sandra, mas. Oh iya 0852*******8," jawab Sandra sambil menyalami Zack.
"Itu nomor apa?" tanya Zack yang sebenarnya bingung kenapa wanita itu menyebutkan nomor ponsel.
"Itu nomor togel, mas."
"Apa? Tidak terima kasih," ucap Zack yang kemudian segera membalikkan tubuhnya. Dia ingin segera pergi dari perusahaan gila ini.
"Eh bukan, mas. Itu nomor ponselku!" seru Sandra.
Mendengar jika nomor tadi adalah nomor ponselnya, Zack semakin cepat melangkahkan kakinya.
"Bagaimana bisa mereka memperkerjakan orang seperti itu," kesal Zack.
Sandra tersenyum senang melihat Zack yang pergi dengan kesal. Misi yang diberikan oleh Rafa berhasil dilaksanakannya dengan nilai seratus.
"Gitu dong. Sekali-kali kali dimintai bantuan itu lakukan dengan ikhlas," ucap Rafa dari belakang pintu.
"Apanya?" Rafa balik bertanya.
"Ish, Kak. Mana komisi ku!" teriak Sandra.
"Eh, kan tadi katanya lu ikhlas?"
"Ngga ada ya kakak sepupu ku tercinta. Aku ngga ada ngomong kek gitu," oceh Sandra.
"Ngga bisa diajak becanda lu," tutur Rafa sambil mengeluarkan ponselnya.
Ting
Ponsel Sandra berbunyi menandakan ada notifikasi yang masuk. Dia segera membuka motif itu. Senyuman bak lengkungan pelangi menghiasi wajahnya yang cantik.
"Maacih kakak sepupuku tercintah ..." goda Sandra dengan nada yang dibuat imut.
"Iye, jangan di jajanin semuanya loh!" pesan Rafa.
"Ya pastilah. Pasti di jajanin semua," ucap Sandra.
Pletak
"ish kak, sakit tau!" ringis Sandra.
__ADS_1
"Eh kak, tuh bule cakep banget loh! Kenapa sih mau dipisahin sama kak Lily?" tanya Sandra.
Jiwa keponya mulai take off. Sebanrnya dia bingung dan ingin bertanya pada kakak sepupunya itu dari kemarin saat kakaknya itu meminta bantuan darinya.
"Ini urusan orang gede. Anak umur dua puluhan ngga boleh tau."
"i, mana ada kek gitu. Yang bener tuh anak di bawah umur," jelas Sandra.
"Udah, pulang sono. Ntar dicariin sama mami papi. Maklum anak kecil ngga boleh maen terlalu sore. Ubun-ubunnya masih lembut," ucap Rafa.
"ish kak Rafa. Betewe makasih ya kak! Sering-sering aja," ucap Sandra sambil berjalan ke pintu keluar. Dia melambaikan tangannya pada Rafa tanda perpisahan.
"Dasar bocah, bocah."
Tring ... Tring ...
Rafa segera menjawab panggilan dari ponselnya pada dering kedua. Dia tersenyum melihat nama yang tertera si layar ponselnya.
"Aku ingin kita bertemu malam ini!" ucap Zack.
"Aku tunggu!" jawab Rafa tak kalah tajamnya.
Leon yang dari tadi menunggu tuannya di dalam mobil terkejut mendengar pintu mobil yang dibanting.
"Kembali ke mansion!" perintah Zack.
"Alamat, alamat," ucap Leon dalam hati.
Zack mengeluarkan ponselnya. Tadinya dia ingin datang tiba-tiba ke perusahaan Rafa agar pria itu tidak bisa menghindar saat bertemu dengannya. Dia sengaja datang tanpa memberitahunya terlebih dahulu. Dia memilih nama Rafa di daftar kontaknya dan segera menghubunginya. Dia sangat butuh penjelasan dari pria itu.
* * *
Apartemen Lily dan Naya
"Ah, bergerak!" seru Lily.
Dia menatap perut Naya yang saat ini di tendang oleh baby nya.
"Seperti apa sih Nay rasanya?" tanya Lily.
"Kasi tau ngga ya?" goda Naya.
"ish, Naya!" rajuk Lily.
"Makanya hamil," ucap Naya sambil berjalan meninggalkan Lily. Ponsel di tangannya berbunyi dan sebuah nama tertera di ponsel itu. Naya segera menjauh dari Lily. Dia masih belum sempat untuk mengatakan yang sebenarnya tentang ayah dari bayi nya.
"Eh, kok pergi? Emang siapa sih yang nelpon?" tanya Lily.
Naya hanya meletakkan jari telunjuk kanannya ke bibir. Isyarat agar Lily diam.
Merasa di suruh diam, Lily hanya bisa memanyunkan bibirnya. Dia jadi teringat akan menelpon Liora. Dia ingin melaporkan kejadian semalam pada Liora. Lily segera berjalan menuju kamarnya, mengambil ponselnya yang berada diatas nakas dan memilih kontak yang ingin dihubunginya.
Hai my lovely readers! Aku ada novel yang recommended banget loh! Yukss mampir!
__ADS_1